
"Jujur juga ada batasnya bodoh!" Balas Nadia setelah mengatasi ekspresinya
"Dan bukankah itu juga artis pendatang baru yang sedang naik daun itu!" Ujar Nadia Berbinar
"Aku ingat dia bukannya pernah muncul di Acara Dorama mu? Dia Cameo kan" Ujar Latika mengingat-ingat
"Dia bukan Cameo Latika, Dia Pemeran utamanya!" Teriak Nadia heboh
"Aku tidak menyangka ternyata aku akan bertemu dengan idolaku disini!" Lanjutnya lagi sedangkan Rara dan Latika yang mendengarnya hanya memutar matanya bosan saat melihat ke lebayan Nadia
...****************...
"Tck, Kosong!" Gumam Rama kesal saat ia melihat tidak ada satupun makanan yang bisa ia makan
"Si idiot itu belum juga turun!" Batin Rama memandangi lantai atas tempat dimana kamar Galih
"Sudahlah lebih baik aku pergi makan diluar!" Lanjutnya lagi
Di perjalanan Rama melihat sesosok orang yang ia kenal sedang berjalan santai di trotoar jalan.
Setelah memastikan bahwa ia tidak salah mengenali orang, Rama pun dengan tiba-tiba menghentikan motornya di samping orang itu, membuat Orang tadi terkaget-kaget.
"Ya ampun, kau bisa bawa motor ngga sih!" Ujar Wulan kesal
"Aku kira kau seorang penculik!" Lanjut Wulan
"Apakah ada Penculik setampan aku?" Ujar Rama pede Hingga membuat Wulan kesal bukan main
"Dan jika memang ada penculikan, mana mungkin dia mau menculik wanita galak seperti mu!" Ejek Rama
"Hah sudahlah aku malas meladeni mu!" Ujar Wulan berjalan pergi meninggalkan Rama sendiri
"Eh kau mau kemana?" Tanya Rama mengikuti Wulan dengan mengendarai motornya pelan
"Supermarket!" Jawab Wulan acuh tak acuh
"Kenapa tidak naik kendaraan?"
"Aku sedang ingin menikmati alam dan juga apartemen ku dekat sini!" Balas Wulan tanpa berniat menghentikan jalannya
"Ayo naik aku antar!" Dan Ucapan Rama membuat Wulan memandangi nya dengan aneh
"Kau jangan ke ge,Eran dulu, aku menawari mu karna aku juga ingin ke sana jadi sekalian saja aku!" belum selesai Rama ngomong tiba-tiba Ucapannya di potong oleh Wulan
"Aku tidak tanya!" Dan ucapan Wulan sukses membuat Rama geram setengah mati
"Kau mau sampai kapan mengendarai motor dengan pelan seperti itu!" Ujar Wulan kesal karna ia risih saat orang-orang dari tadi melihat ke arah mereka
tentu saja dengan dia yang berjalan dan Rama yang memelankan laju motornya pasti orang-orang mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sedang ngambek.
"Terserah ku, inikan motor ku bukan motor mu!" Balas Rama
"Hah terserah lah!" Ujar Wulan dan iapun dengan cepat berbelok memasuki Supermarket meninggal Rama
__ADS_1
Setelah beberapa menit memilih dan memilah produk-produk yang akan ia beli akhirnya Wulan tersentak kaget saat mendengar deheman seseorang di belakangnya.
"Kau kenapa kesini?" Tanya Wulan kaget
"Aku datang berbelanja juga!" Jawab Rama cuek
"Aku kira kau mengikuti ku!" Ujar Wulan santai
"Heh kau pede sekali!" Balas Rama
Sebenarnya perkataan Wulan tidak sepenuhnya salah sih, ia memang sedang mengikuti Wulan Karna ia masih ada urusan dengan wanita ini.
Namun tidak mungkin kan ia terang-terangan mengaku.
"Kalo begitu syukurlah!" Ujar Wulan tidak perduli
Diluar Supermarket.
"Tunggu!" Ujar Rama menghentikan Wulan
"Ada apa?"
"Taru nomor mu disitu!" Ucap Rama memberikan Handphone baru nya
"Untuk?"
"Kau sudah lupa dengan perjanjian di antar kita?"
"Tck, Kau akan memenuhi semua keinginanku selama satu bulan akibat dari kekasaran mu kepada ku!" Jelas Rama
"Ka kau masih mengingatnya?" Ujar Wulan tidak sangka
"Tentu, kau kira untuk apa aku berpura-pura jadi Rayhan disini!" Balas Rama santai
"Dasar iblis!" Ujar Wulan mengambil handphone Rama dan dengan cepat ia mengetik nomor teleponnya
"Sudah Puas?" Tanya Wulan kesal sedangkan Rama hanya membalasnya dengan senyuman iblis nya
"Thanks!" Ujarnya meninggalkan Wulan sendirian disana
...****************...
"Ya ampun lihat bukankah lawan di sebelah kiri curang?" Ujar Nadia kaget sambil memakan popcorn yang sengaja ia beli tadi
"Lihat-lihat dia sangat kasar!" Lanjut Nadia saat ia melihat tim kanan yang terjatuh akibat dari dorongan kasar dari tim kiri
"Namun apa kalian tidak menyadarinya kalo wasit dari tadi tidak meniup peluit bahkan ketika tim kiri berlaku curang, apa wasitnya tidak melihat!" Ujar Latika terheran-heran
"Dia tentu saja lihat namun itu tidak ada gunanya jika wasit berpihak ke salah satu tim!" Balas Kriss Santai
"Maksudnya?"
"Kau tidak lihat di kursi paling depan itu adalah Wali kota!" Ujar Kriss menunjuk pria tua yang Sedang duduk santai menikmati pertandingan
__ADS_1
"Dan itu!" Lanjut Kriss menunjuk lagi ketua tim dari tim kiri
"Adalah Anak dari wali kota!"
"Ya ampun, setelah mendengar apa yang kau Ucapkan, permainan ini tiba-tiba tidak seseru yang aku bayangkan tadi!" Balas Latika kesal
"Kasihan sekali tim kanan!" Ujar Rara prihatin
Akhir dari pemainan pun tiba Dan pada akhirnya seperti yang diprediksi oleh mereka bahwa tim kanan kalah dan tim kiri menang.
"Apa kau tidak mau mampir dulu?" Tanya Latika saat mereka sudah sampai dirumah
"Umm Untuk kali ini tidak bisa, mungkin lain kali bisa!" Balas Kriss tersenyum hangat membuat Latika juga membalasnya dengan senyuman
"Bisakah kalian tidak usah bermesraan disitu!" Ujar Nadia dengan tatapan kesalnya
"Membuat orang muak saja!" Lanjutnya lagi dan pergi kedalam rumah meninggalkan Latika dan Kriss
"Dia kenapa?" Tanya Kriss bingung
"Mungkin lagi Dapet!"
"Oh kalo begitu aku pergi yah, Dah!" Ujar Kriss menyalakan mobilnya dan pergi
Keesokan harinya.
"Rey, Makanan sudah siap dibawah!" Ujar Rara sambil merapikan bajunya bersiap-siap pergi ke kampus
"Hm, Kau mau kemana?" Tanya Rayhan setengah sadar
"Kampus, hari ini aku akan ke kampus!" Ujar Rara masih dengan merapikan dirinya
"Aku antar!" Ujar Rayhan berniat bangun dari tidurnya
"Tidak usah!" Balas Rara cepat
"Tapi Ra, aku mau!"
"Dah Rayhan aku pergi dulu!" Potong Rara cepat berjalan keluar dari kamar
"Aku tidak mau menerima resiko ditatap oleh mahasiswa-mahasiswi disana karna datang bersama pria tampan!" Batin Rara
"Nadia, Latika aku berangkat dulu!" Ujar Rara melambaikan tangannya ke arah Nadia dan Latika yang sedang duduk di meja makan
"Hati-hati Ra!"
Mata kuliah pertama dan kedua di lewati Rara dengan serius dan tentu saja setiap kuliah pasti akan ada banyak tugas menumpuk yang diberikan oleh dosen kan!?.
Selalu saja seperti itu apakah mahasiswa harus terus dihadapkan dengan tugas-tugas yang menumpuk.
Dan disinilah Rara sekarang didepan pintu perpustakaan yang selalu ia datangi jika tugas menyerang.
"Semangat Rara hari ini kau harus menyelesaikan semua Beban-beban ini!" Batinnya menyemangati dirinya sendiri
__ADS_1