
Motor itu berhenti di depan rumah Gery,
" Kita tunggu di rumah ku saja!" ucap Gery. Hanom tanpa protes mengikuti Gery masuk ke dalam rumah Gery.
" Rumah kamu sepi." kata Hanom seraya duduk di sofa panjang di ruang tengah rumah Gery.
" Nyokap bokap lagi di luar kota. Saat ini aku dan adikku saja yang tinggal di rumah. Ditambah beberapa asisten rumah tangga." jelas Gery. Hanom melihat foto- foto keluarga Gery terpampang di dinding ruang tengah itu.
" Adik kamu cantik juga yah! Dia sudah punya pacar belum?" kata Hanom.
" Lofie! Adik aku bernama Lofie. Seperti nya Lofie belum punya pacar. Tapi jangan sekali- kali deketin adik aku. Adik aku masih perawan, tahu. Sedangkan kamu sudah celup celup dengan Sindi." ucap Gery vulgar.
" Hahaha sialan!" sahut Hanom. Gery tidak ikhlas jika adiknya kena rayuan gombal dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
" Aku sudah menghubungi Rika. Katanya sudah perjalanan ke rumah ku. Aku akan mengenalkan Rika padamu." kata Gery. Hanom tersenyum mendengar nya.
" Apakah Rika cantik? Coba lihat fotonya." kata Hanom.
" Cantikkan Lofie, adik aku." sahut Gery. Hanom terkekeh.
" Bahkan kamu menyembunyikan adik kamu untuk berkenalan dan berjumpa dengan aku. Kamu takut, jika adik kamu jatuh cinta dan terpesona dengan ketampanan aku?" ucap Hanom.
" Itu pasti! Siapa sih cewek yang berani menolak kamu?" sahut Gery.
" Kenapa? Itu Lofie adik kamu memanggil kamu dan minta tolong." kata Hanom. Gery menatap Hanom seperti minta tolong.
" Aku juga takut kecoa, Hanom! Bisakah kamu menolong adik aku." kata Gery memelas. Hanom sesaat terpingkal- pingkal mendengar nya.
__ADS_1
" Badan kamu saja yang gedhe tapi nyali kamu kecil. Di mana kamar Lofie?" tanya Hanom.
" Itu kamar ujung, di lantai dua." tunjuk Gery seraya menunjuk kamar Lofie yang berada di atas. Hanom segera menaiki anak tangga dan menuju kamar Lofie yang masih berteriak-teriak karena takut kecoak.
Lofie adiknya Gery terlihat sudah memucat ketika Hanom mulai masuk ke kamar Lofie.
" Kakak, tolong aku! Kecoak nya masih di bawah tempat tidur." ucap Lofie yang kini berdiri di sudut ruangan dan tidak bergeming di sana. Kakinya seperti lemas dan gemetaran. Hanom mendekati Lofie yang ketakutan. Lofie memeluk Hanom yang saat ini mendekat padanya. Hanom tersenyum penuh kemenangan. Hanom merasakan hangat ketika adik Gery itu memeluk nya. Betapa tidak, Lofie memiliki perhiasannya di dad@ nya yang berukuran lumayan besar, padat dan berisi. Mungkin saja ukuran nya jumbo. Ditambah bodynya begitu seksi dan menggoda. Lofie memiliki paras yang cantik, putih bersih. Hanom seperti mencari kesempatan dalam kesempitan itu.
" Tenang, Lofie. Sebentar lagi kecoak nya akan kakak habisi. Kamu tenang yah." ucap Hanom seraya mengusap kepala Lofie. Bau tubuh Lofie benar- benar wangi sekali. Hanom seraya dihipnotis. Sampai beberapa lama Lofie dalam posisi itu, dalam pelukan Hanom. Sampai akhirnya keduanya terkejut ketika Gery menipuk kepala Hanom dengan botol plastik hingga mengenai kepala Hanom
" Hai kamu ngapain peluk- peluk adik aku, hah? Lofie, ayo!" kata Gery seraya melepaskan pelukan itu dan menarik tangan Lofie.
" Kakak Gery, masih ada kecoak nya di bawah tempat tidur itu." kata Lofie. Lofie dituntun keluar oleh Gery, sang kakak. Sedangkan Hanom mulai dengan aksinya memburu kecoak yang membuat Lofie takut.
__ADS_1
" Hanya kecoak seperti ini, kalian takut??" kata Hanom setelah menangkap satu kecoak itu dan mendekat kan ke dekat adik dan kakak itu. Entah kenapa tiba-tiba Gery dan Lofie jatuh terkulai tak sadarkan diri.
" Hahaha.. Gery badan kamu saja yang Gedhe. Tapi takut dengan kecoa. Hahaha." Hanom menjadi tahu kalau Gery takut dengan kecoak. Benar-benar takut.