First Love (Rara & Rayhan)

First Love (Rara & Rayhan)
Cafe


__ADS_3

Wulan pun berjalan dengan sedikit enggan ke dekat Rama, mengikuti perintah.


"Pintar, Ternyata Budakku sangat pintar!" Balas Rama mengusap pelan puncak kepala Wulan.


Setiap hari Minggu Rara, Latika dan Nadia selalu pergi ke Cafe milik Kriss, Sudah hampir satu bulan akhirnya mereka bisa ngumpul bertiga disini karna kemarin-kemarin ada teman-temannya yang datang sehingga membuat mereka tidak bisa kumpul lagi di Cafe ini.


Cafe Kriss merupakan cafe bernuansa putih salju dengan banyak miniatur boneka salju dari ukuran kecil sampai ukuran besar, cafe tersebut menjadi tempat berkumpul favorit para remaja saat ini termasuk bagi ketiga gadis itu. Ketiga nya akan banyak berbincang tentang segala hal dimulai tentang masalah sekolah, membicarakan pria yang tampan, membicarakan tentang style gaya masa kini dan masih banyak yang jadi bahan perbincangan mereka.


"Rara, bagaimana Kabar Rayhan, kapan dia akan pulang?" Tanya Nadia mulai mengganti topik pembicaraan, dia mulai bosan membahas tentang Dorama yang selalu ia tonton itu.


"Entahlah Nad, Dia tidak mau mengatakan kapan ia akan pulang" Rara menunjukkan ekspresi Murung, Sudah mau satu bulan Rayhan pergi


"Ku dengar, Rayhan anak dari pengusaha kaya raya, aku kira dia dulu tidak kaya-kaya banget ternyata aku salah!" Nadia berbicara sedikit berbisik, wajahnya terlihat sangat serius.


"Benarkah? Aku juga tidak tau jika Rayhan kaya!" Rara sedikit bergumam, Rara sempat berpikir jika Rayhan hanya anak yang berkecukupan saja.


"Dia anak dari seorang pengusaha yang misterius itu, Pantas saja kita tidak tau kalo dia putra dari orang kaya, ayahnya saja sangat menutup rapat-rapat tentang keluarganya!" Ujar Nadia sambil menunjuk wajah ayah Rayhan


"Tampan bukan, Pada hal dia sudah memiliki dua anak remaja tapi wajah dan tubuhnya masih seperti seorang bujangan!" Kagum Nadia


"Kemarin Kan, aku juga ingin lihat!" Latika merebut ponsel milik Nadia dari tangan Rara, untung nya Rara sudah sempat melihat foto tersebut.


"Terlihat mirip seperti Rayhan, ya mungkin rambutnya saja yang berbeda" komentar Rara, mata nya kembali melirik pada layar ponsel Nadia.


"Rara"


Ketiganya dikejutkan dengan datangnya sesosok pemuda berambut tak tertata dengan mata tajam, ya siapa lagi kalau bukan Luhan


"Lu luhan?" Rara benar-benar ingin mengutuk dirinya sendiri karena harus kembali lagi bertemu dengan Luhan


"Wahhh, Senior Tampan sekali!" Nadia berteriak kagum dalam hatinya kala melihat wajah pemuda tersebut.

__ADS_1


"Bolehkah aku bergabung bersama kalian? Mungkin lebih ramai, akan lebih baik?" Luhan menunjukkan senyumannya pada ketiga gadis itu, yang langsung membuat mereka meleleh kecuali Rara tentunya.


"Ti tidak ***-.."


"BOLEH!"


"BOLEH!"


Saat Rara ingin mengatakan 'Tidak', justru kedua sahabatnya langsung memotong ucapan Rara dengan mengatakan 'Boleh' dengan semangat


Mata bulat Rara membelalak tidak percaya mendengar kekompakan Nadia dan Latika, ya begitulah keduanya- begitu senang berada didekat pria-pria tampan.


"Silahkan duduk" Latika mempersilahkan agar Luhan duduk disalah satu kursi kosong yang berada di mejanya.


"Apa aku tidak menganggu acara kalian?" Luhan memandang silih berganti pada Nadia dan Latika


"Tidak, Sama sekali tidak lebih banyak orang lebih baik!" Nadia menjawab dengan cepat matanya tidak pernah lepas memandangi wajah Luhan yang tampak seperti porselen mahal.


"Benar!" Ujar Latika menimpali lagi-lagi otak nya berpikir keras kenapa Rara selalu berada didekat pria yang sangat tampan.


"Hahahah, kau bisa saja" Nadia tertawa lebay dengan telapak tangan kanan yang menutupi mulutnya, membuat Latika memandang aneh dirinya


"Terimakasih atas pujiannya?" Ujar Latika sesekali dia menyendok ice cream kedalam mulutnya.


"Sama-sama" jawab Luhan, dia kembali menoleh pada Rara yang terus menunduk.


"Kau baik-baik saja Rara?" tangan Luhan mengulur dan mengusap lembut pipi gembul Rara, hal itu langsung membuat Rara tersentak.


"A-aku baik-baik saja" Rara menepis pelan telapak tangan besar Luhan. Nadia dan Latika yang melihat adegan tersebut ikut tertegun, keduanya juga saling beradu pandang satu sama lain.


"Kau tidak sedang sakit bukan?" Luhan menempelkan salah satu punggung telapak tangannya pada kening Rara, ingin memastikan apakah tubuh Rara sedang dalam keadaan panas atau tidak.

__ADS_1


"Ti tidak" Rara menjauhkan keningnya dan menggeleng dengan cepat. Rara kembali menundukkan kepalanya, sedangkan Luhan sendiri masih terus memperhatikannya.


"Em mu mungkin sebaiknya kita pulang saja, iya kan Nadia?" Latika merasakan ada hal aneh yang terjadi pada keduanya, itu membuat Latika merasa canggung.


"Hah? A apa? Pulang?" Nadia sedikit merasa keberatan, dia masih ingin berada didekat Luhan, Jarang-jarang kan ia bisa duduk sambil memandangi wajah tampan seorang pria


"Kriss!" Ujar Latika mengangkat tangannya agar Kriss bisa melihat kearahnya


"Kami berdua pergi dulu yah!" Lanjut Latika dan Kriss pun hanya mengangguk dan mengangkat jempolnya mengerti.


"Ke kenapa pulang Latika?" Rara langsung mendongakkan kepalanya, dia melihat Latika dan Nadia yang sudah dalam keadaan berdiri.


"A aku dan Nadia ada urusan penting, kalian berdua disini saja. Maaf kami tidak bisa mengajakmu Rara" Latika menarik paksa lengan Nadia agar cepat-cepat keluar dari cafe.


"kau ini kenapa sih? Aku masih ingin bersama Senior!" Nadia berusaha melepaskan cengkraman Latika


"Dasar kau bodoh! Jika kita tetap disana, itu artinya kita hanya akan mengganggu mereka" Latika terus menyeret Tubuh sahabatnya tersebut.


"Tck, menyebalkan! Lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri" Nadia memasang wajah muram nya lalu berjalan didepan Latika dengan kepala mendongak dia merajuk.


"Hahhhh" Latika menghela napas panjang melihat kelakuan Nadia


Sedangkan keadaan di cafe


"Rara, sepertinya kau tidak suka berada di dekatku" Luhan berpindah posisi, dia duduk tepat disamping Rara


"A aku harus pulang, ini sudah hampir sore" Rara bangkit dari duduk lalu meraih tas ransel miliknya, saat kaki akan melangkah tiba-tiba saja Luhan mencengkram lengan kanan Rara


"Ku Antar" Luhan menatap lekat-lekat mata cantik Rara, dan masih dengan mencengkram lengannya


"Le lepaskan, a aku bisa pulang sendiri" Rara meronta. Sungguh, Rara benar-benar tidak suka berada didekat Luhan, Apa lagi saat ia mengingat kejadian di kampus dulu dimana Luhan dan Rayhan berantem yang mengakibatkan kemarahan yang memuncak dari Rayhan.

__ADS_1


"Cih" sedangkan Luhan sendiri merasa dongkol dengan sikap Rara, Luhan merasa bahwa Rara sedang berusaha menjauhi nya. Padahal Luhan tidak mempunyai niat buruk pada diri Rara, dia justru ingin lebih dekat dengan Rara


"Se selamat tinggal" setelah akhirnya Luhan melepaskan cengkraman pada Rara, Rara segera bergegas pergi keluar meninggalkan Cafe tersebut.


__ADS_2