HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
DIKUNCI NENEK


__ADS_3

Jam makan siang Citra menyuapi nenek Hindun. Setelah itu nenek Hindun mengajak Citra untuk melihat tayangan di televisi. Di sana keduanya terlihat fokus melihat tontonan itu. Citra yang sudah mulai mengantuk akhirnya rebahan di sofa panjang di depan televisi itu. Sedangkan nenek Hindun masih duduk di sofa empuk di sana. Nenek Hindun tersenyum melihat Citra yang saat ini sudah tertidur. Nenek Hindun tidak ingin membangunkan Citra. Padahal nenek Hindun juga hendak pindah ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Akhirnya nenek Hindun berjalan pelan masuk ke kamarnya meninggalkan Citra yang masih tertidur di kursi sofa ruang keluarga itu.


Hingga sore tiba, Citra masih terlelap di sana. Seolah-olah Citra benar-benar sangat lelah. Sampai akhirnya Satria pulang dari kantor dan melihat Citra tidur di sofa panjang itu. Satria tersendiri menatap gadis yang saat ini tertidur dengan pulasnya.


" Gadis ini tingkat kewaspadaan nya sangat kurang. Bahkan dirinya bisa tidur di sembarang tempat." gumam Satria lalu mengangkat tubuh langsing Citra menuju ke kamar tamu. Nenek Hindun diam- diam melihat gerak- gerik Satria yang baru pulang itu dan mengangkat serta memindahkan tubuh Citra ke dalam kamar tamu.


Nenek Hindun dibantu dengan salah satu pelayan di rumah itu mengikuti Satria yang saat ini sudah masuk di kamar tamu. Nenek Hindun memberi kode kepala pelayan rumah itu segera menutup pintu dan lalu menguncinya dari luar. Nenek Hindun tersenyum menyeringai. Lalu nenek Hindun bertos ria dengan menyatukan telapak tangannya dengan pelayan itu. Keduanya seperti sukses mengerjai Satria dengan Citra di kamar tamu itu.


" Nenek, setelah ini saya harus melakukan apa lagi nek?" tanya pelayan rumah itu.


" Kita tunggu sampai pagi saja. Bukankah kamu sudah menyedihkan minuman dan juga makanan di dalam kamar itu kan?" kata nenek Hindun. Pelayan itu mengangguk cepat.


" Benar nek, saya sudah menyiapkannya semuanya. Dari handuk, selimut, peralatan mandi. Pokoknya lengkap di kamar itu, nek." sahut pelayan rumah itu.


" Bagus, sekarang kamu tinggal menghubungi adik nya Citra. Kamu katakan, kalau Citra kakaknya tidak bisa pulang hari ini. Soalnya nenek ingin ditemani bobok malam ini." ucap Nenek Hindun. Pelayan itu menyimak dengan serius.


" Oke, nenek sementara akan duduk di ruangan tengah dulu. Nenek akan melihat tindakan Satria setelah mengetahui pintu kamar itu di kunci dari luar. Besok pagi, nenek akan pura- pura memergoki mereka dan marah dengan keduanya. Dengan begitu, Satria dan Citra akan nenek suruh secepatnya menikah lantaran mereka sudah satu kamar. Apalagi Citra adalah gadis baik- baik. Satria tidak boleh bersikap seenaknya dengan Citra.

__ADS_1


" Benar nek! Ide nenek ini benar- benar hebat. Semoga tuan muda Satria bisa berubah setelah menikah dengan non Citra. Non Citra gadis yang baik serta tidak matre. Selain itu juga rajin. Saya benar-benar menyukainya, nek." kata pelayan itu.


" Nenek juga menyukai Citra. Makanya dari itu, nenek ingin menjebak mereka dalam satu kamar itu, supaya besok nenek punya alasan yang kuat menyuruh Satria secepatnya menikahi Citra." ujar nenek sambil cekikikan. Pelayan itupun ikut terkekeh mendengar rencana nenek.


Suara handle pintu mulai gaduh di kamar tamu itu. Dimana di dalam ada Satria dan Citra. Nenek yang sengaja duduk di ruangan tamu menyaksikan itu semuanya. Di temani dua pelayan rumah itu mereka di ruangan itu, memastikan Satria dan Citra tetap berada di kamar itu sampai besok pagi. Baru besok pagi nenek akan mulai menjalankan dramanya.


@@@@@@@


Di dalam kamar tamu itu. Satria terlihat panik di sana. Sedangkan Citra masih tertidur dengan pulas nya.


" Ini pintu seperti dikunci dari luar. Tapi siapa yang mengerjai aku?" pikir Satria. Kini Satria melihat wajah Citra yang terlihat masih tidur dan belum juga bangun. Satria mengusap pipi Citra yang lembut itu.


" Wangi rambutnya dan juga indah." ucap Satria lirih.


" Eh, bahkan disini sudah ada makanan dan minuman yang lengkap. Benar-benar nenek telah mengerjai aku." pikir Satria.


" Kalau begitu, aku akan mandi terlebih dahulu. Sejak pulang dari kantor aku juga belum mandi. Setelah mandi baru makan." pikir Satria. Satria segera menyambar handuk yang sudah disiapkan di kamar itu.

__ADS_1


Satria berendam di bathtub dengan air hangat. Di sana Satria berusaha serileks mungkin. Satria sesekali tersenyum jika mengingat dirinya di dalam kamar tamu itu dan dikunci dari luar itu karena ulah neneknya. Memang neneknya begitu ingin dirinya segera menikahi Citra. Nenek sangat menyukai Citra dan menginginkan Satria segera menjadi laki-laki yang bertanggung jawab serta tidak bermain- main dengan kebebasannya.


Satria selesai dari mandi setelah membilas badannya di bawah air shower. Setelah nya keluar dari kamar mandi itu hanya dengan memilih handuknya di bawah pinggang nya. Kembali Satria melihat Citra masih tertidur dengan nyenyak di atas kasur empuk itu. Satria sesaat tersenyum melihat Citra yang terlihat cantik tanpa polesan.


" Cantik nya sangat natural." kata Satria lirih.


Satria kini duduk di kursi yang ada di kamar tamu itu. Sekarang Satria mulai menikmati hidangan yang sudah ada di meja itu.


" Bahkan makanan ini tetap terjaga panas nya. Benar-benar sudah dipersiapkan oleh nenek. Rupanya nenek tidak ingin aku kelaparan. Hahaha." kata Satria.


" Aku ingin melihat, akting nenek besok pagi. Benar-benar enggak banget deh.Hahahaha." pikir Satria mulai menikmati makanan itu.


Tiba-tiba Citra membuka mata dan terbangun lalu membenarkan posisi duduknya.


" Eh, aku di mana ini? Eh, mas Satria? Kenapa kita saat ini berada di satu kamar yang sama? Apa yang terjadi?" ucap Citra kebingungan. Satria cuek masih menikmati makanan nya.


Citra masih bingung dengan keadaan nya.

__ADS_1


" Eh, jam berapa sekarang? Aku harus pulang, Nura pasti menunggu aku dan mengkhawatirkan aku." ucap Citra lagi. Citra lalu turun dari tempat tidur itu dan bergegas menuju handle pintu. Namun pintu tidak bisa dibukanya. Mata Citra tertuju pada laki-laki yang saat ini telah bertelanjang dada itu. Tubuhnya yang seksi membuat Citra sesaat menjadi terpesona. Bahkan saat ini Citra hanya melihat Satria hanya menutupi bagian bawahnya hanya dengan handuk saja. Citra menjadi Bertreveling pikirannya.


" Kenapa, tidak bisa dibuka pintu nya yah? Kemarilah kamu. Kita makan bersama di sini." ajak Satria. Citra mau tidak mau menurut perintah Satria.


__ADS_2