HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
SUDRA PITER


__ADS_3

Di lain tempat.


Sudra Piter adalah anak ke-tiga dari Tuan Piter dengan istrinya mami Egi. Sudra Piter ini berbeda dengan putra Tuan Piter yang lainnya. Sudra tidak suka berpacaran dan bermain wanita. Dari bangku sekolah dan bahkan diusianya yang sudah 27 tahun itu belum satu kali pun berpacaran. Benar-benar laki-laki aneh di mata saudara yang lain. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi saudara nya yang lain. Apakah Sudra ini benar-benar normal menyukai lawan jenisnya atau menyimpang dari kelainan secara seksual. Pernah sesekali saudara mencoba mengunci Sudra di sebuah kamar dan kamar itu sudah ada seorang wanita dewasa yang seksi. Wanita itu tentu saja sudah di boking untuk menggoda Sudra. Namun bukannya mendapatkan perlakuan yang lembut dan hangat dari Sudra, wanita itu malah dikerjai habis- habisan dengan Sudra. Wanita itu diikat kaki dan tangannya supaya tidak bisa berulah dan menggoda Sudra. Sampai akhirnya pintu kamar itu dibuka oleh saudara laki-laki nya yang lain, di keesokan harinya semua saudara nya sangat tercengang. Pasalnya wanita yang sudah di bayarnya itu diikat kaki dan kanannya serta wajahnya di corat-coret dengan pewarna. Dan yang lebih parah lagi, rambutnya pun juga di acak- acak dengan cat minyak yang Sudra temukan di dalam lemari kamarnya itu. Cat untuk melukis. Benar, Sudra suka melukis.


@@@@@@@


Di lain tempat di salah satu keluarga yang rumit.


"Sonia! Mau tidak mau kamu harus menikah dengan pria itu! Kamu harus rela berkorban supaya perusahaan milik papi kamu tidak menjadi bangkrut." kata Maria si ibu tiri dari Sonia.


Papi kandung Sonia hanya diam membisu tidak bersuara. Papi Sonia hanya menghisap barang rokoknya sampai puntung rokok itu memenuhi asbak yang berada di atas meja.


Maria dan Mirna hanya terlihat menangis tersedu- sedu, jika membayangkan harus angkat kaki dari rumah besar bak istana itu.


Mirna adalah adik tiri dari Sonia. Mami tiri dan adik tirinya mungkin saja akan bersedih ketika perusahaan itu harus bangkrut dikemudian hari. Mereka tidak akan bisa lagi berbelanja dan memenuhi segala trend busana, tas, dan perhiasan. Kehidupan selama ini sudah cukup membuat mereka sangat berfoya-foya dan tanpa kekurangan. Jika harus meninggalkan rumah mewah itu dan kembali ke kehidupan miskin sebelum mereka di nikahi oleh papi Sonia, mereka mungkin akan lebih memilih mati dibanding harus hidup sengsara kembali.

__ADS_1


" Kak Sonia! Kamu harus menikah dengan pria itu, kak. Seandainya saja usia aku sudah cukup, mungkin saja akulah yang akan menikah dengan pria itu. Walaupun menurut kabar yang diterima pria itu sangat buruk rupa." kata Maria sambil menangis tersedu- sedu.


" Betapa baiknya kamu, Maria! Kamu yang bukan anak darah daging ku bisa berpikir dan mau berkorban kepadaku." sahut papi Sonia yang bernama Sujatmico.


" Sial! Ibu dan anak pandai sekali berakting hingga papi ku begitu mempercayai mereka berdua." batin Sonia penuh kedongkolan.


" Baik! Baik! Aku mau menikah dengan pria itu! Puas kalian!" kata Sonia sambil berlalu dan meninggalkan mereka semua.


" Sonia! Mau kemana kamu!" teriak papi Sujatmico.


" Sonia!" panggil Papi Sujatmico.


Sonia hanya menoleh atas panggilan papinya itu. Langkahnya sesaat terhenti. Dalam hatinya sungguh penuh kemarahan. Kenapa semenjak mami kandungnya meninggal dunia hidupnya menjadi seperti ini. Papinya tidak pernah menghargainya lagi. Papinya hanya mengutamakan mami tiri dan adik tirinya. Dirinya? Sonia akhirnya hanya menerima nasibnya yang tersingkirkan oleh kedua wanita itu.


" Ada apa papi?" tanya Sonia.

__ADS_1


" Terimakasih banyak atas keputusan ini. Kamu mau menikah dengan pria itu. Besok pagi, ada yang akan menjemput mu. Lusa kamu langsung bisa menikah dengan pria itu." kata Papi Sujatmico.


" Apa? Secepat itu?" tanya Sonia terlihat membulat bola matanya. Saking terkejut nya sampai mau terlepas bola matanya.


" Sonia! Kamu akan hidup lebih bergelimang harta benda jikalau menikah dengan pria itu. Walaupun pria itu buruk rupa." kata mami tiri Sonia, Maria.


" Baiklah! Tidak masalah! Lebih cepat lebih baik. Aku akan meninggalkan rumah ini. Rumah yang sudah memberi banyak kenangan indah bersama mami kandung aku. Dan seperti nya aku memang diusir secara halus oleh kalian." kata Sonia penuh dengan emosi.


" Sonia! Tidak anakku! Kami tidak bermaksud begitu." sahut Mami Maria.


" Benar kakak! Kami sangat menyayangi kakak. Kami tidak mungkin bermaksud untuk mengusir kakak. Kakak bisa datang ke rumah ini kapan pun kakak mau. Benarkan papi?" ucap Mirna.


" Iya, Sonia! Berlaku sopan lah kamu terhadap mami kamu. Jangan menuduh dia yang tidak- tidak. Mami Maria sungguh- sungguh menyayangi kamu. Kamu harus tahu itu, sayang!" kata Papi Sujatmico.


" Oke! Oke! Aku percaya itu! Baiklah, aku mau istirahat. Jangan lagi mengganggu aku." sahut Sonia sambil kembali menaiki tangga menuju ke kamarnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2