Finding Love

Finding Love
Semoga Dimudahkan Semuanya


__ADS_3

Minggu demi minggu terus berlalu, bulan demi bulan telah berjalan. Kini genap empat bulan Zaki berada di yayasan pendidikan, yang didirikan oleh ayahnya mommy Billa puluhan tahun silam.


Selama itu pula, putra sulung ayah Yusuf tersebut merasa sangat betah berada di sana. Selain udaranya yang sejuk, pemandangan alam yang indah serta teman yang sangat menyenangkan. Siapa lagi kalau bukan ustadzah Hana dan sahabatnya, yaitu pasangan suami istri kocak, Adnan dan Sarah yang sering menggoda Zaki dan Hana.


Meski saat ini Zaki telah mulai yakin dengan perasaannya, tetapi pemuda tampan itu masih menunggu waktu yang tepat untuk menggali informasi lebih jauh dari Adnan mengenai keluarga Hana.


Zaki pun mencoba untuk tetap bersikap biasa saja pada ustadzah muda yang berwajah ayu sahabat dari Adnan tersebut, karena cucu pertama keluarga Alamsyah itu tak mau gadis yang mulai mengisi mimpinya di malam-malam yang dingin mengetahui isi hatinya.


Sedangkan Hana pun bersikap demikian, sebisa mungkin gadis itu menutupi perasaan sayang pada pemuda yang telah menyelinap masuk kedalam hatinya tersebut. Hana pun tak mau, Zaki mengetahui kedalaman hatinya.


Gadis ayu itu merasa masih trauma dengan kejadian beberapa waktu yang lalu, yang mematahkan hubungannya dengan sang kekasih. Hingga membuat Hana, kini lebih berhati-hati dalam memilih calon imam untuk dia dan anak-anak kelak.


Toh kedua orang tuanya juga sangat pengertian, dan tidak menuntut Hana untuk segera menikah meski usia Hana sudah sangat pantas untuk membina mahligai rumah tangga.


Namun berbeda dengan Adnan dan juga kakek Burhan yang terus saja menjodoh-jodohkan keduanya, hingga terkadang membuat Hana menjadi salah tingkah di hadapan Zaki.


Sedangkan Zaki, putra sulung ayah Yusuf itu justru sangat menikmati pemandangan indah di hadapannya kala Hana tersipu malu. Pipi putih Hana yang merona bak buah tomat yang siap di petik, membuat pemuda itu menjadi gemas sendiri dan ingin rasanya mencubit pipi lembut Hana.


Seperti pada weekend pagi ini, Hana dan Sarah baru kembali dari pasar yang diantarkan oleh Adnan. Zaki yang sedang ngobrol dengan kakek Burhan di teras langsung berdiri, begitu melihat mobil yang dikendarai Adnan berhenti di halaman kediaman sahabat kakek Ilyas tersebut.


"Maaf Kek, Zaki bantu mereka dulu nggih," pamit Zaki dan pemuda bergaris wajah tegas tersebut segera mendekati mobil Adnan.


Rencananya, nanti malam di kediaman kakek Burhan akan diadakan kenduri peringatan seribu hari meninggalnya ayah Adnan. Untuk itulah pagi ini, nenek Sulis menyuruh cucunya itu untuk ke pasar belanja berbagai macam keperluan dapur.


Adnan adalah putra bungsu dari putra pertama kakek Burhan, ibunya Adnan kini tinggal bersama kakak sulung yang menempati rumah utama orang tuanya. Sedangkan Adnan sejak masih kecil, sudah terbiasa tinggal bersama kakek Burhan.


Untuk itulah kakek Burhan dan nenek Sulis sangat menyayangi Adnan, dan cucunya itu pulalah yang di gadang-gadang oleh sahabat kakek Ilyas itu untuk menggantikan kakek Burhan mengelola yayasan pendidikan tersebut suatu saat nanti.


Hana turun dari mobil sambil membawa tas belanjaan yang cukup besar, begitu pun dengan Sarah yang juga membawa kantong kresek yang isinya penuh.


"Biar aku yang bawakan Dzah," pinta Zaki yang sigap mendekati Hana, seraya mengambil tas anyaman yang berisi penuh aneka sayur dan bumbu dari tangan gadis berhijab marun tersebut. "Sampean bawa yang ringan saja," lanjut Zaki sambil tersenyum.

__ADS_1


Perlakuan Zaki yang manis tersebut, membuat hati Hana membuncah bahagia dan senyuman manis terbit di bibir gadis ayu itu. "Nggih Tadz," balas Hana malu-malu.


Meskipun keduanya sudah sangat dekat, namun antara Zaki dan Hana tetap memanggil satu sama lain dengan panggilan formal. Mereka berdua juga tetap menjaga sopan santun dalam bertutur kata.


"Ehm,," Adnan berdeham, "belum nikah aja, mesranya udah kayak suami-istri. Bagaimana nanti kalau udah nikah? Pasti yang lain kalian anggap sebagai kurcaci," canda Adnan, seraya mengambil kantong kresek dari tangan sang istri.


Hana melirik tajam sahabatnya itu dan seperti biasa , gadis cantik itu mengancam tanpa bersuara. "Jangan ngeledek terus, besok kalau aku pulang enggak aku bawain kue!"


"Sampean ki ngomong opo tho Han? Mbok sing cetho ngono lho? Ape omong, Bang Zaki matur nuwun. Aku tresno jenengan Bang... ngono wae kok ndadak isin-isin," ledek Adnan semakin menjadi.


__Kamu itu bicara apa sih Han? Kalau ngomong yang jelas gitu lho? Mau ngomong, Bang Zaki terimakasih. Aku suka padamu Bang... gitu aja kok malu-malu__


Hana tak menanggapi lagi candaan garing dari Adnan tersebut, dan ustadzah muda itu segera berlalu sambil mempercepat langkahnya memasuki kediaman kakek Burhan.


Sarah mengikuti langkah sahabatnya itu sambil tertawa terpingkal-pingkal mendengar candaan sang suami, sedangkan Zaki tersenyum seraya geleng-geleng kepala, "parah tenan kowe Nan!"


Adnan hanya mengedikkan bahu, "bagian dari usaha Bang," balas Adnan, seraya berjalan mendahului Zaki untuk masuk kedalam rumah sang kakek.


Setelah menyerahkan barang bawaannya kepada mbok Jum, Adnan kemudian menyibukkan diri membantu sang istri di dapur dengan harapan Zaki mengikuti apa yang dia lakukan. Karena saat ini, istri Adnan tersebut sedang bersama Sarah hendak mengupas bawang dan mengiris cabe.


Suami Sarah itu ikut duduk di atas tikar, bersama sang istri dan juga Hana. Zaki yang baru saja membantu nenek Sulis membuka tas belanjaan dan menatanya di bale bambu, kemudian ikut bergabung.


"Ada yang bisa aku bantu?" Zaki menawarkan jasa.


"Bang Zaki kupas bawang putih aja, yang enggak pedih di mata," pinta Sarah, seraya mendekatkan bawang putih dan pisau kecil ke hadapan Zaki.


Pemuda santun itu membuka bawang putih yang masih terbungkus plastik dan kemudian segera mengupas kulit bawang tersebut. "Ini yang udah bersih di taruh dimana?" Tanya Zaki kembali.


"Taruh aja di hatinya Bang," balas Adnan dengan asal, hingga membuat Sarah tertawa terkikik.


"Xixixi,,, Hubby ada-ada aja," ucap Sarah, masih dengan tawanya.

__ADS_1


Sedangkan Hana yang paham maksud Adnan tersenyum tersipu malu, sementara Zaki menghela nafas panjang seraya geleng-geleng kepala.


"Sarah pasti masih udhur, makanya pikiran kamu somplak gini." Bisik Zaki, di telinga Adnan.


"Istriku memang masih udhur Bang, tapi Sarah kan punya dua mulut. Kalau mulut yang bawah di palang merah, masih ada tuh mulut manisnya yang bisa menghisap," balas Adnan dengan vulgar tanpa memelankan suara, membuat Sarah mengernyit dan menatap tajam sang suami.


Sedangkan Hana menyibukkan diri mengiris bawang merah yang telah dikupas oleh Sarah, dan pura-pura tak mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu.


Zaki menoyor pelan kening Adnan, "kalau ngomong tuh di filter!" Seru Zaki.


"Eh, salahku dimana Bang? Ucapan ku benar kan?" Protes Adnan, karena merasa semua orang menghakiminya.


"Enggak ada yang salah dengan ucapan kamu, agama kita membolehkan asal istri ridho dan tidak sampai tertelan. Puaskan juga istrimu, sebelum kamu memuaskan dirimu sendiri. Karena kebahagiaan istri adalah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga," balas Zaki menasehati, "tapi jangan kenceng-kenceng juga kamu bahas masalah yang tadi!" Lanjut Zaki menegaskan.


Mendengar perkataan Zaki yang sangat bijak, Hana tersenyum simpul.


"Kenapa Bang? Kan semua yang di sini, udah dewasa?" Kembali cucu kakek Burhan itu protes, "Abang dan Hana, juga bentar lagi nikah kan?"


Kakek Burhan yang tiba-tiba muncul ke dapur, mengaminkan apa yang di dengarnya barusan. "Aamiin.... "


"Eh, belum kok Kek. Kami belum ada pembicaraan kearah sana," tukas Hana cepat.


"Itu artinya, akan segera ada pembicaraan kearah sana kan Nak Hana, Nak Zaki?" Kakek Burhan tersenyum seraya mengangguk-angguk, "semoga dimudahkan semuanya," lanjut kakek berusia senja tersebut.


Zaki dan Hana saling pandang, sementara Adnan dan Sarah mengaminkan ucapan sang kakek, "aamiin."


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


Kalian mau mengaminkan juga enggak, bestie??? 😊😊


"

__ADS_1


__ADS_2