
Yurika telah membuat janji dengan tuan Boy untuk melunasi semua hutang- hutang ayahnya. Di sebuah bangunan tua yang juga dijadikan markas genk mereka. Bangunan kokoh, kuat dengan halaman yang cukup luas. Terlihat banyak pohon- pohon besar di sana, menambah kesan angker namun cukup mentereng walaupun bangunan itu sudah kuno.
Di depan rumah yang memiliki arsitektur kuno itu ada dua orang yang berpakaian preman telah berjaga di sana. Yurika sesaat masih terlihat ragu- ragu untuk masuk ke dalam. Dua preman yang telah berjaga di sana langsung mendekati Yurika dan mempertanyakan keberadaan nya di tempat itu. Tempat yang menjadi markas mereka berkumpul.
" Hai gadis kecil, apa yang sedang kamu lakukan di sini? Apakah kamu sedang mencari ibu kamu disini?" tanya salah satu preman itu bertanya. Lalu gelak tawa yang terbahak-bahak keluar dari mulut temannya lalu diikuti oleh dirinya yang tertawa lantang. Yurika mengernyitkan dahinya.
" Om, saya ingin menjumpai tuan Roy!" kata Yurika. Kedua preman itu terkekeh dan saling mengejek karena telah dipanggil om oleh anak ingusan seperti Yurika. Yurika masih berusia 20 tahun. Usia yang masih sangat muda dan segar. Pasti sangat lincah dan bersemangat jika diajari dengan permainan di atas ranjang.
Pikiran nakal kedua preman itu sudah mulai menari- nari di otak mereka. Mereka sudah penat dengan pekerjaan nya yang keras dan penuh tantangan. Kedua preman itu ingin bersenang- senang.
" Ada kepentingan apa mencari bos kami?" tanya salah satu preman itu.
" Jadi tuan Roy adalah bos kalian?" sahut Yurika.
" Benar!" ucap kedua preman itu secara bersamaan.
" Apakah ada, tuan Roy di dalam?" tanya Yurika.
" Kamu belum menjawab pertanyaan kami. Apa kepentingan kamu mencari bos Roy? Lebih baik kamu bersenang- senang dengan kami terlebih dahulu. Bukankah kami lebih muda dan segar dibandingkan dengan bos Roy?" ucap salah satu preman itu lalu dibenarkan oleh kawannya.
" Maaf! Aku tidak ada kepentingan dengan kalian, om!" ucap Yurika. Kedua preman itu terkekeh.
Tidak jauh dari tempat Yurika berada, Yoyo dengan Bramantyo telah mengikuti dan mengintai gerak- gerik Yurika yang akan membayar hutangnya. Namun Bramantyo dengan Yoyo sengaja tidak ikut campur dalam masalah Yurika. Namun jika ada masalah yang timbul dan kelompok preman itu berlaku tidak baik dan melewati batas, Bramantyo dan Yoyo akan bertindak.
__ADS_1
Yurika sudah tidak sabar meladeni kedua preman yang berjaga di rumah itu. Yurika lalu menghubungi tuan Roy yang dimaksudkan. Tuan Roy sengaja memberikan kontak orang kepercayaannya jika Yurika hendak membayar hutangnya. Tidak berapa lama, salah satu preman keluar dari bangunan kuno itu dan menyuruh Yurika masuk ke dalam.
" Silahkan gadis kecil! Tuan Roy sudah menunggu di dalam." kata preman yang baru saja keluar dari bangunan itu. Yurika mengikuti kata preman itu. Namun sebelumnya Yurika mulai berpikir jahil dan ingin memberikan pelajaran kepada kedua preman yang berjaga itu.
" Oh iya, aku akan menyampaikan ke tuan Roy jika kalian berdua sudah berperilaku tidak sopan terhadap aku." ancam Yurika. Kedua preman itu langsung berubah wajahnya menjadi pucat karena ketakutan.
" Jangan gadis kecil! Kami hanya bercanda saja tadi." sahut salah satu preman itu lalu dibenarkan dengan temannya.
" Apakah dua penjaga itu menggoda kamu, gadis kecil?" tanya preman yang tadi disuruh menjemput Yurika di gerbang. Yurika mengangguk cepat.
" Kalian! Tono dan Toni, setelah ini bersihkan toilet di belakang rumah itu sampai bersih." suruh preman itu. Kedua penjaga itu tidak berani membantah dan segera melaksanakan tugas dan perintah itu secara bergiliran.
Yurika mengikuti langkah preman yang menjadi orang kepercayaan Roy itu masuk ke dalam rumah yang memiliki bangunan yang lama. Sedangkan Bramantyo dan Yoyo mulai menerka-nerka kemungkinan yang akan terjadi oleh Yurika di dalam.
" Kita tunggu saja! Kalau Yurika tidak keluar- keluar dari rumah itu kita bisa masuk menyelinap ke dalam. Aku pikir Yurika akan baik- baik saja. Gadis kecil itu cukup cerdas untuk membaca situasi walaupun di tempat yang bisa mengancam keselamatan dirinya." kata Bramantyo. Yoyo tidak membantah dan manggut-manggut saja tanda paham apa yang akan direncanakan tuan mudanya.
******
Yurika keluar dari bangunan lama itu dengan diantar oleh orang kepercayaan ketua markas itu. Yurika menarik nafas lega, bahwa dirinya dan ibunya saat ini benar-benar sudah terbebas dari hutangnya. Hutang yang ditinggalkan oleh ayahnya karena untuk menutupi defisit yang terjadi di perusahaan nya tatkala itu. Walaupun akhirnya perusahaan keluarga nya tidak bisa diselamatkan dari kebangkrutan. Sehingga semua aset- aset yang berharga ditarik dan disita oleh pihak bank karena tidak bisa membayar hutang- hutang.
Bramantyo dan Yoyo masih menunggu di dalam mobilnya. Yurika sudah berdiri di pinggir jalanan. Suara klakson mobilnya dibunyikan. Yurika mencari arah suara klakson mobil itu. Kaca mobil itu telah dibuka oleh Yoyo. Yoyo melambaikan tangannya kepada Yurika. Yurika mulai mengerti kalau dirinya tidak perlu memesan taksi untuk kembali ke rumah sakit lalu kembali ke lokasi syuting untuk bekerja.
Pintu mobil itu telah dibuka setelah Yurika dekat di mobil itu. Bramantyo bersikap cuek dan tidak perduli.
__ADS_1
Yurika masuk ke dalam mobil itu dan duduk di jok kursi belakang bersama dengan Bramantyo. Yurika melemparkan senyuman nya kepada Bramantyo.
" Untung saja Om Yoyo dan Om Bramantyo lewat dijalan ini. Aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk taksi." ucap Yurika dengan tawa kecilnya yang khas. Bramantyo cemberut dan tidak suka jika dipanggil dengan om. Yoyo menahan tawanya.
" Apakah uang yang aku berikan sudah habis? Kamu seperti terlihat miskin sekali." sahut Bramantyo. Yurika terkekeh sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
" Sudah, om! Semuanya sudah aku pakai buat membayar hutang- hutang ayah dan buat biaya berobat ibu di rumah sakit selama rawat inap. Ditambah membayar gaji perawat itu. Tinggal sedikit tabungan aku, itu untuk biaya makan kami selama satu bulan ini, om. Aku harus kembali kerja keras dan mabil peran walaupun bukan peran penting di sinetron itu." kata Yurika dengan semangat. Yoyo yang mendengar nya menjadi menahan tawanya karena tuan mudanya dipanggil om secara terus menerus oleh Yurika.
" Jangan panggil aku, om! Ingat itu!" bentak Bramantyo.
" Baiklah! Kalau begitu, boleh kah aku memanggil dady?" tanya Yurika dengan wajah polosnya.
" Tidak! Panggil aku seperti semalam." kata Bramantyo.
" Semalam?" sahut Yurika sambil mengingat kembali.
" Baiklah, Aku tahu! Sekarang aku harus memanggil apa." kata Yurika dengan percaya diri.
" Coba panggil aku!" suruh Bramantyo pelan. Namun Yoyo masih bisa mendengarkan nya.
" Tuan muda!" sebut Yurika. Bramantyo seketika menahan tengkuk Yurika lalu menciumnya. Yoyo pura- pura tidak melihat nya dari kaca spion depan. Yoyo tetap menjalankan mobilnya. Yurika tidak bisa bernafas karena ciuman Bramantyo itu. Tangannya menepuk lengan Bramantyo untuk menghentikan ciuman nya. Yurika baru mengingat nya, panggilan apa yang diinginkan oleh laki-laki dewasa dan matang ini.
" Bang Tyo! Maaf, seharusnya aku mengingat panggilan ini. Mungkin kepala ku penuh dengan hafalan dialog yang harus aku peran kan. Sehingga aku melupakan panggilan itu. Maaf, bang Tyo." kata Yurika. Bramantyo tersenyum menyeringai.
__ADS_1