HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
BAGAIMANA JATUH CINTA?


__ADS_3

Setiap hari Citra datang ke rumah Satria Piter untuk merawat nenek Hindun. Nenek Hindun lebih dekat dengan cucu ke duanya itu, Satria Piter. Karena kedekatan itu lah Satria memilih Citra untuk mendampingi dirinya di pesta waktu itu di rumah kediaman tuan Piter.


Karena Satria sedikit memaksa Citra untuk ajakan pesta itu dan meminta Citra mengaku sebagai kekasih Satria di depan mami papinya, akhirnya Citra mulai memerankan sebagai kekasih Satria Piter.


Mami Egi dan papi Egi tidak setuju jika Satria memilih Milar sebagai istrinya. Makanya Satria tidak menggandeng Milar saat pesta kecil bersama kelima saudara nya yang lain saat itu.


Siang ini Citra sudah berada di rumah Satria untuk menjaga nenek Hindun sekaligus menjaga neneknya Satria Piter itu. Lebih tepatnya nenek dari kelima Putra Piter namun nenek Hindun lebih suka tinggal bersama Satria. Entah apa penyebabnya, mami dan papi Piter pun juga tidak tahu alasannya.


" Ayo nenek sedikit lagi makannya." rayu Citra seraya menyuapi nenek Hindun yang kini menjadi sangat manja dengan Citra selain Satria sendiri.


"Sudah cukup Citra! Nenek minta disuapi Satria." ucap nenek Hindun. Citra melihat anak tangga yang menghubungkan lantai dua dimana Satria saat ini sedang bersama Milar. Entah apa yang dilakukan Satria bersama Milar. Namun Citra menjadi sesak dada nya. Dirinya tiba-tiba sakit hatinya ketika melihat Satria tadi datang bersama dengan Milar. Padahal ketika dipesta itu Satria sudah memperkenalkan Citra kepada mami papi nya sebagai calon istrinya.


" Kamu panggilkan Satria! Nenek mau makan siang! Pokoknya nenek mau makan jika disuapi olehnya." kata nenek Hindun.


" Tapi Satria saat ini sedang sibuk nek!" sahut Citra.


" Satria sibuk apa? Nenek tadi baru saja melihat Satria datang bersama wanita yang tidak seperti pakai baju. Wanita yang tidak punya sopan santun dan aklaqnya." kata Nenek. Citra yang mendengarnya menjadi menahan tawanya.


" Tapi wanita itu sangat cantik loh, nek. Nenek tidak boleh begitu. Satria sangat menyukai wanita itu. Bahkan wanita tadi akan menjadi istri Satria." ucap Citra. Nenek Hindun seketika mengerucutkan bibir nya.


" Nenek tidak suka wanita yang bersama Satria tadi. Pokoknya calon istri buat cucuku Satria adalah kamu, Citra. Satria harus menikah dengan kamu." protes nenek Hindun. Citra mengerutkan dahinya.


" Tetapi nek, Satria tidak mencintai aku. Ini tidak mungkin. Menikah kalau tidak di dasari dengan cinta tidak akan bahagia." ucap Citra.

__ADS_1


" Nenek tahu itu, Nenek yakin Satria juga mencintai kamu Citra. Walaupun saat ini Satria belum menyadari hal itu." kata nenek Hindun. Citra terdiam beberapa saat.


" Ya sudah panggilkan Satria kemari. Nenek mau makan. Nenek mau makan jika disuapi oleh Satria." perintah nenek Hindun. Citra segera naik ke anak tangga dan menuju kamar utama Satria. Citra takut jika dirinya akan menggangu kegiatan pribadi yang dilakukan Satria bersama Milar.


Citra sudah berdiri di depan pintu kamar Satria. Sayup-sayup Citra mendengar suara yang membuat dirinya merinding seketika. Namun tangannya sudah terlanjur mengetuk pintu kamar itu beberapa kali. Citra semakin mendengar dengan jelas suara Milar yang mengeluh disertai suara yang seperti kepedesan.


" Apa yang dilakukan oleh mereka berdua. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam kamar mereka?" pikir Citra. Maklum saja Citra saat ini masih berumur 21 tahun, masih polos dan perawan Ting-ting.


Tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh penghuni nya. Citra sangat terkejut dengan pemandangan indah dan menggoda matanya itu. Citra seketika menutup matanya tatkala melihat Satria dengan bertelanjang dada dan hanya melilitkan bagian bawah nya dengan handuk.


" Hai kamu! Ada apa, menganggu kesenangan aku saja! Masih nanggung tahu!"protes Satria. Citra membuka matanya sebentar lalu melirik ke dalam kamar milik Satria. Citra melihat Milar masih di atas kasur empuk kamar Satria dengan berbalutkan selimut di badan nya.


" Citra! Ada apa kamu mengetuk pintu kamarku?" tanya Satria yang kemudian membuyarkan dirinya yang terbengong.


" Baiklah, tunggu sebentar lagi. Kamu pergi lah! Aku akan menyelesaikan dengan cepat. Kamu ini benar-benar merusak kesenangan aku." ucap Satria. Citra mengerutkan dahinya. Satria dengan cepat menutup pintu kamarnya dengan keras. Milar yang masih di dalam kamar seketika menjadi terkejut.


" Ada apa sayang?" tanya Milar.


" Nenek gak mau makan, mintanya aku yang nyuapi dirinya. Kamu pulang lah! Lain saja kita lakukan ini . Seketika moodku hilang." kata Satria lalu mulai mengenakan kaos oblong dan celana pendek nya.


" Baiklah! Tapi sebulan ini aku tidak bisa kamu booking, aku ada fashion show di beberapa kota- kota. Kamu jangan lupa transfer ke rekening ku untuk hari ini." kata Milar. Satria tersenyum sinis.


" Entahlah, Lama-lama aku semakin muak dengan kamu. Kamu lebih mengutamakan karir kamu dari pada aku." protes Satria.

__ADS_1


" Sayang! Bukannya ini sudah menjadi kesepakatan kita bersama? Kita melakukan nya suka sama suka dan simbolis mutualisme. Kamu makai aku, kamu bayar aku. Sudah gitu saja." jelas Milar.


" Oke, Oke! Cepatlah pergi, aku mau menyuapi nenek aku." kata Satria. Milar bergegas mengenakan pakaian nya tanpa mandi terlebih dahulu. Satria keluar dari kamarnya diikuti oleh Milar.


" Aku pulang, sayang!" ucap Milar di depan nenek Hindun sambil mencium Satria. Milar berjalan melenggang keluar dari ruangan itu. Nenek Hindun dan Citra menatap Milar dengan pikiran yang berbeda.


" Nenek mau makan apa?" tanya Satria penuh perhatian. Citra sesaat menatap Satria dengan tatapan tidak percaya. Laki-laki yang terlihat kekar dan keras itu bisa lembut dan menaklukkan hati neneknya.


" Bubur ayam!" jawab Nenek Hindun. Satria menatap Citra. Citra segera mengambilkan bubur ayam yang sudah dibuatkan oleh asisten rumah tangga di rumah Satria itu. Citra menyerahkan mangkok berisi bubur ayam itu kepada Satria. Satria segera menyuapi nenek Hindun dengan pelan dan sabar.


" Satria yang ganteng! Kenapa kamu suka sekali bermain- main dengan wanita nakal seperti wanita tadi? Apakah kamu tidak takut jika kamu nanti kena penyakit yang ditularkan oleh wanita tadi." ucap nenek Hindun. Satria seketika memerah wajahnya karena malu, lantaran ada Citra yang masih di sana. Citra yang mengetahui keberadaan nya di sana tidak tepat, segera pergi menjauh dari mereka.


" Eh, nenek! Milar itu hanya melakukan nya dengan aku saja, nek. Jadi Milar tidak akan memiliki penyakit yang aneh yang dimaksudkan oleh nenek." ucap Satria.


" Mana kamu tahu dengan pasti, diakan model! Bisa saja dia melakukan nya dengan fotografer atau orang yang berduit yang menghendaki dirinya." sahut nenek Hindun. Satra mulai berpikir dengan ucapan neneknya.


" Lebih baik kamu mencari istri dan tinggalkan kebiasaan kamu yang suka berganti wanita-wanita. Tetapkan hati kamu hanya dengan satu wanita saja, yang akan menjadi istri kamu. Wanita yang akan mendampingi kamu sampai tua nanti." kata nenek Hindun.


" Nenek tahu tujuan papi mami kamu menyuruh kalian segera menikah salah satu nya untuk ini. Kalian harus mulai bertanggungjawab atas diri kalian sebagai laki-laki. Mulai disiplin dalam gaya hidup. Pikirkan ini Satria!" ucap nenek Hindun. Satria terdiam mendengar ucapan neneknya itu. Satria mengambil bubur ayam itu dengan sendoknya dan menyuapi nenek dengan pelan.


" Kamu ganteng Satria! Apakah di dalam hati kamu belum ada rasa cinta untuk seorang wanita yang akan kamu jadikan sebagai istri kamu?" tanya nenek Hindun. Satria kini mulai mencari keberadaan Citra.


" Entahlah nek! Aku tidak tahu pasti, bagaimana rasanya jatuh cinta itu." sahut Satria.

__ADS_1


" Bodoh! Jatuh cinta itu jika kamu didekat nya akan merasa nyaman dan tenang. Jika kamu jauh, kamu pasti akan rindu. Ada getaran aneh ketika bertemu. Ada juga cemburu jika orang itu lebih dekat dengan yang lain." kata nenek asal. Satria terkekeh mendengar nya.


__ADS_2