
Luhan mengenakan helm hitam sebelum mengendarai superbike kesayangannya. Suara gerungan mesin motor yang begitu kencang dan nyaring membuat beberapa orang yang berlalu lalang berdecak kagum padanya. Sepulang sekolah Luhan selalu pergi ke sebuah danau yang terletak tidak jauh dari gedung Kampusnya.
Luhan sering menghabiskan waktu disana hanya untuk bersantai dan memenangkan hati. Dan jika petang mulai muncul, maka Luhan segera pulang ke apartemen yang berada ditengah kota Tokyo.
Luhan mulai menambah kecepatan motornya saat roda mulai bergesekan dengan aspal jalan raya, akselarasi yang dia lakukan cukup membuat pegangan pada gas semakin mengencang kuat.
Banyak yang tidak tau jika Luhan sangat menyukai motor, bahkan ia sering sekali mengikuti balapan liar.
Sepasang mata dinginnya menangkap tikungan pada jarak 15meter, dengan sedikit memiringkan motor dan menurunkan satu kaki, Luhan berhasil melakukan cornering dengan baik.
Tiba-tiba saja, Luhan melihat sosok yang diketahui adalah Rara sedang berjalan dibahu jalan dengan membawa banyak tumpukkan buku di dalam dekapannya. Dengan kembali melakukan akselerasi.
Luhan menepikan motornya seraya terus dipacu. Dan ketika sudah tepat disamping Rara, pemuda Tampan tersebut langsung melakukan stopie, yakni memainkan rem depan secara mendadak hingga roda belakang terangkat.
"E-eh?" Rara sangat terkejut ketika motor yang disampinya ini berhenti dengan cara mengerikan.
"Ini aku" Luhan melepaskan helm hitamnya, turun dari motor dan berdiri gagah tepat di samping Rara.
"Lu luhan?"
"Sudah sakit seperti ini, dan dirimu baru pulang sekolah?" Luhan bertanya heran.
"A aku sudah pulang dari tadi, h hanya saja harus mengerjakan tugas tambahan di perpustakaan" Rara sedikit tidak nyaman berada didekat Luhan, karena setelah ungkapan perasaan itu membuat Rara sedikit canggung di dekat Luhan
"Kenapa? Apa kau takut padaku?" Luhan merundukkan kepalanya, wajahnya mendekat ke wajah Rara
"Ti tidak" Rara memalingkan wajahnya yang mulai panas, dia juga sedikit mundur.
"Kenapa kau seperti ingin menjauhi ku?" Bukankah Kita berteman?" Luhan memasukkan kedua tangannya pada saku celana, Mata tajamnya masih menatap wajah Rara
"A ah ti tidak aku tidak sedang menjauhi mu kok" Rara berbohong, tentu saja dia ingin menjauh. Setelah dipikir-pikir, Rara tidak mau memberi harapan untuk pria manapun.
"Aku akan mengantarmu pulang" tanpa bertanya, Luhan menyematkan jemari panjangnya ke pada jemari kecil Hinata. Menggandeng gadis tersebut mendekat pada motornya yang terparkir rapi.
__ADS_1
"A aku mau pulang sendiri saja Luhan. Le lepaskan aku" Rara berusaha melepaskan genggaman tangan Luhan
"Kita adalah sahabat, jadi biarkan aku mengantar mu sebagai seorang sahabat" Luhan semakin menggenggam erat tangan Rara
"T tapi aku t-ti-.."
"Cepat naik" Luhan mempersilahkan Rara menaiki motornya terlebih dahulu, dia tidak mau Rara kabur jika dia yang naik duluan.
"Lu luhan aku ingin pu pu!"
"Naik, Rara" Toneri memberikan penakanan pada kata 'naik' yang dia ucapkan. Apa boleh buat, dihirupnya oksigen dalam-dalam lalu Rara segera menaiki motor mewah tersebut.
"I ini sangat tinggi" Rara sedikit mengalami kesulitan saat menaikinya. Dengan sigap, kedua tangan Luhan memegang pinggang ramping Rara dan membantu gadis Cantik tersebut untuk duduk di motornya.
"Lu luhan" darah kembali berdesir pada pipi tembem nya, rona merah kembali terlihat jelas disana.
"Mudah bukan?" Luhan tersenyum simpul. Matanya melirik sekilas ke paha putih mulus Rara yang terpampang jelas, jantungnya berdegup cepat melihat pemandangan indah seperti itu, sontak Luhan langsung memalingkan pandangannya. Saat itu Rara masih mengenakan baju kemeja putih dan rok mini, tentu saja dengan menaiki motor dan duduk dengan posisi menunggangi, hal tersebut menyebabkan roknya tersingkap ke atas.
Luhan kemudian naik ikut motornya, kembali memasang helm dan menyalakan mesin motor. Kedua tangannya bertumpu erat pada setir motor, sering kali nakal terbentuk dibibir pemuda tampan itu.
"A apa?" Rara melongo mendengar ucapan Luhan Namun Luhan tidak merespon, dia mulai meng-gas motornya dan seketika melesat dengan cepat. Rara yang belum siap membuat tubuhnya hampir jatuh ke belakang, karena gerakan mendadak tersebut juga langsung membuat kedua tangannya melingkar di pinggang Luhan
"Ja jangan ngebut Luhan" Rara mengecangkan pelukannya di pinggang Luhan, Rara takut dia akan jatuh terbentur aspal jika tidak berpegangan dengan kuat. Luhan sendiri menghiraukan permintaan Rara
Dia tetap mengendarai superbikenya dengan kecepatan tinggi. Sebenarnya Luhan juga menikmati sensasi dada besar Rara yang menempel pada punggungnya, benda kenyal nan besar itu benar-benar terasa empuk kala tertekan lembut pada punggungnya. Pikiran Luhan sedikit membayangkan tubuh Rara.
"Padahal tubuhnya mungil, tapi entah kenapa dadanya begitu besar!" pikir Luhan segala macam pikiran mesum dan kotor menguasai otaknya karena Rara
Saat sudah hampir berada dekat dengan rumah Rara, Luhan mengakselerasi motornya dan berhenti dengan tiba-tiba. Lagi-lagi dada besar Rara menekan punggung lembut Luhan, sungguh hal ini membuat pemuda dingin itu jadi tidak karuan.
"Te terimakasih untuk tumpangannya" Rara menuruni motor besar Luhan
"Tidak masalah. Bagaimana jika besok aku akan mengantarmu ke kampus?" tawar Luhan Matanya melihat sepintas pada dada Rara, perhatikan baik-baik bentuk kedua benda yang masih tertutupi kemeja itu.
__ADS_1
"Ti tidak perlu Luhan!" Rara menolak dengan cepat.
"Kenapa?"
"A aku tidak ingin merepotkan orang lain" Rara menundukkan kepalanya, dia sedikit canggung jika memandangi wajah Luhan
"Aku ingin kau menghubungiku nanti malam, kau masih menyimpan nomor teleponku bukan?" Luhan meletakkan tangannya untuk menyentuh helaian rambut yang menutupi wajah manis Rara
"Iya Luhan" Rara berusaha meneguk ludahnya ketika merasakan tangan Luhan yang memainkan rambut panjangnya,
"Kita tidak benar-benar dekat, kenapa aku harus menelponnya!" batin Rara
"Sampai jumpa lagi Rara" Luhan mendekatkan wajahnya pada wajah Rara, sontak Rara sedikit memundurkan wajahnya agar menjauh dari wajah Luhan.
"Lu Luhan" Rara dapat merasakan hembusan napas Luhan diwajahnya.
"Aku harap, bahkan sangat berharap agar kita bisa bertemu lagi" bisik Luhan pada telinga kiri Rara
"I-iya" Rara sudah bisa merasakan bahwa dia sudah seperti kepiting yang baru saja direbus.
" Bye" Luhan memacu gas dan pergi meninggalkan Rara yang masih diam mematung.
"Ya tuhan, jangan pertemukan aku dengan dirinya lagi," gumam Rara takut
"Aku pulang!" Teriak Rara setelah memasuki rumah
"Eh Ra, kau sudah pulang?" Ujar Nadia yang sedang nonton Tv
"Latika mana?"
"Dia pergi kencan dengan sepupu ku!"
"Benarkah? Apa hubungan mereka sudah sedekat itu!"
__ADS_1
"Entahlah!"
"Terus Reyhan mana?" Tanya Rara lagi saat ia tidak melihat siapapun di rumah kecuali Nadia