HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
PERNIKAHAN SATRIA DENGAN CITRA


__ADS_3

Nura sudah berada di rumah Satria. Citra akhirnya membawa adiknya, Nura tinggal bersama di rumah Satria. Citra masih belum yakin dan percaya jika dirinya akan menikah dengan Satria hanya lantaran kejadian yang tidak diinginkan nya itu. Tiba-tiba satu kamar bersama Satria lantaran terkunci dari luar. Namun Citra sendiri masih merasakan kejanggalan atas kejadian itu. Apalagi Satria tanpa memprotes perintah Nenek Hindun untuk menikah dengan dirinya.


Nenek Hindun telah mengajak Citra menemui kedua orang tua Satria, pak Piter dan juga Egi. Di sana nenek Hindun menyampaikan bahwa cucu kesayangannya akan menikah secepatnya dengan Citra. Tentu saja mami Egi sangat senang lantaran mami Egi sangat menyukai Citra ketika Satria datang ke pesta itu dengan menggandeng Citra sebagai pasangannya. Bukan Milar yang menurut penilaian mami Egi Milar adalah wanita yang hanya memeras keuangan Satria setelah apa yang dilakukan nya.


Rencana pernikahan Satria bersama dengan Citra ditanggapi oleh mami Egi dan tuan Piter dengan kelegaan. Harapan kedua orang tua Satria itu, Satria bisa meninggalkan kehidupan bebasnya yang suka bergonta-ganti wanita-wanita cantik dan glamour. Selain wanita-wanita itu hanya mendekati Satria untuk memeras keuangan nya, dan hanya memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki oleh Satria. Dengan melihat Citra, mami Egi sangat yakin jika Citra adalah seorang gadis baik- baik yang akan merubah Satria.


@@@@@@@


Pernikahan antara Citra dengan Satria akhirnya terlaksana. Mereka kini sudah sah menjadi suami istri secara agama maupun hukum. Pernikahan mereka masih belum dipublikasikan secara besar-besaran. Karena rencananya keluarga Piter akan mengadakan pesta meriah dan besar- besaran dengan menyelenggarakan resepsi pernikahan kelima putranya secara bersama-sama dan serentak. Mungkin akan diliput berbagai media.


Satria kini benar- benar tidak menyangka akan melepaskan masa lajang nya bersama dengan Citra. Memang gadis itu belum sekalipun pernah disentuh oleh Satria.


" Seperti nya kamu benar-benar beruntung mendapatkan gadis yang masih virgin sedangkan kamu sudah sangat berpengalaman dalam petualangan di atas ranjang." goda saudara Satria yang lain selepas acara ikrar suci pernikahan Satria.


" Itulah rejeki menjadi cucu kesayangan nenek." sahut Satria. Saudara Satria yang lain hanya meninju lengan Satria.


"Akhirnya petualangan kamu berakhir juga yah, Satria. Kamu kini harus masuk dalam satu lubang saja. Jangan celup sana celup sini. Syukuri istri kamu yang dipilihkan oleh nenek." kata Bramantyo.

__ADS_1


"Kak Bramantyo juga yah! Nasib kita seperti nya sangat baik bukan? Mendapatkan istri yang masih lugu dan polos. Padahal kita dulu nya sangat breng sek." sahut Satria. Keduanya tertawa terbahak- bahak.


" Awas saja kalau kalian masih nakal! Nenek akan jewer telinga kalian." ancam nenek Hindun yang saat ini mendekati kedua cucu mereka. Bramantyo memeluk nenek Hindun penuh kasih sayang.


" Nenek, ayo tinggal ke rumah aku. Masak tinggal ke rumah Satria terus. Ayolah nek, istri aku juga sangat penyayang. Aku yakin nenek akan menyukai nya." kata Bramantyo. Nenek Hindun meringis sambil melirik ke arah istri Bramantyo, yaitu Yurika.


" Benar, kamu memang tidak salah memilih istri. Dia wanita yang baik. Syukur lah, nenek ikut senang kamu pun mendapatkan istri yang baik seperti Satria. Setelah ini berikan nenek cicit yang banyak yah." kata nenek Hindun. Bramantyo terkekeh mendengar nya.


" Tentu nek! Aku bakal kasih cicit banyak untuk nenek." sahut Bramantyo.


@@@@@@@


Malam pertama Satria dengan Citra.


Citra duduk di pojokan kamar utama mereka yang sudah dihias dengan berbagai bunga- bunga warna- warni yang indah. Ada rasa takut dan was- was dalam diri Citra. Pasalnya seorang wanita setelah dinikahi oleh pria yang pada akhirnya sah menjadi suaminya itu, di malam harinya akan melalui malam pertamanya. Ini yang ditakutkan oleh Citra yang notabene tidak pernah melakukan sekalipun hubungan badan dengan laki-laki manapun. Citra benar- benar menjaga segala kehormatan nya itu walaupun dirinya selalu dihadapkan dengan kekurangan uang selalu ini. Apalagi sebelum bertemu dan bekerja dengan Satria.


Satria mendekati Citra yang seperti takut akan bayangan yang menghantui dirinya soal malam pertama itu.

__ADS_1


" Kamu ngapain di sana? Kamu mandi lah, seharian ini kita disibukkan acara pernikahan kita. Kamu pasti lelah. Dengan mandi air hangat akan mengembalikan tubuh kamu lebih segar." ucap Satria.


" Hem, mandi?" sahut Citra. Satria mengerutkan dahinya.


" Iya mandi. Apa kamu minta aku yang mandiin kamu?" kata Satria dengan tersenyum menyeringai. Citra semakin gugup.


" Eh, tidak! A.. aku bisa sendiri kok." ucap Citra lalu dengan cepat menjauh dari Satria yang saat ini begitu dekat dengan dirinya. Namun tiba-tiba Satria mencekal tangan Citra hingga tenggelam dalam pelukan Satria.


" Eh, ehmmm... aku mau mandi." ucap Citra gugup. Satria mulai ingin berniat untuk mengganggu Citra. Satria dengan nakal mulai menyentuh bibir Citra dengan jari telunjuk nya. Setelah bermain di sana jari telunjuk itu turun ke leher lalu ke bagian bukit kembar milik Citra yang sangat membusung.


Citra membulat matanya melihat aksi nakal suaminya itu.


" Kalau kamu enggan untuk mandi, kita bisa melakukan nya bersama-sama supaya kamu lebih bersemangat. Kamu suka air hangat atau dingin, sayang? Aku akan membersihkan tubuh kamu dengan sabun yang wangi. Jangan lupa bagian ini di gosok dan di bersihkan." ucap Satria sembari menyentuh bagian sensitif milik Citra.


" Eh, aku... aku bisa mandi sendiri." ucap Citra dengan cepat menghindari serangan tiba-tiba dari laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya tadi pagi. Citra segera masuk ke kamar mandi namun dirinya lupa untuk membawa handuk dan juga pakaian ganti. Satria tersenyum melihat kegugupan istrinya yang masih polos itu.


@@@@@@@

__ADS_1


__ADS_2