
" Pi, kenalkan ini Sonia! Sonia ini papi dan mami aku." kata Sudra. Pak Piter dan mami Egi menjulurkan tangannya ketika Sonia sopan bersalaman dengan kedua orang tua Sudra itu.
" Mami, papi, saya Sonia." kata Sonia. Mami Egi tersenyum seraya menatap wajah Sonia tak berkedip.
" Kamu sangat cantik sekali, duduk lah Sonia!" kata Mami Egi.
" Iya, dong istri aku!" sahut Sudra. Pak Piter menyenggol perut Sudra. Sudra meringis dibuatnya.
" Tumben sepi rumah ini Pi, kakak- kakak tidak ada satupun yang datang kemari." kata Sudra.
" Mereka masih gencar mencari calon istri seperti kamu, Sudra. Lagian siapa yang menyuruh kamu menikah duluan tanpa kami mengetahuinya. Bahkan pesta yang meriah pun tidak kamu lakukan. Maksud kamu apa, hah? Kamu seperti nya sudah tidak menganggap papi dan mami ada." protes Pak Piter. Mami Egi membenarkan kata-kata suaminya.
__ADS_1
" Kamu jahat sekali, nak! Apakah kamu tidak mencintai istri kamu ini. Bahkan mami lihat perhiasan yang melekat di badannya saja tidak ada." ucap Mami Egi seraya melihat penampilan Sonia dari ujung kepala sampai kaki. Sonia menjadi tertunduk.
" Eh, bukan seperti itu maksud aku mami! Nanti rencana aku, pesta pernikahan serentak dengan kakak- kakak yang lain. Seperti pesta pernikahan masal gitu loh mi." alasan Sudra. Pak Piter mulai berpikir.
" Boleh juga ide kamu, Sudra! Lagi pula sampai sekarang belum ada kabar dari kakak kamu Bramantyo dan juga Satria. Kalau adik kamu, Hanom dan Raja papi dan mami maklumi jika mereka masih belum ingin menikah." kata Pak Piter.
" Maaf, Sonia! Kamu yang sabar yah menghadapi putra nya mami. Mungkin Sudra berbeda dengan putra mami yang lain. Sudra selain belum pernah mengenalkan cewek-cewek nya kepada kami. Sudra dikenal oleh kakaknya seperti takut jika berhubungan dengan wanita. Tapi ini kenapa tiba- tiba Sudra malah lebih dahulu menikah nya dibandingkan Bramantyo dengan Satria?" kata Mami Egi.
" Mungkin Sonia bisa dengan mudah menaklukkan Sudra." sahut Pak Piter. Sonia tersipu malu.
" Halah, kamu ini! Sudah naik saja ke kamar kalian dan beri kami cucu segera." kata papi Piter. Sonia sontak memerah wajahnya.
__ADS_1
" Memangnya bikinnya tidak butuh tenaga?" protes Sudra.
" Halah, apa perlu papi ajari kamu?" sahut Pak Piter.Mami Egi mencubit pinggang Pak Piter dengan cepat.
" Ayo, Sonia! Aku akan tunjukkan kamar kita." ajak Sudra seraya menggandeng Sonia dengan lembut.
" Tunjukkan kamar kamu atau belalai kamu?" protes Pak Piter. Mami Egi kembali mencubit Pak Piter.
" Mami, juga pingin yah, dari tadi cubit papi melulu." goda Pak Piter.
" Papi ini kalau di depan anak- anak kita, mbok yah tunjukkan marwahnya dong! Wibawa dikit. Malu kalau menantu kita menilai mertuanya genit." ucap Mami Egi.
__ADS_1
" Mami, kita ini sudah menjadi keluarga. Jadi menantu kita juga sudah menjadi anak kita juga. Ayo, kita masuk ke kamar kita." ajak Papi Piter seraya menarik tangan Mami Egi.
Setiba nya di kamar utama Tuan Piter. Mami Egi segera disergap oleh tuan Piter tanpa ampun. Mami Egi yang berlarian di dalam kamar itu, akhirnya mengaku menyerah dan akhirnya dengan mudahnya Tuan Piter mengeksekusi Mami Egi dengan serangan yang membabi buta tanpa ampun dan perlawanan.