
Raja Piter kini sudah duduk di ruangan yang bertuliskan ketua yayasan. Di ruangan nya yang berlantai tiga itu, Raja melihat ke bawah sana, dimana anak-anak berseragam sesuai tingkatannya sedang beristirahat setelah mengikuti pelajaran di kelasnya bersama guru yang mengajar. Raja kini mulai teringat waktu masih seperti anak-anak itu yang duduk di bangku sekolah. Ketika lamunan Raja sudah bertreveling dengan masa dulu, pintu ruangan nya diketuk oleh seseorang. Lalu masuk lah asisten pribadinya yang dengan setia mengikut Raja dalam setiap urusan.
" Ada apa Lavina?" tanya Raja sembari menengok ke arah Lavina yang hari penampilan nya terlihat berbeda. Raja melongo dengan perubahan yang terjadi dari Lavina baik make up wajahnya yang sedikit agak tebal maupun pakaian yang dikenakan nya terlihat sedikit terbuka. Lavina mendadak jadi salah tingkah dilihat terus oleh Raja. Wajahnya yang memerah dengan pemerah pipi semakin terlihat merona karena malu.
" Eh, ini saya hanya mengantarkan kopi untuk bapak Raja." ucap Lavina. Raja tersenyum mendapati Lavina yang terlihat grogi ketika dipandangi nya.
" Oh, iya terimakasih Lavina." sahut Raja akhirnya.
" Oh iya Lavina, mengenai gadis yang aku cari itu, kamu bisakah memanggilnya kemari?" kata Raja yang sudah tidak sabar ingin bertemu gadis yang sudah memenuhi ruang hatinya karena cinta nya yang dia pendam selama ini.
" Oh, gadis itu yah pak? Saya sudah mengeceknya hari ini di sekolah menengah pertama di yayasan ini, bu Alexa sedang tidak masuk, pak! Menurut surat ijin nya, bu Alexa sedang sakit." ucap Lavina menjelaskan secara serius. Raja sejenak memikirkan sesuatu.
" Bahkan tanpa aku suruh pun, kamu sudah memastikan keberadaan Alexa yang mengajar di yayasan ini. Bagus juga kerja kamu, Lavina." ucap Raja menilai.
" Sebenarnya ini lebih ke penasaran, pak! Aku sangat penasaran dengan gadis yang bapak cari itu seperti apa wajahnya. Cantik kah? Seksi kah? Aku seperti ada saingannya sekarang ini. Sampai kapan bapak, menyadari kalau aku sebenarnya juga, Diam-diam diam menyukai bapak." batin Lavina dengan menundukkan kepalanya.
" Lavina! Tolong temani aku belanja peralatan melukis. Seketika mood aku hilang berada di tempat ini." ucap Raja seraya mengambil dompetnya nya dan memasukkan nya di saku celananya.
" Eh, tapi ini kopinya pak!" ucap Lavina seraya mengambil cangkir kopi yang sudah dibuatnya dan menyodorkan nya ke bos nya itu. Raja menerimanya lalu meminumnya sampai habis karena sudah tidak terlalu panas.
" Kamu sudah paham betul selera kopi aku, Lavina." nilai Raja setelah menikmati kopi buatan Lavina. Lavina tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi putih nya yang rapi. Raja masih saja melihat tampilan Lavina yang berbeda bahkan sepatu nya pun kini tidak seperti biasa Lavina gunakan.
" Apakah kamu hari ini ada kencan?" tebak Raja sambil berjalan beriringan dengan Lavina. Lavina berusaha mensejajarkan langkah nya dengan bos nya itu.
" Tidak pak! Kencan dengan siapa? Bahkan saya belum memiliki kekasih." sahut Lavina sambil berjalan dengan langkah lebar mengikuti langkah Raja. Raja menjadi merasa bersalah membuat Lavina seperti memburu dirinya karena langkah kakinya terlalu lebar.
" Wanita secantik kamu, masak belum memiliki kekasih? Apakah laki-laki di dunia ini tidak seorang pun yang bisa melihat kecantikan kamu?" ucap Raja. Lavina terkekeh saja mendengar penutur bos nya.
__ADS_1
" Bahkan kamu pun tidak melihat itu semua dari aku loh, pak! Kalau kamu menilai aku cantik, kenapa Pak Raja tidak menjadikan aku kekasih pak Raja. Bukankah pak Raja juga belum punya pacar juga?" batin Lavina.
Sementara keduanya berjalan beriringan beberapa guru dan tata usaha memperhatikan keduanya dengan pandangan kagum akan kharisma yang ada dari Raja. Tentu saja ada mengagumi jika guru itu masih dalam status gadis dan belum menikah.
Hingga akhirnya Raja dan Lavina sampai di are parkir di halaman yayasan itu. Lavina membuka pintu mobilnya untuk bos nya. Namun Raja mengerut kan dahinya lantaran Lavina membukakan pintu mobil di bagian belakang.
" Apakah kamu yang akan menjadi sopir aku, Lavina?" tanya Raja. Lavina tersenyum saja atas pertanyaan Raja. Namun akhirnya Lavina menjawabnya.
" Bukankah aku ini asisten pribadi pak Raja? Jadi andalah bos saya. Sewajarnya saya melakukan semuanya untuk pak Raja." sahut Lavina.
" Lagipula, selama ini bukannya saya yang selalu mengemudikan mobilnya, pak?" tambah Lavina.
" Kemarin penampilan kamu tomboy. Sekarang kamu pakai rok macam itu. Apakah tidak membuat kamu nyaman, Lavina?" ungkap Raja.
" Tidak apa- apa pak!" sahut Lavina yang sudah duduk di kursi stir mengemudi. Raja keluar dari mobil itu dan membuka pintu samping pengemudi.
Raja menjalankan mobilnya setelah sabuk pengaman itu telah dipasang nya dan juga Lavina sudah memasang sendiri sabuk pengaman di tempat duduknya. Kembali Lavina merasa tidak nyaman duduknya di samping Raja. Kedua tangannya di atas pahanya berusaha menutupi nya. Tas kecilnya pun tidak bisa menutupi secara keseluruhan bagian paha mulusnya. Sesekali Raja melirik tingkah Lavina yang tidak nyaman itu.
" Kamu kenapa, Lavina?" tanya Raja pura- pura tidak tahu sambil tetap menjalankan mobilnya.
" Tidak ada, pak!" sahut Lavina cepat. Raja kini menepikan mobilnya setelah melihat tanda P yang artinya boleh parkir di area itu. Raja melepaskan jas yang dikenakan nya lalu memberikannya pada Lavina. Lavina melongo dengan semua itu.
" Ini untuk apa, pak?" tanya Lavina. Raja tersenyum melihat Lavina tiba-tiba terlihat imut wajahnya.
" Tutupi lah bagian paha kamu yang terbuka itu pakai jas aku." ucap Raja. Raja tanpa memperdulikan wajah Lavina yang malu dan berubah memerah tetap menjalankan mobilnya. Lavina kini menutupi bagian paha nya yang terbuka itu dengan jas milik Raja.
" Lain kali kalau kamu tidak nyaman mengenakan rok mini seperti itu, pakailah yang panjang dikit." kata Raja serius namun sebenarnya hatinya menahan tawa.
__ADS_1
" Iya pak!" sahut Lavina.
" Tapi, kalau boleh aku jujur menilai penampilan kamu. Aku menyukai kamu dengan penampilan sesuai karakter kamu." kata Raja.
" Saya ingin merubah penampilan saya yang selama ini terkesan tomboy, pak!" ucap Lavina.
" Kenapa? Apakah ada seseorang yang menjadi target kamu supaya bisa tertarik dengan kamu?" tebak Raja. Lavina sangat terkejut dengan tebakan Raja.
" Eh, ehmmm! Ti.. ti.. tidak ada pak!" sahut Lavina jujur.
" Seharusnya kamu tahu pak! Selama ini aku menyukai kamu, pak Raja. Tapi kamu menyukai gadia itu. Bahkan sudah bertahun- tahun tidak bertemu dengan Alexa pun, kamu tetap ingin mengejar nya." batin Lavina dengan mata yang berkaca. Lavina sedih dan sangat sedih jika mengingat akan hal itu. Dia menyukai laki-laki yang tidak menyukai dirinya. Bahkan laki-laki itu menyukai gadis lain.
" Lavina! Ayo kita sudah sampai! Kita turun, dan langsung ke peralatan melukis." perintah Raja. Lavina turun dari mobil itu dan mengikuti Raja berjalan masuk ke toko yang menjual peralatan melukis.
" Setelah ini seperti nya aku harus mengajak kamu ke butik sebentar." kata Raja. Lavina mengernyitkan dahinya.
" Itu membelikan pakaian untuk kamu, Lavina! Kamu terlihat tidak nyaman dengan baju yang kamu kenakan sedangkan aku akan mengajak kamu ke perusahaan papi aku, di perusahaan konstruksi." kata Raja.
" Eh, maaf Pak! Jadi merepotkan pak Raja. Ti.. tidak perlu pak. Saya akan berusaha bersikap senyaman mungkin dengan penampilan saya ini, pak! Besok saya tidak akan mengenakan pakaian yang sedikit terbuka seperti ini." ucap Lavina dengan menunduk. Namun kerena sepatu nya yang juga tidak nyaman membuat Lavina menjadi kurang keseimbangan lantaran langkah yang lebar dan cepat mengikuti bosnya. Lavina tersandung dan hendak jatuh, namun sebelum benar-benar jatuh Raja menangkap tubuh Lavina. Kedua pasang mata mereka saling bertemu. Jantung Lavina berdegup dengan kencang nya.
" Lain kali hati- hati dong, Lavina! Jangan sembrono lagi. Apakah kaki kamu terkilir?" tanya Raja yang memposisikan Lavina kembali berdiri.
" Ti..ti..Tidak pak! Terimakasih pak! Maaf, menjadi merepotkan pak Raja lagi." kata Lavina.
" Ya sudah, kamu duduklah di kursi itu! Biar aku saja yang masuk dan membeli peralatan lukisannya." perintah Raja. Lavina mengikuti apa kata bos nya.
" Aduh, hari ini aku benar-benar malu sekali." gumam Lavina yang kini sudah duduk menunggu Raja yang sedang berbelanja peralatan lukis nya.
__ADS_1