
Kampus.
Jam dua siang, itu berarti adalah waktu jam pulang Kampus bagi Mahasiswa-mahasiswa yang memiliki jam kuliah lebih dari tiga disana, begitupun dengan Rara. Ya walaupun dirinya harus menghabiskan 30 menit terlebih dahulu didalam perpustakaan lagi untuk mencari dan meminjam beberapa buku membuat gadis manis itu tidak bisa langsung pulang begitu saja.
Rayhan Juga sudah menghubungi nya tadi untuk menjemputnya dan akan tiba sekitar jam setengah tiga sore nanti.
Jangan tanya dimana Rayhan tau lokasi kampus Rara, karna kedua sahabatnya dengan senang hati memberi tahukan Rayhan dimana tempat kampus mereka.
Dengan langkah yang sedikit berat karena membawa banyak tumpukan buku-buku tebal didalam dekapannya, Rara melihat jam tangan putih yang melingkar indah dipergelangan tangan kirinya.
"Masih ada waktu, ku rasa tidak masalah jika ke kantin terlebih dahulu!"
Rara melangkah dengan semangat menuju kantin, perutnya yang tidak bisa diajak toleransi membuat Rara harus makan lagi. Rara mengambil posisi duduk dimeja pojok, disana tidak terlalu berisik baginya. Walau sudah jam pulang Kampus, tapi masih banyak sekali Mahasiswa yang masih betah di kampus mereka.
Setelah memesan satu porsi paket makanan lengkap, Rara kembali duduk di kursinya. Lalu meraih ponselnya yang bergetar didalam saku Celananya, keningnya mengkerut ketika melihat ada pesan masuk dari Luhan.
From : Luhan
Lihat ke arah pintu masuk kantin.
Rara menuruti perintah tersebut, seketika matanya membelalak saat mendapati sosok pemuda berpakaian Rapi namun sedikit acak tengah berdiri diambang pintu masuk kantin.
"U untuk apa Luhan kemari?" gumam Rara, pandangannya tak lepas dari sosok Luhan yang terus berjalan menghampirinya.
"Kenapa belum pulang? Kau ini senang sekali ya pulang terlambat" Luhan mengusap pipi kiri Rara lalu segera duduk di kursi yang tersedia. Rara hanya terus diam, dirinya masih berdiri tegang dan tidak berkutik.
"Heran kenapa aku bisa berada disini?" seakan Luhan mengerti kenapa gadis manis itu tetap membeku.
"Bukankah senior seperti mu, sudah pulang dari tadi pagi, dan kenapa kau tau aku disini?" Rara kembali duduk di kursinya.
"Mencari dirimu tidak sesulit mencari jarum didalam tumpukan jerami, Rara" Luhan tersenyum, lalu mata dingin nya memperhatikan keadaan sekitar kantin tersebut.
"La Lalu untuk apa kau kemari?" tanya Rara
__ADS_1
"Menjemputmu, memangnya untuk apa lagi?" sahut Luhan
"A aku tidak menyuruhmu untuk me menjemput ku Luhan" Rara mulai panas-dingin, seenaknya saja Luhan mengatakan bahwa dirinya ingin menjemput Rara
"Bagaimana jika Rayhan tahu? Ba Bagaimana jika dia sudah datang dan menunggu diluar?"
Pikirannya mulai berantakan, Rara masih ingat benar bagaimana kejadian buruk saat Rayhan marah dan cemburu dulu. Rara tidak mau Rayhan melihat dirinya ketika sedang bersama dengan Pria lain
"A ano lebih ba baik kau pulang saja Luhan" bahkan Rara merasa selera makannya sudah hilang, hatinya menjadi gelisah dan was-was.
"Kau mengusirku?" Luhan mendelik. Pemuda Tampan itu sadar jika Rara merasa tidak suka akan kehadirannya, dan Luhan tahu itu disebabkan oleh Rayhan
"Bu bukan begitu, ha hanya saja aku su sudah dijemput oleh orang lain" Rara melirik sepintas pada jam tangannya, ini sudah menunjukkan pukul jam setengah tiga lewat.
"Siapa?" Luhan seakan pura-pura tidak tahu.
"Le lebih baik ka kau pulang sekarang Luhan" Rara mulai merapikan buku-buku yang dia pinjam tadi, Rara juga tidak menyentuh sedikitpun makanan yang telah dia pesan- bahkan sudah dibayar.
Skakmat
Rara tidak bergeming sedikitpun, selang beberapa detik kemudian dirinya kembali mengemas buku-buku tersebut.
"Sa Sampai jumpa Luhan" Rara segera melangkah atau lebih tepatnya berlari kecil meninggalkan Luhan
Srettt
Luhan menarik pergelangan tangan Rara dengan kasar, tubuh Rara langsung berbalik secara reflek dan karena begitu tiba-tiba membuat dirinya kini berada didalam pelukan Luhan. Aroma harum musk menusuk indera penciuman Rara, otaknya masih belum memproses kejadian yang berlangsung secara cepat tersebut.
"Luhan" matanya membulat ketika sadar bahwa dirinya kini tengah dipeluk oleh Luhan. Luhan tidak menyahut, kedua tangannya melingkar dengan erat di pinggang ramping Rara
"Le lepaskan Luhan!" Rara mulai berusaha mendorong dada bidang Luhan, keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya.
"Tubuhmu sangat nyaman saat dipeluk, aku suka" bisik Luhan, dia semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Lu Luhan, aku mohon lepaskan!" Rara terus berusaha melepaskan diri dari dalam dekapan Luhan
"Diam Lah sebentar"
"Aku sudah lama tidak merasakan kenyamanan seperti ini semenjak ibu ku meninggal. Diam Lah sebentar saja, Rara" lanjutnya, wajahnya sedikit merunduk dan bersandar pada bahu kecil Rara.
Rara kembali bungkam, dirinya merasa luluh ketika mendengar ucapan Luhan.
Gadis Cantik itu menghela napas panjang, dirinya bingung harus melakukan apa. Saat pandangan manik cantik Rara tepat lurus ke arah depan, matanya langsung membelalak dengan cepat.
Dari ujung sana, sekitar beberapa meter jarak dari tempat Rara berdiri dengan Luhan. Terdapat sepasang mata kelam yang memandang tajam ke arah Rara berada.
Sesak! Itulah yang Rayhan rasakan didalam dada nya ketika melihat gadis yang dia cinta tengah berada didalam pelukan pria lain. Tangannya mengepal dengan keras sampai kuku-kuku jarinya menekan kuat telapak tangan, giginya yang menggelutuk kuat langsung membuat bagian dinding dalam mulutnya ikut tergigit, dan hatinya terasa sangat sakit.
"Brengsek!"
Seketika Rayhan langsung berlari ke arah Rara yang juga telah melihat dirinya, menarik pundak Rara dengan kasar agar terlepas dari pelukan Luhan dan langsung menghantam wajah pemuda tersebut dengan sangat keras.
Bughhh
Luhan sedikit kaget ketika mendapatkan pukulan keras diwajahnya- lebih tepatnya di pipi kirinya. Tubuhnya yang tidak siap langsung terhempas cukup jauh ke lantai, Luhan juga sedikit merasakan perih dibagian rahangnya yang terkena pukul.
"Keparat! Apa kau tidak punya otak hah? memeluk kekasih milik orang lain, aku peringatkan kau jauhi Rara!" Rayhan kembali menghampiri Luhan yang masih tersungkur, kaki kanan nya langsung menendang kuat tepat dibagian perut Luhan
"Lu Luhan" kaki kecil Rara mulai gemetar melihat Rayhan yang menendang Luhan dengan keras.
"Re Reyhan, sudah cukup! Ja jangan hajar dia lagi" Rara menarik lengan Rayhan
"Diam kau! Kenapa kau hanya diam saja saat si 'Berengsek' itu memelukmu?! Kau menyukainya hah?!" bentak Rayhan Amarah telah memenuhi setiap sudut otaknya, dirinya sudah tidak mampu mengontrol pikirannya lagi.
"Re Reyhan memaafkan aku, tadi itu hanya-"
"Hanya apa hah?! Aku sudah memperingatkan mu agar menjauh dari pria lain Rara, kenapa kau tidak mendengarkan ku?!" hati Rayhan sudah terlanjur sakit, dia tidak bisa untuk tetap tenang.
__ADS_1