HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
HARUS MENIKAH


__ADS_3

Di dalam kamar tamu itu. Citra masih membisu. Satria mulai menyuapi Citra.


" Makanlah! Aku tidak ingin melihat kamu kelaparan karena tidak bisa keluar dari kamar ini." kata Satria sambil memasukkan sendok yang berisi makanan itu. Citra membuka mulutnya. Satria tersenyum melihat Citra mengunyah makanan itu dan menelan nya.


" Setelah kenyang, kamu bisa tidur lagi. Besok pagi pasti pintu nya dibuka oleh seseorang yang telah mengunci kita di sini." ucap Satria. Citra mengernyitkan dahinya.


" Sebenarnya siapa yang telah mengunci kita di dalam kamar sini?" tanya Citra. Satria mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.


" Entahlah, aku juga tidak tahu!" jawab Satria bohong. Satria tidak ingin kejahilan neneknya diketahui oleh Citra. Walaupun Satria yakin jika semua itu adalah ulah dan rencana neneknya.


" Aku sudah kenyang!" kata Citra. Satria berhenti menyuapi Citra dengan makanan itu.


" Tidur saja kamu!" suruh Satria. Citra menjatuhkan tubuh nya di atas ranjang itu. Lalu mulai menyelimuti tubuh nya dengan selimut.


Di luar Nenek Hindun sudah kembali ke dalam kamarnya. Rencananya besok pagi, nenek Hindun akan memulai dengan aksi-aksi nya. Sedangkan Satria terlihat masih gelisah di dalam kamar tamu itu. Citra sendiri kembali tertidur cepat. Mungkin saja pengaruh obat tidur yang diminumnya tanpa dirinya mengetahui nya itu membuat mata Citra masih terasa lengket.


Akhirnya Satria membaringkan tubuhnya di dekat Citra. Satria menatap wajah polos dan lugu milik Citra.


" Kamu kalau tidur seperti itu terlihat sangat cantik sekali." gumam Satria. Satria benar-benar puas memandangi wajah Citra dalam posisi tidur seperti itu. Hingga beberapa lama akhirnya Satria benar-benar lelah dan bisa tidur dengan lelap.


@@@@@@@

__ADS_1


Pagi hari tiba. Nenek membuka pintu kamar tamu itu secara tiba-tiba. Tentu saja, nenek memastikan jika pagi itu kedua nya antara Citra dan Satria masih tertidur dan belum terbangun dari tempat tidur nya. Setelah pintu dibuka, nenek Hindun mulai pura-pura terkejut dan histeris dengan semua yang telah di lihat nya.


" Satria! Apa yang kamu lakukan bersama dengan Citra?" teriak Nenek Hindun yang tiba-tiba membangunkan Satria dan Citra. Keduanya seketika membuka matanya. Keduanya benar-benar sangat terkejut dengan posisi mereka yang saling berpelukan satu dengan yang lain. Bahkan Satria memeluk Citra seperti sebuah guling.


" Eh, apa yang kamu lakukan?" Citra juga terkejut dengan kondisi dirinya dipeluk oleh Satria. Keduanya akhirnya duduk di tempat tidur itu. Nenek Hindun membulat matanya melihat Satria dan Citra secara bergantian.


" Kamu Satria dan Citra harus menjelaskan semuanya kepada nenek. Nenek akan menunggu kalian di ruang keluarga." ucap nenek sambil keluar dari kamar itu. Dalam hati nenek Hindun tertawa apalagi posisi nya sangat mendukung karena Satria benar-benar sedang memeluk Citra dalam keadaan tidur. Ini bisa menjadi alasan yang kuat nenek Hindun untuk melaksanakan Satria segera menikah dengan Citra.


" Nenek Hindun benar-benar sudah merencanakan nya dengan matang. Lagi pula kenapa bisa aku memeluk Citra?" pikir Satria.


" Mas, bagaimana ini mas! Aku tidak mau dipecat dari kerjaan ku di rumah ini. Bagaimana aku bisa menyekolahkan adik aku, Nura?" kata Citra mulai khawatir dan was- was.


" Tenanglah, kamu segera lah mandi dan setelah itu kita temui nenek Hindun bersama- sama." kata Satria berusaha menenangkan Citra. Citra segera turun dari tempat tidur itu dan masuk ke kamar mandi. Kali ini Citra tidak mengganti pakaian nya. Dia masih mengenakan pakaiannya yang kemarin.


Setelah Citra mandi dan berganti baju, kini Citra sudah duduk di ruang keluarga. Sedangkan Satria sudah kembali ke kamarnya dan mulai bersiap dengan baju kantor nya. Namun tentu saja sebelum dirinya berangkat ke kantor, Satria akan berhadapan dengan neneknya atas kejadian yang sudah di rencanakan oleh neneknya sendiri.


@@@@@@@


Satria dan Citra sudah duduk di hadapan nenek. Hindun. Nenek Hindun terlihat serius menatap keduanya. Betapa ini membuat Satria menahan tawanya. Kenapa tidak, Satria sudah sangat paham betul bagaimana karakter neneknya itu. Neneknya hampir tidak bisa marah terhadap dirinya. Kalaupun tidak membenarkan atas kelakuan ataupun gaya bebas Satria, nenek Hindun hanya menasihati Satria pelan- pelan saja. Bagi nenek Hindun suatu saat Satria akan kembali sadar dan menemukan jati dirinya setelah bertemu dengan pasangan hidupnya. Keyakinan nenek Hindun, Satria kelak akan menjadi tipe laki-laki yang setia dan sangat menyayangi istrinya atau pasangan nya. Masa lalu yang suram. dan suka gonta-ganti wanita akan menjadikan Satria ke titik kejenuhan.


" Sekarang jelaskan kepada nenek, apa yang kalian lakukan di dalam kamar itu. Kalian bisa satu kamar dan tidur saling berpelukan seperti pingki winki dan pooh." ucap nenek Hindun. Seketika Satria meledak tawanya. Hal itu membuat nenek Hindun membulat matanya menunjukkan kemarahan yang dibuatnya. Citra menjadi tidak enak atas sikap Satria terhadap neneknya tersebut.

__ADS_1


" Maaf nek! Hem, baiklah tanpa berbasa-basi aku akan menikahi Citra." ucap Satria serius lalu Satria mulai berdiri dari tempat duduknya. Satria harus segera berangkat kerja dan ke kantor. Hari ini ada meeting, jika terlambat pak Piter papi nya pasti marah.


Citra hanya menatap Satria dengan melongo. Citra tidak mengira jika Satria semudah itu memutuskan untuk menikahi dirinya tanpa penjelasan dan alasan. Nenek Hindun tersenyum lalu menatap Citra.


" Itu keputusan yang bagus cucuku. Dan kamu Citra, ganti pakaian kamu. Nenek akan mengajak kamu jalan- jalan dengan parjo sopir nenek." kata nenek Hindun.


" Kemana nek?" tanya Citra.


" Nenek akan mengajak kamu ke rumah mami Egi, maminya Satria untuk membicarakan rencana pernikahan kamu dengan Satria. Kalian harus secepatnya menikah sebelum kamu dihamili oleh Satria." ucap Nenek Hindun. Citra membulat matanya. Satria yang sempat mendengar itu spontan terkekeh namun Satria menyalami nenek nya lalu mulai pergi meninggalkan mereka berdua.


" Hati-hati kamu, Satria!" pesan nenek Hindun.


" Iya, nek!" sahut Satria. Kini tinggal Citra yang hendak berbicara dengan nenek Hindun.


" Tetapi Nek, aku tidak mungkin hamil nek. Kami semalam di kamar itu tidak melakukan apa pun, Nenek salah paham." kata Citra.


" Pokoknya kamu Terima saja kalau dinikahi oleh Satria. Apa yang nenek putuskan tidak bisa diganggu gugat. Dan nyatanya nenek melihat kamu berpelukan seperti teletubies dengan Satria. Demikian halnya Satria memeluk kamu dengan mesra. Kamu tidak bisa mengelaknya." kata Nenek Hindun tidak mau dibantah.


Citra menundukkan kepalanya.


" Mulai besok, kamu dan adik kamu tinggal di sini dan segala sesuatunya harus kita siapkan. Kamu akan menikah dan menjadi istri dari Satria." kata nenek Hindun. Citra diam seribu bahasa.

__ADS_1


" Aku menikah dengan mas Satria? Apakah Mas Satria mencintai aku?" pikir Citra.


__ADS_2