
Saat Rara sedang menikmati membaca bukunya tiba-tiba ia mendengar Jeritan dan suara Mahasiswi yang sedang membicarakan sesuatu.
"Ya ampun apakah dia seorang Idola?"
"Dia tampan sekali?"
"Sutt jangan bicara keras-keras kita masih berada di perpustakaan sekarang!"
"Sepertinya wajah pria itu tidak asing!"
"Benarkah? apa kamu pernah bertemu dengannya?"
"Andai saja pacarku Setampan dirinya pasti aku akan sangat bahagia!"
Dan masih banyak lagi Ucapan-ucapan dan Teriakan Mahasiswi yang membuat Rara kesal karna waktu damainya telah di ganggu.
"Eh bukankah dia salah satu pria yang pernah berkelahi di kampus kita dulu?"
"Ah benar-benar dia adalah pria tampan waktu itu!"
Dan ucapan itu membuat Rara segera berdiri dari duduknya, ia berjalan kearah Jendela yang ada di Ruangan perpustakaan itu untuk melihat siapa gerangan pria yang di bicarakan oleh para mahasiswi itu dan setelah ia melihat keluar jendela Rara langsung membulatkan matanya kaget dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Di bawah sana, Rayhan sedang berdiri menaruh kedua tangannya di dalam kantong celananya sambil bersandar di mobil Sportnya, membuat mahasiswi yang berdiri di bawa sana mengelilinginya dengan kagum.
"Sedang apa dia disini!" Batin Rara kesal karna Rayhan membuat para mahasiswi heboh.
Dengan cepat iapun Berjalan kembali ke arah tempat duduknya tadi untuk membereskan buku dan tasnya.
Pergi.
Ia harus menemui pria tebar pesona itu.
Setelah Rara tiba di bawah, ia Langsung mencoba menerobos kumpulan Mahasiswi yang sedang mengagumi ketampanan Rayhan dan tanpa ia duga ia malah di senggol oleh beberapa Orang hingga membuat ia hampir terjatuh.
Hampir?
Yah hampir karna Rayhan sudah lebih dulu menangkap tubuh Rara, memeluk pinggangnya dengan erat.
"Kau tidak Apa-apa?" Ujar Rayhan Khawatir sedangkan Rara hanya menggelengkan kepalanya pelan
__ADS_1
"DIAM!" Teriak Rayhan saat para mahasiswi itu terus berbisik dan berteriak hingga membuat Semua Orang yang ada di situ terdiam.
Setelah itu Rayhan dengan cepat mengangkat Rara ala bridal style, hingga membuat semua perempuan disana berteriak Iri.
"Ra Rayhan turunkan aku, Se semua orang melihat kita!" Ujar Rara mencoba menutup wajahnya yang sudah memerah
"Tidak, kalo aku menurunkan mu kamu akan kabur lagi seperti tadi pagi!" Ujar Rayhan tersenyum kecil saat melihat wajah Rara yang sudah seperti kepiting rebus
"Jangan keluar, jika kamu berani membuka pintu mobil ini, kau akan tau akibatnya!" Ujar Rayhan dengan tatapan mengancam hingga membuat Rara terdiam membisu
Rayhan pun dengan cepat berjalan ke arah kursi kemudi, setelah ia selesai menurunkan Rara di dalam mobil.
"Pakai sabuk pengaman mu!" Ujar Rayhan sedangkan Rara tidak sekalipun bergerak
"Tck, Keras kepala!" Ujar Rayhan dengan cepat mencondongkan tubuhnya ke arah Rara untuk membantu Kekasihnya itu memakai sabuk pengamanan
Rara menahan nafas saat Wajah Rayhan berada tepat di depannya.
"Dekat jantung mu, Menggila!" Ujar Rayhan menyeringai sambil menatap wajah Rara, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja, jika Rayhan bergerak maju sedikit pasti mereka sudah berciuman sekarang
Sedangkan Rara, tidak bisa sama sekali untuk mengeluarkan suaranya, Ia hanya menggenggam kuat sabuk pengaman mobil itu dengan kuat, bahkan keringat sudah berkumpul di keningnya saking gugupnya ia.
Rayhan yang melihat itu hanya tersenyum kecil dan.
Ia mengecup pelan bibir Rara setelah itu iapun menjauhi wajah kekasihnya itu, duduk kembali di kursi kemudinya itu, Dan tanpa berlama-lama lagi Rayhan pun menyalakan mobilnya pergi dari sana.
Dan disinilah mereka sekarang di tepian pantai sambil melihat ombak di depan mereka. Seperti Dejavu.
"Sayang! Apa kamu masih marah?" Ujar Rayhan menggenggam tangan Rara lembut, namun Rara sama sekali tidak mau menanggapi ucapan Rayhan
"...!"
"Ra, Jangan Seperti ini Sayang! Kau membuat Hatiku sakit!" Ujar Rayhan mengelus pelan tangan Rara
"....!"
"Ra!"
"Kau menjadikan ku bahan taruhan Ray!" Rara memotong ucapan Rayhan sambil melepaskan tangannya dari genggaman pria itu
__ADS_1
"Aku tidak punya Cara lain sayang! Itu adalah jalan satu-satunya agar kelak dia tidak mendekati mu lagi!" Ujar Rayhan menarik kembali tangan Rara untuk ia genggam
"Seharusnya kau tidak melakukan hal konyol seperti itu Ray, Yang kalian lakukan itu seperti menganggap jika aku adalah Barang buat kalian!" Ujar Rara dengan Genangan air mata yang sudah siap terjatuh
"TIDAK! Jangan Menangis sayang!" Ujar Rayhan kalut saat ia melihat wajah sedih dari orang terkasih nya
"Ka kau, Hiks sebenarnya me menganggap aku ini apa, Apakah aku ini sangat lucu di mata kalian hingga kalian Hiks!" Ujar Rara tidak sanggup melanjutkan ucapannya
"Tidak!" Ujar Rayhan tegas sambil membawa Rara ke dalam pelukan nya
"Jangan berbicara seperti itu sayang! Aku bersumpah aku tidak pernah menganggap kamu seperti itu! Aku hanya takut jika ada pria yang mencoba mendekati mu, Terlebih lagi dia adalah orang dari masa lalu mu!" Ujar Rayhan pelan di dekat kuping Rara
"Kau tidak percaya kepada ku?" Ujar Rara menjauhkan tubuhnya dari pelukan Rayhan
"Tidak Ra, Aku mempercayai mu bahkan sangat mempercayai mu!, Aku hanya tidak mempercayai pria-pria di luaran sana saja!" Ujar Rayhan menarik kembali Rara untuk ia peluk
"Tolong maafkan aku sayang, aku janji, Aku tidak akan pernah lagi membuat mu menjadi barang taruhan!" Ujar Rayhan pelan sedangkan Rara tidak menjawabnya ia hanya terus menangis di pelukan Rayhan, Namun Rayhan tau jika Rara sudah memaafkan nya. terbukti dengan Sikap Rara yang memeluk balik pinggangnya.
Rumah tempat tinggal Rara, Latika dan Nadia
"Eh Rama kau mau membawaku kemana?" Ujar Wulan bingung saat tangannya terus di tarik oleh Rama hingga mereka sampai di atas atap rumah
"Wah, Ternyata pemandangan disini sangat indah!" Ujar Wulan kagum dengan pemandangan kota yang ia lihat
"Jika aku tau di atas sini akan ada pemandangan se cantik ini, setiap kali malam datang pasti aku akan langsung naik ke atas atap!" Ujar Wulan berbinar tanpa menyadari jika Rama sedang menatapnya sambil tersenyum bukan Seringai yang sering ia tunjukan kali ini ia Tersenyum.
"Lihat Rama!" Ucapan Wulan terhenti saat ia melihat Senyuman Rama untuk pertama kalinya
"Ka kau tersenyum?" Ujar Wulan Kaget
"Tidak!" Ujar Rama dengan cepat memudahkan Senyumnya
"Benarkah?" Wulan Ragu
"Tentu saja, Untuk apa aku tersenyum!"
"Ah betul juga!" Ujar Wulan Kembali melihat pemandangan di depan sana
"Sayang sekali!" Lanjutnya
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu kecewa?" tanya Rama
"Tentu saja, Kau yang tersenyum itu bagaikan Sebuah Fenomena alam yang sangat langka!" Ujar Wulan tanpa menyadari jika Rama sedang mengulum Senyumnya