
Tiba di depan rumah kontrakan Lavina.
" Terimakasih banyak, kamu sudah mengantarkan aku sampai rumah." ucap Lavina. Dedy tersenyum menatap Lavina yang sedang melepaskan sabuk pengaman nya.
" Jadi, kamu hanya mengucapkan terimakasih saja tidak menawari aku untuk singgah di rumah kamu?" kata Dedy.
" Eh, em, kamu mau singgah ke rumah ku? Apakah kamu kehausan dan ingin makan gratis di sini?" sahut Lavina. Dedy terkekeh mendengar nya.
" Iya dong! Aku sudah mengantarkan kamu, apakah tidak ada bayaran dari kamu?" kata Dedy. Lavina memutar bola matanya jengah. Dalam benak Lavina mungkin muncul pikiran, di mana- mana seorang laki-laki jika berbuat baik dengan seorang wanita, pasti ada udang di balik bakwan. Eh, bukan bakwan, melainkan ada udang di balik sambel pete.
" Yo, weslah kalau mau singgah! Ayolah turun dari mobil kamu." ucap Lavina akhirnya. Dedy tersenyum dan turun dari mobil nya. Keduanya berjalan dan masuk ke rumah kontrakan Lavina.
" Duduklah dulu, aku mau ganti baju dulu." ucap Lavina kumat medok bahasa Jawa nya. Dedy duduk di ruangan tengah rumah kontrakan yang terbilang sangat sederhana banget. Dedy mengamati tempat tinggal kontrakan Lavina saat ini. Beberapa hiasan dinding yang 'enggak banget' menurut nya. Ditambah tanaman hidup yang menjalar diletakkan di dalam bekas botol dengan air di dalamnya. Dedy tersenyum saja dengan semua itu.
Lavina keluar dari dalam kamarnya, dengan baju santainya. Dedy melongo saja dengan tampilan Lavina yang seperti anak remaja. Akhirnya Dedy tersenyum menatap Lavina yang saat ini mengenakan kaos yang bergambar spongbob dipadu dengan celana joger tiga perempat.
" Kamu mau aku buatkan kopi atau teh manis panas?" kata Lavina memberikan pilihan.
" Hanya itu saja yang kamu tawarkan? Aku ingin es jeruk." ucap Dedy. Lavina memutar bola matanya lalu duduk di kursi ruang tengah itu.
" Kamu pikir di sini, aku jualan hah? Aku hanya menawarkan kepada kamu antara kopi atau teh panas aja. Aku tidak menawarkan es jeruk." sahut Lavina. Dedy pura-pura menunjukkan muka datarnya, padahal dirinya menahan tawanya jika Lavina sedang mengomel.
" Aku hanya bilang ingin es jeruk saja, kok. Aku tidak menyuruh kamu membuatkan untuk aku. Duduklah dulu, tenangkan pikiran kamu. Kamu mungkin gugup yah, ketika menghadapi pria tampan yang berkunjung ke rumah kamu." ucap Dedy. Lavina melebar bola matanya mendengar Dedy berkata seperti itu dengan percaya dirinya.
" Eh?" Lavina mau memprotes tapi Dedy masih belum berhenti berkomentar mengenai dirinya.
" Kamu ini asisten pribadi dari salah satu tuan muda keluarga Piter, namun rumah tempat tinggal kamu, jauh dikatakan layak. Apakah bos kamu memberikan gaji kepada kamu dibawah pendapatan minimum?" kata Dedy. Lavina menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
" Eh, sebenarnya gajiku banyak dari pak Raja. Tetapi aku tabung. Selain itu aku harus memikirkan saudara- saudara dan keluarga ku di sini." kata Lavina. Dedy mengerutkan dahinya.
" Saudara- saudara dan keluarga kamu di kota ini juga?" tanya Dedy. Lavina menganggukkan kepala.
" Aku di besarkan di panti. Kini aku harus mengurus adik- adik aku yang masih tinggal di panti. Jadi, menurut aku, rumah kontrakan ini pun sudah sangat mewah bagi aku. Apalagi rumah kontrakan sebesar ini, hanya aku saja yang menempati." kata Lavina.
" Besar?" sahut Dedy.
" Iya, besar! Kalau aku sendiri yang tinggal, rumah kontrakan ini sangat sepi sekali.
__ADS_1
" Baiklah, aku mengerti! Oh iya, aku sangat tertarik dengan cerita kamu kalau kamu selama ini masih memikirkan saudara- saudara kamu yang berada di panti. Kapan kamu akan mengajak ku ke sana?" kata Dedy.
" Kamu ingin ke panti? Untuk apa?" tanya Lavina.
" Ingin berkenalan dengan saudara- saudara kamu di sana. Dan jika boleh aku ingin ikut membantu mereka, adik- adik kamu yang masih di panti itu." ucap Dedy. Lavina tersenyum mendengarnya.
" Hem, aku hari sabtu ada rencana pulang ke panti. Kalau aku mengajak kamu, aku tidak bisa menginap. di sana dong." kata Lavina. Dedy memutar bola matanya jengah.
" Memangnya kamu mau mengajak aku menginap di panti juga?" sahut Dedy.
" Eh, bukan itu maksudnya. Kamu tidak bisa ikut menginap bersama dengan aku. Kamu harus pulang." kata Lavina polos.
" Iya, iya nanti aku tidak ikut menginap. Aku pulang. Memangnya di mana alamat panti asuhan itu? Apakah jauh dari sini?" tanya Dedy.
" Tidak jauh, hanya sekitar setengah jam dari rumah kontrakan ku ini." jawab Lavina. Dedy kembali memutar bola matanya jengah.
" Jauh pakai banget sekali yah!" sindir Dedy. Lavina yang melihat ekspresi Dedy yang terlihat malas itu menjadi terkekeh.
" Bicara dengan kamu, butuh ekstra kesabaran deh. Sepertinya kamu harus makan dulu, Lavina." kata Dedy.
" Iya, mungkin saja aku harus makan. Tapi aku harus masak dulu. Apakah kamu mau menunggu aku memasakkan untuk kamu?" sahut Lavina.
" Mentraktir yah? Tapi aku tidak biasa dapat gratisan." sahut Lavina. Spontan Dedy menarik hidung Lavina saking gemasnya. Lavina meringis dan mulai mengerucut bibirnya.
" Ayo, kita makan di luar saja. Aku akan mengajak kamu makanan yang enak." ajak Dedy.
" Makanan enak menurut kamu belum tentu bagi aku enak loh!" kata Lavina.
" Ya sudah, kamu ingin makan apa?" tanya Dedy.
" Aku mau capcay, iga bakar super gedhe, dan ayam goreng rasa bawang." ucap Lavina. Dedy mulai berpikir.
" Benar juga, aku tadi rencananya mau mengajak kamu ke masakan Jepang. Ya sudah, aku tahu tempat makan yang menyajikan makanan itu dan makanan yang aku inginkan saat ini." kata Dedy.
" Memangnya kamu ingin makan apa?" tanya Lavina.
" Nanti kamu juga tahu! Ayo, gantilah baju kamu! Aku tidak akan mengajak kamu dengan penampilan seperti anak- anak gitu." kata Dedy. Lavina memperhatikan penampilan nya saat ini.
__ADS_1
" Oke, baiklah! Dasarnya aku memang masih anak- anak kok. Beda dengan kamu, om Dedy. Penampilan nya macam bapak- bapak." sahut Lavina. Dedy mengerucut bibir nya.
" Aku ganteng gini? Dibilang penampilan nya seperti bapak- bapak?" gumam Dedy sambil melihat penampilan nya saat ini.
@@@@@@@
Di rumah Raja.
" Ini kamu harus mencobanya, Raja!" kata Alexa sambil memasukkan puding vla buatan nya dari sendoknya. Raja mulai mencicipi nya.
" Gimana, enak gak?" tanya Alexa.
" Lumayan! Tapi kamu yakin, ini tidak membuat perut aku sakit?" kata Raja. Alexa sekali manyun bibir nya. Raja terkekeh melihat ekspresi Alexa yang cemberut seperti itu.
" Maaf, aku hanya bercanda kok. Puding buatan kamu enak kok. Lebih tepatnya enak kalau tidak usah di makan." goda Raja. Alexa spontan mencubit pinggang Raja. Raja meraih tangan Alexa dan mencium punggung nya. Alexa mulai mendekati wajah Raja. Keduanya saling menatap. Akhirnya keduanya mulai menempelkan bibir mereka.
Prankkk (Suara benda jatuh)
Raja dan Alexa saling menjaga jarak. Raja mulai melihat ke sekitar nya.
" Siapa?" tanya Alexa.
" Pasti pelayan di rumah ini." jawab Raja.
" Lain kali jangan menciumku di ruang makan. Pelayan- pelayanku banyak yang masih gadis, mereka bisa patah hati jika melihat tuan mudanya sudah memiliki kekasih seperti kamu." ucap Raja. Alexa mendengus kesal.
" Mulai besok, ganti pelayan- pelayan di rumah kamu dengan wanita- wanita paruh baya. Supaya kamu tidak bisa genit lagi dengan mereka." ucap Alexa penuh ancaman. Raja tertawa lebar mendengar nya.
" Raja, kita keluar yuk!" ajak Alexa.
" Kemana?" tanya Raja.
" Makan!" jawab Alexa singkat.
" Semua makanan di atas meja yang sudah disiapkan oleh pelayan di sini, tidak ada yang bikin kamu berselera?" tanya Raja. Alexa mengangguk pelan.
" Baiklah, kamu mau apa?" tanya Raja penuh perhatian.
__ADS_1
" Apa saja yang penting makan di luar bersama dengan kamu." jawab Alexa.
" Oke, kali ini aku serahkan kamu untuk memilih tempat makan yang enak sesuai selera kamu." kata Raja akhirnya. Keduanya bergegas melangkah menuju bagasi mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumah elegan milik Raja.