
"Apakah kamu sakit?" tanya Sudra yang kini masuk di kamar Sonia. Sudra memegang kening milik Sonia.
" Badan kamu panas. Apakah kamu pusing?" tanya Sudra kembali. Sonia hanya menggelengkan kepalanya.
"Apakah kamu sudah makan? Kalau begitu aku ambilkan makanan untuk kamu. Perut kamu harus diisi." ucap Sudra sambil beringsut setelah melihat Sonia menggelengkan kepala tanda menjawab kalau Sonia benar belum makan. Namun Sonia malah menarik tangan Sudra dan berada di atas Sonia.
Kedua pasang mata mereka saling beradu. Kehangatan nafas mereka pun saling terhirup. Sampai beberapa lama mereka seperti terhipnotis. Entah siapa yang memulainya akhirnya bibir keduanya saling menempel. Ciuman yang saling berbalas itu akhirnya terjadi. Pertukaran saliva diantara mereka terjadi. Sonia masih di posisi bawah dimana Sudra masih berada di atas mulai nakal. Tangan nya mulai menjalar kemana-mana. Keduanya akhirnya saling berguling dan membantu melepaskan segala pakaian yang melekat di masing-masing badan mereka. Kini terdengar irama yang saling bersahutan diantara mulut kedua nya. Sampai akhirnya keduanya sama-sama polos menampakkan perhiasan dan sesuatu yang bisa menggugah hasrat kedua nya.
Sonia ingin berperan dalam hal ini. Apa yang di tonton nya selama ini, Sonia praktekan. Sudra terbelalak tidak percaya karena Sonia sudah sangat lihai dalam mempermainkan bagian-bagian sensitif miliknya. Apalagi Sonia saat kini merunduk memposisikan dibawah pangkal paha nya. Sesuatu yang tegak dan sombong menantang langit itu dimainkan oleh Sonia. Di masukkan ke dalam mulutnya. Sonia menggerakkan kepalanya maju mundur memainkan benda tumpul itu. Sudra memejamkan mata seraya mendesis bagaikan ular piton yang kehausan.
" Sonia!" panggil lirih Sudra. Ini pertama kalinya Sonia mendengar suara tuan mudanya itu memanggil namanya dengan lembut.
__ADS_1
" Tuan muda! Apakah kamu menyukainya?" tanya Sonia sambil terus melakukan gerakan intens itu.
" Te.. te.. tentu saja! Lakukan terus, aku suka! Dan... dan panggil namaku Sudra saja. Kamu ingat itu?" ucap Sudra dengan suara serak. Sonia belum menggeser dari posisi nya. Sampai akhirnya Sudra seperti ingin meledakkan sesuatu dari dalam. Sesuatu yang membuncah segera ia lepaskan. Sampai akhirnya sesuatu itu keluar dari sana, hingga mulut Sonia menelan sebagian cairan kental yang bagi Sonia itu rasanya nikmat.
Seutas senyuman lebar terlihat dari mulut Sudra. Kini giliran Sudra memainkan peranan nya. Didorong nya Sonia hingga telentang. Dilebarkan nya kedua kakinya itu supaya memberikan ruang bagi Sudra melakukan sesuatu yang bisa membuat Sonia kelabakan. Dan benar saja, ketika Sudra memasukkan jari tengahnya dan mulai menggerakkan ritmenya, Sonia sedikit mengangkat pinggulnya. Apalagi Sudra mulai menyusupkan kepalanya memainkan bagian itu dengan lidah nya. Sonia semakin dibuat lemas dan bergetar kedua kakinya. Sampai beberapa lama, Sudra mulai menerobos kan sesuatu miliknya yang kembali menegang dan tegak. Itu bukan terong ungu namun itu benda yang permanen melekat dalam bagian organ tubuh milik Sudra. Kepemilikan yang bisa diandalkan sebagai laki-laki tulen dan pria tangguh. Sonia terguncang tatkala Sudra benar-benar menerobos goa yang sudah lebar tersenyum menganga itu. Sonia memekik keras.
" Sudra, sakit!" ucap Sonia keras. Sonia tidak perduli jika suaranya ke luar dari kamarnya.
" Maaf, aku akan pelan- pelan melakukannya. Apakah ini yang pertamanya bagi kamu?" tanya Sudra. Sonia mengangguk pelan.
@@@@@@#
__ADS_1
" Kamu sudah mandi, sayang?" tanya Sudra kepada Sonia. Sudra masuk ke dalam kamar Sonia untuk mengajaknya ke rumah papi mami. Sonia mengiyakan bahwasanya dirinya sudah mandi.
" Aku pakai baju yang mana, tuan muda? Aku bingung." tanya Sonia.
" Sebenarnya aku lebih menyukai kamu tanpa sehelai baju pun." ucap Sudra kini menjadi absurd. Sonia seketika mencubit pinggang Sudra.
" Setelah satu kali kamu melakukan itu, kamu menjadi sangat maniak tuan muda." kata Sonia.
" Panggil aku Sudra, Sonia! Hilangkan kata tuan muda itu. Kalau tidak aku akan membuat kamu tidak bisa berjalan." kata Sudra seraya memeluk Sonia lembut.
" Benarkah? Aku tidak takut! Lakukan itu, sekarang tuan muda." sahut Sonia malah semakin menantang. Sudra menarik hidung Sonia.
__ADS_1
" Kamu nakal sekali! Nanti setibanya di rumah Papi Piter, aku akan menggempur kamu." ancam Sudra.
" Aku akan berteriak keras supaya papi mami dan juga saudara kamu yang lain mendengar dan mengetahui kalau kamu bisa ganas dan liar bermain dengan aku." ucap Sonia. Sudra membulat matanya. Ada kebahagiaan dari sorot mata Sudra dan Sonia atas semuanya yang telah terjadi.