
Lofie dengan manjanya masih memeluk Hanom. Kini tangannya malah mengusap dengan lembut ke bagian dada Hanom yang tidak berbulu. Hanom tersenyum menatap wajah Lofie yang terlihat imut dan sangat manja jika sudah bersama dengan dirinya. Hanom mengecup kening Lofie.
" Kamu ingin sarapan apa? Biarkan istri kamu ini yang menyiapkan nya." kata Lofie. Hanom mengernyitkan dahinya. Lofie tersenyum menatap reaksi yang timbul dari wajah Hanom.
" Maksud aku, akan memesannya ke bagian pelayanan hotel." sahut Lofie. Hanom terkekeh.
" Kamu malah menertawakan aku, loh! Tidak mungkin aku di sini memasakkan makanan untuk kamu bukan? Kita sedang berlibur dan menikmati bulan madu kita. Di hotel ini, apakah boleh jika aku menyewa dapur hanya untuk memasakkan untuk kamu." kata Lofie dengan mulut yang sedikit maju beberapa senti.
" Iya, aku tahu. Kamu bisa memesannya sekarang." kata Hanom. Lofie segera turun dari tempat tidur itu dan bergegas meraih gagang telepon yang sudah disediakan di kamar mereka. Lofie mulai memesan beberapa makanan dan minuman pagi itu. Hanom menatap tubuh Lofie yang tanpa malu tanpa sehelai benang pun di sana. Tentu saja hal itu membuat Hanom kembali bergejolak dan sesuatu yang di bawahnya seketika bergerak dan mulai mengeras. Lofie yang ditatap oleh suaminya dengan pandangan yang aneh itu, seketika teringat jika dirinya tidak mengenakan apapun. Secepatnya Lofie menyusup masuk ke dalam selimut putih yang masih digunakan oleh Hanom. Hanom terkekeh.
" Apakah pagi ini kita sarapan yang lain dulu?" tanya Hanom. Lofie menenggelamkan kepalanya di bawah ketiak Hanom.
" Gara-gara kamu, adik kecilku menuntut lagi pagi ini. Kamu harus bertanggungjawab atas semua ini." kata Hanom.
" Pagi ini, lagi? Bahkan kaki aku masih terasa begitu lemas. Dan bagian itu terasa nyeri. Seperti nya lecet deh." kata Lofie. Hanom menatap serius.
" Aku akan mengobati nya." ucap Hanom. Hanom kini malah menunduk mencari sesuatu yang dikeluhkan oleh Lofie.
" Hanom, apakah kamu mau memakan aku kembali pagi ini?" tanya Lofie. Hanom tanpa membuang waktu kembali mengeksekusi Lofie. Sampai beberapa waktu ketukan pintu kamar mereka diketuk oleh pelayanan di hotel. Rupanya pesanan telah tiba.
" Untung saja, aku segera menuntaskan semuanya." keluh Hanom seraya menyambar handuk kimono yang ada di sana. Lalu mulai membukakan pintu kamar itu dan mengambil beberapa pesanan makanan dan minuman itu dari petugas yang mengantarkan nya.
" Ayo bangun dan mandi! Setelah itu kita makan." kata Hanom. Lofie segera membenarkan posisi nya dan duduk.
" Kenapa?" tanya Hanom ketika Lofie meringis karena merasakan pedih di bagian pribadinya. Hanom benar-benar tidak memberikan kesempatan untuk Lofie untuk istirahat yang nyenyak. Sepanjang malam, Hanom seperti maniak dengan Lofie. Bahkan hanya istirahat sebentar adik kecilnya cepat naik kembali.
" Rasanya pedih." keluh Lofie.
" Aku akan mengendong kamu! Kita mandi bersama di dalam bathub itu." ucap Hanom. Lofie terlihat seperti ragu- ragu jika mandi bersama dengan Hanom.
" Jangan khawatir! Ini benar-benar mandi. Aku akan membersihkan tubuh kamu sampai wangi. Oke? Aku sudah menyiapkan salep untuk bagian itu." kata Hanom.
__ADS_1
"Salep? Apakah itu akan aman?" tanya Lofie.
" Aman dong!" kata Hanom. Hanom mengangkat tubuh Lofie dan membawanya ke kamar mandi dan memasukkan nya ke dalam bathub dengan air yang sudah disiapkan.
@@@@@@@
" Makan yang banyak dong, sayang!" kata Hanom setelah kedua nya sudah selesai mandi dan berpakaian santai.
" Mau bakso yang pedes." sahut Lofie. Hanom tersenyum mendengarkan nya.
" Setelah ini kita mencarinya. Oke?" kata Hanom.
" Apakah setelah ini kita akan jalan- jalan?" ucap Lofie.
" Benar! Aku akan membawamu ke suatu tempat yang indah di kota ini. Kamu pasti akan menyukainya. Oh ya, apakah sudah tidak nyeri lagi kalau berjalan?" tanya Hanom.
" Tidak! Ini sudah lebih baik. Terimakasih, kamu sudah mengobati nya tadi." ucap Lofie.
"Aamin!" sahut Lofie.
"Aku ingin secepatnya memiliki baby dari kamu, Hanom." kata Lofie.
" Semoga Tuhan akan kasih itu kepada kita secepatnya. Oh iya, belajar lah memanggil aku dengan panggilan sayang."kata Hanom. Lofie memperhatikan Hanom serius.
" Maaf, aku harus memanggil kamu apa? Hem? Kak Hanom sayang! Ayang bebeb. Darling? Ah kak Hanom saja deh." kata Lofie akhirnya.
" Sebenarnya kamu boleh memanggil aku dengan nama kesayangan apa saja, namun jangan lupa kalau aku ini suami kamu, sayang! Jangan panggil Hanom saja tapi pakai kakak atau mas atau bisa dengan bang Hanom." kata Hanom dengan protes nya.
" Maaf, tadi aku khilaf kak Hanom." sahut Lofie.
" Baiklah istriku sayang!" kata Hanom seraya mengusap puncak kepala milik Lofie.
__ADS_1
" Terimakasih suamiku tercinta. I love you." sahut Lofie seraya mengecup bibir Hanom dengan lembut.
" Eh, pedes!" tambah Lofie. Hanom terkekeh.
" Ini sambel ayam geprek nya luar biasa pedes." kata Hanom.
"Hehe.. kalau kamu kepedesan seperti itu, bibir kamu terlihat seksi dan sangat menggoda. Sepertinya aku ingin menggigit nya." ucap Lofie.
" Lakukan saja, kalau kamu suka melakukan nya. Bukankah semua yang ada pada diriku sudah menjadi milik kamu?" Hanom mulai merayu.
" Ogah! Nanti bisa kebablasan dan tidak jadi pergi." kata Lofie.
" Hehehe, kamu sudah selesai belum makannya? Ayo. kita pergi! Ajak Hanom.
" Ayolah! Lebih baik kita pergi jalan- jalan dari pada di kamar terus yang ada nanti aku kena eksekusi kembali." keluh Lofie. Hanom terkekeh mendengar keluhan istri nya.
" Kamu sangat beruntung sayang! Jika suami kamu ini benar-benar perkasa dan tangguh serta bisa diandalkan. Setelah kita jalan- jalan di luar, bersiap lah untuk serangan malam hari." kata Hanom.
" A apa? Apakah kamu tidak akan membiarkan istri kamu dan adik kecil barang istirahat sehari saja." keluh Lofie.
" Jangan khawatir, aku sendiri yang akan memijit kamu. Jadi kamu tidak akan merasa kecapean dan berasa pegal- pegal." kata Hanom.
" Ah, kak Hanom! Sepertinya aku harus banyak makan makanan yang bergizi dan protein deh." kata Lofie.
" Itu harus sayang! Ayo!" ajak Hanom seraya menggandeng tangan Lofie, istrinya itu.
Beberapa pasang mata menatap pasangan pengantin itu dengan penuh kecemburuan. Antara Lofie dengan Hanom adalah pasangan yang serasi. Lofie dengan body yang seksi dan berwajah cantik sedangkan Hanom berbadan tinggi kekar dengan dada bidang yang lebar. Mungkin saja seorang wanita dan pria akan iri jika melihat keduanya yang terlihat sangat mesra dan romantis.
" Kak Hanom! Boleh tidak jika aku beli rujak buah di sana itu!" kata Lofie seraya menunjuk ibu- ibu muda yang sedang berjualan rujak buah dengan gerobak kecilnya.
" Boleh saja! Apa sih yang tidak buat kamu, sayang?" sahut Hanom. Lofie sangat senang mendengar nya.
__ADS_1