
Di kamar penginapan itu Bramantyo dan Yurika masih terbuai di atas peraduan. Padahal matahari sudah mulai tinggi dan sinarnya semakin tajam menyeruak alam dan menembus pori-pori kulit bagi seseorang yang menantang alam. Yurika masih terlelap dibalik selimut nya dan masih sangat enggan untuk bangun dari tidur nya. Apalagi dengan Bramantyo. Karena semalam dirinya sangat banyak minum dan ditambah telah menggempur Yurika sampai berkali-kali. Tanpa perlawanan dan tanpa paksaan, Yurika sudah menikmati permainan malam itu.
Lagu If love is blind dari Tiffany di ponsel Bramantyo keras terdengar. Hal itu membuat Yurika terpaksa membuka matanya. Karena Yurika penasaran, Yurika mencari ponsel Bramantyo diletakkan. Ponsel itu ternyata berada di jaket kulit Bramantyo. Yurika mengambilnya dan melihat siapa nama yang tertera di sana. Ada satu nama seorang wanita yang saat ini mencoba menghubungi nomor Bramantyo.
" Claudia?" sebut Yurika pelan. Yurika sengaja meletakkan ponsel Bramantyo di dekat Bramantyo yang masih tertidur lalu Yurika melangkah pergi menuju kamar mandi. Ponsel Bramantyo kembali menyuarakan lagu dari Tiffany dan Bramantyo membuka matanya.
" Hem?" Bramantyo menyuarakan suaranya. Seseorang yang telah menghubungi nya langsung menyahut.
" Kamu masih tidur, Tyo?" sahut seseorang di seberang sana melalui sambungan ponsel itu. Suara cewek yang sudah cukup familiar ditelinga Bramantyo.
" Ini mau bangun." kata Bramantyo lalu duduk dan bersandar di tempat tidur yang elegan kamar penginapan itu.
" Aku sudah kembali, Tyo! Saat ini aku sudah berada di kantor kamu. Apakah kamu tidak bekerja hari ini?" ucap wanita di seberang sana.
" Sebentar lagi aku ke sana. Kenapa kamu kembali?" kata Bramantyo.
" Karena kontrak kerjaku sudah selesai." sahut wanita itu.
" Oh!" kata Bramantyo singkat.
" Aku ingin berjumpa dengan kamu, Tyo. Aku ingin memulai karier di negara ini lagi. Apakah kamu ingin membantu aku?" ujar wanita itu.
" Claudia! Tanpa bantuan dari aku, kamu bisa kembali terjun di bidang modeling itu bukan?" sahut Bramantyo.
" Tidak! Aku ingin memulai menjadi aktris. Aku ingin terjun di bidang akting. Kamu pasti bisa membantu aku lagi supaya mulus jalanku." kata Claudia.
" Nanti kita bicarakan lagi di kantor ku. Oke? Aku akan mandi dulu." kata Bramantyo langsung. panggilan masuk itupun diputus oleh Bramantyo. Mungkin Claudia di seberang sana marah karena Bramantyo langsung menutup call dari Claudia.
Bramantyo langsung masuk ke kamar mandi, dimana Yurika juga sedang membersihkan dirinya. Yurika terkejut tatkala Bramantyo tiba-tiba masuk ke kamar mandi itu. Padahal Yurika masih berendam di bathub.
__ADS_1
" Hai, kenapa kamu masuk begitu saja? Apakah kamu tidak diajari orang tua kamu untuk bersikap sopan?" ucap Yurika dengan membulat matanya. Bramantyo tersenyum menyeringai.
" Apakah kamu juga tidak diajari ibu dan juga ayah kamu, kalau sedang mandi tidak mengunci pintu nya? Ini seperti halnya kamu mengundang seseorang untuk melakukan hal yang mesum kepada mu."kata Bramantyo tidak mau kalah.
"Lagi pula kita sudah sama- sama terbuka. Bahkan kita sudah beberapa kali melakukannya. Aku melihat semuanya dari kamu dan demikian halnya dengan kamu. Kenapa kamu sewot kepada ku?" kata Bramantyo panjang lebar hingga membentuk rumus luas persegi panjang.
Bramantyo mendekati Yurika dan ikut masuk ke bathub yang ukurannya cukup untuk dua orang. Yurika mulai turun dari bathub itu dan dengan cepat menyambar handuknya. Bramantyo terkekeh menyaksikan pemandangan yang indah dari Yurika. Yurika kembali membulat matanya dan melotot marah.
" Cepat mandinya! Aku harus segera ke rumah sakit." kata Yurika. Bramantyo seperti di dikte oleh Yurika.
" Sejak kapan kamu mulai mengatur aku?" sahut Bramantyo pura-pura sewot. Yurika mengerutkan dahinya.
" Sejak kita sepakat menjadi sepasang kekasih." kata Yurika.
" Itu hanya kontrak saja!" goda Bramantyo. Yurika cemberut.
" Kontrak? Lalu, apakah arti semuanya ini? Aku hanya kamu anggap sebagai partner ranjang kamu saja?" sahut Yurika mulai menuntut. Bramantyo menahan senyum.
" Bang Tyo! Jangan lakukan lagi! Aku sudah benar-benar letih! Aku harus secepatnya ke rumah sakit. Ibu harus segera menjalankan operasi itu dan aku harus segera menandatangani perjanjian operasi itu dan juga membayar administrasi nya." ucap Yurika. Bramantyo tersenyum menggoda.
" Siapa tadi yang memulai menggoda aku?" sahut Bramantyo. Yurika membulat matanya.
" Oke! Oke! Kita mandi. Serius hanya mandi saja." kata Bramantyo mulai membersihkan tubuh nya.
Yurika kembali turun dan melangkah menuju shower setelah menyambar handuknya kembali. Yurika sudah tidak perduli jika Bramantyo memandang nya sambil menahan hasratnya. Tirai itu di gerai nya. Yurika kini mulai membersihkan dirinya dibawah shower itu. Bramantyo samar- samar masih melihat bayangan Yurika dibalik tirai itu. Bramantyo hanya mampu menelan saliva nya dan akhirnya dirinya pun mulai menuju ke bawah shower itu setelah Yurika keluar dari sana.
" Claudia! Wanita itu pasti akan merepotkan aku nantinya." pikir Bramantyo.
*******
__ADS_1
Di dalam mobil, Bramantyo menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yurika benar-benar sudah tidak mengkhawatirkan ibunya di rumah sakit. Apalagi ibunya saat ini sendirian di sana. Yurika benar-benar mempercayakan perawat di rumah sakit itu untuk menjaganya. Yurika berani membayar mahal untuk itu dan memang meminta satu perawat yang khusus untuk menjaga ibunya. Sehingga Yurika bisa konsentrasi dalam bekerja dan mencari uang.
Bramantyo sesaat melirik ke arah Yurika yang sedari tadi memainkan kuku di jari nya. Yurika sangat khawatir dengan keadaan ibunya.
" Yoyo, asisten ku sudah mentransfer uangnya ke rekening kamu. Aku juga sedikit mentransfer ke rekening kamu secara pribadi. Lihat saja saldo yang masuk, Yurika! Apakah uang segitu cukup untuk biaya ibu kamu di rumah sakit itu?" tanya Bramantyo. Yurika mengangguk cepat.
" Itu sudah lebih dari cukup, bang! Namun aku harus membayar hutang yang senilai tiga milyar itu. Kalau tidak, mereka akan selalu mengincar aku. Keselamatan ibu dan aku akan terancam." kata Yurika mulai khawatir.
" Baiklah! Karena aku hari ini sangat sibuk dan tidak bisa menjaga kamu, kamu bisa melunasi hutang itu. Aku sudah mentransfer nya ke rekening mu. Lihat lah!" kata Bramantyo. Yurika tersenyum lebar.
" Terimakasih banyak, bang!" ujar Yurika. Bramantyo tersenyum menyeringai.
" Itu bayaran satu tahun, Yurika! Karena kamu sudah menyepakati Perjanjian kontrak kita. Dan satu hal lagi, kamu tidak bisa mengatur kehidupan ku. Oke? Tugas kamu hanya yang tercantum di isi surat perjanjian itu." kata Bramantyo.
" Baiklah!" sahut Yurika.
" Ternyata licik juga bang Tyo ini. Setelah ini aku harus benar-benar bekerja keras mengambil peran pembantu pun tidak masalah. Asal bisa mendapatkan uang." pikir Yurika.
Bramantyo menghentikan mobilnya di depan gedung yang bertuliskan nama rumah sakit yang dimaksudkan oleh Yurika. Yurika turun dari mobil itu.
" Awas! Jangan sekali- kali mencoba lari dari aku. Aku dan orang-orang ku akan bisa menemukan kamu." ancam Bramantyo.
" Siapa yang lari? Aku tidak akan lari dari kamu, bang!" sahut Yurika.
" Bagus! Kalau ada apa-apa hubungi Yoyo!" kata Bramantyo. Yurika mengangguk cepat.
Bramantyo menjalankan mobilnya dengan cepat. Bramantyo harus segera ke kantor nya. Sedangkan Yurika kini mulai berjalan ke kamar inap dimana ibunya saat ini dirawat.
" Bahkan aku tidak tahu kontak kamu, bang! Kamu hanya memberikan kontak Yoyo saja? Artinya akun dan kamu hanyalah partner ranjang saja. Dan sewaktu- waktu aku dibutuhkan, aku akan mendampingi kamu sebagai kekasih kamu. Itupun ketika di depan orang tua dan keluarga kamu." pikir Yurika sambil menarik nafasnya lalu membuangnya dengan kasar.
__ADS_1
" Pada akhirnya aku seperti menjual tubuhku demi uang. Namun bedanya aku hanya menjualnya kepada bang Tyo saja. Setelah aku melunasi hutang itu, dan membayar biaya berobat ibu, uang dari bang Tyo habis. Aku harus kembali bekerja keras. Syuting dan syuting lagi." pikir Yurika.
" Semoga secepatnya aku bisa memberikan kebahagiaan untuk ibu. Membeli rumah dan tidak meng kontrak rumah lagi. Semangat Yurika!" pikir Yurika tidak terasa air matanya menetes. Betapa kehidupan nya saat ini begitu sulit dan keras.