
Beberapa menit kemudian tiba-tiba suara langkah kaki mendekat.
"Ada apa lagi Galih, apa kau belum cukup membujuk ku?" Ujar Rama kesal berbalik melihat kearah orang yang ia anggap galih tadi
"A a ayah!" Ujar Rama gugup
"Apa kau tidak merindukan ayahmu Rama?" Ujarnya tersenyum lembut ke arah anaknya membuat Rama terteguh karna ayahnya tau kalo dia bukan Rayhan.
"Apa kamu sudah siap Nona?" Ujar Luhan setelah Rara menaiki mobilnya
"Iya!" Ujar Rara tersenyum manis
"Baiklah!"
Sekarang mereka sedang menuju perpustakaan karna Rara ada tugas yang mengharuskan ia pergi ke perpustakaan, sebenarnya ia bisa pergi sendiri namun entah mengapa Luhan tiba-tiba ada di depan rumahnya dan bilang akan mengantarnya.
Jadi disinilah ia sekarang berada di salah satu perpustakaan di kota ini dengan Luhan yang dari tadi berjalan mengekorinya.
"Apa kau tidak datang membaca buku Luhan?" Tanya Rara karna dari tadi Luhan hanya mengikuti nya tanpa berniat memilih atau pun membaca buku
"Tidak, aku hanya datang mengantar sekaligus menjaga mu saja!" Ujar Luhan tersenyum kecil
"Cobalah Baca buku ini, siapa tau nanti kau akan suka!" Ujar Rara memberikan buku yang ia ambil untuk Luhan dan Luhan dengan senang hati menerimanya
"Akhirnya dia berhenti!" Batin Rara lega saat ia tidak merasakan Luhan yang mengikutinya lagi
...****************...
"Aku sangat merindukanmu!" Ujar Nadia memeluk erat Galih yang baru saja datang
"Aku juga Sangat sangat merindukanmu!" Balas Galih menghirup aroma tubuh Nadia
"Bisakah kalian hentikan itu!" Ujar Latika kesal yang baru saja datang dari arah dapur berniat untuk menonton televisi namun ia malah di suguhi oleh adegan dorama didepan matanya
"Apa si Brengsek itu tidak datang?" Ujar Latika berjalan lanjut kearah Sofanya
"Rayhan?" Tanya Galih bingung
"Siapa lagi!" Ujar Latika ketus
"Dia bilang ada urusan penting!"
"Tck, Alasan yang sangat memuakkan!"
"Dimana Rara?" tanya Galih karna dari tadi ia tidak melihat Rara
__ADS_1
"Sedang pergi kencan dengan laki-laki yang lebih tampan!" Ujar Latika
"Apa dia sudah melupakan Rayhan?" Ujar Galih kaget
"Tentu saja, untuk apa Rara terus-menerus memikirkan bajingan itu, masih banyak kok pria yang mengejar Rara kami!"
"Sudahlah, ayo sayang kita naik ke atas!" Ujar Nadia menarik tangan Galih
...****************...
"Kenapa kau membuat Kakak mu terjebak dengan ibu mu Rama?"
Sekarang Ayah dan anak itu sedang duduk berhadapan di kursi teras dengan dua kopi di depan mereka.
"Jika kau ingin bermain-main, jangan siksa kaka mu dengan membuatnya terkurung dengan ibumu di sana!" Ujar Ayahnya lagi
"Apa kau tidak menyayangi Kaka mu?"
"Heh, kenapa ayah lucu sekali!" Ujar Rama tertawa menutupi wajahnya sendiri membuat Ayahnya bingung dengan sikap yang ditunjukkan anaknya
"Apa ayah datang ke sini hanya untuk membantu Kaka? Aku kira kau merindukanku!" Ujar Rama masih dengan tawanya
"Rama, bukan itu maksud ayah!"
"Ayah!" Tawa Rama semakin keras saat ia mengingat kata-kata ayahnya tadi
"Dulu kau membawa Kaka bersama mu dan meninggalkan ku sendiri dengan ibu yang setiap saat mungkin saja akan mengamuk!" Ujar Rama sakit hati
"Kau tidak tau betapa takutnya aku, Anak kecil berusia 10 tahun harus merawat ibu yang memiliki gangguan!" Ujar Rama setengah bergetar tidak kuat meneruskan ucapannya
"Dulu aku berpikir mungkin saja waktu itu aku kurang baik makanya kau meninggalkanku di sana!"
"mungkin jika aku menjadi anak baik kau akan kembali dan membawaku pergi dari sana, tapi sampai saat ini kau tidak pernah datang ayah!" Ujar Rama dengan mata yang memerah karna sedih dan amarah
"hanya uang yang setiap bulan kau kirim, tidak ada kunjungan bahkan telpon pun tidak ada!"
"Aku tidak sekuat itu ayah, setiap hari ibu mengamuk, menghancurkan seisi rumah bahkan!" Ucapan Rama terhenti ia menggulung lengan bajunya agar luka bakar yang ia terima dulu terlihat
"Kau lihat ini?" Ujar Rama membuat Mata ayahnya membulat kaget
"Ini luka bakar saat aku berusia 12 tahun!"
"Apa luka ini tidak cukup!" Ujar Rama berhenti sejenak hanya untuk menarik nafasnya agar air matanya tidak jatuh
"Apa ini tidak cukup, UNTUK KAU BAWA AKU PERGI DARI SANA!" Teriak Rama histeris, air mata yang se dari tadi ia tahan akhirnya pecah, saat mengingat masa kelam nya dulu
__ADS_1
"Ma maafkan ayah Rama, Ayah tidak bermaksud menyiksa mu!" Ujar ayahnya bergetar saat melihat luka anaknya yang sangat panjang di lengannya
"Ayah ingin membawa kalian berdua namun ayah tidak mungkin meninggalkan ibu mu sendirian dan ayah tidak punya pilihan lain selain mengorbankan mu karna Kaka mu Saat itu sangat lemah!" Ujarnya menangis saat tau penderitaan anak keduanya
"Maafkan ayah nak, ayah mohon maafkan ayah!"
"Sudahlah ayah, Aku sudah tidak apa-apa!" Ujar Rama
"Ayah tau, ayah salah Rama ayah akan memperbaiki semuanya ayah janji!" Ujarnya bersungguh-sungguh dan hal itu membuat Rama tenang seketika
04:34 Sore
"Sudah pulang Ra!" Ujar Latika yang masih menonton televisi nya
"Hm, Loh Galih kau datang?" Ujar Rara saat melihat galih yang sedang menuruni anak tangga dengan Nadia yang mengikutinya dari belakang
"Iya, Habis kencan?" Tanya Galih
"Tidak, tadi aku habis dari perpustakaan ada tugas yang harus aku kerjakan!" Ucapan Rara membuat Galih menghela nafas lega
"Kenapa kau tiba-tiba datang!" Ujar Rara berjalan ke arah kulkas untuk mengambil minumannya
"Apa kau lupa ini sudah satu bulan!" Dan ucapan Galih membuat tangan Rara yang tadi mau membuka tutup botol minumnya seketika berhenti
"O-oh begitulah!" ujarnya meneruskan hal yang tadi tertunda membuka dan meminum air
"Kalo begitu bersenang-senanglah, aku naik ke atas dulu!" Ujarnya dengan memaksakan senyumnya setelah Rara menghilang dari pandangan mereka Nadia langsung memukul kepala Kekasihnya itu
"Dasar bodoh, kau membuat Rara mengingat si Bajingan itu!" Ujar Nadia kesal sedangkan Galih hanya mengusap belakang kepalanya yang di jitak oleh kekasihnya tadi
...****************...
"Bram!" Ujar Ibu Rayhan dan tanpa sengaja menjatuhkan piring yang ia pegang
Prang
Suara piring pecah membuat Rayhan dengan cepat keluar dari kamarnya untuk melihat ibunya, takut jika ibunya melukai dirinya sendiri lagi.
"Ibu kenapa?"
"Ayah, Rama!" Ujar Rayhan kaget saat melihat Rama dan Rayhan yang berdiri tidak jauh dari ibunya
"Sinta, bagaimana kabarmu?" Tanyanya berjalan mendekat
"Apa kau terluka?" Ujar Bram memeriksa tangan Sinta
__ADS_1
Masih dengan kekagetannya membuat Sinta membeku bahkan ia tidak dengar suara orang-orang yang memanggil namanya.