HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
HANOM PITER 7


__ADS_3

Hanom bersama Lofie, istrinya berjalan ke pusat perbelanjaan di kota itu. Setelah mereka menikmati pemandangan di tempat Pariwisata kota itu. Kedua tangan pasangan pengantin baru itu saling berpautan. Seolah mereka tidak ingin dipisahkan.


" Mau nonton film tidak?" tawar Hanom.


" Tidak perlu, kak! Setelah ini aku akan menagih janji kakak untuk memijit seluruh badanku." sahut Lofie.


" Jangan khawatir, aku tidak akan mengingkari janji ku. Semua yang sudah aku bilang, aku tidak pernah lupa." ucap Hanom. Lofie makin manja dalam gandengan Hanom.


Namun tiba- tiba ada suara yang memanggil nama Hanom. Tentu saja kedua pasangan yang baru saja menikah itu menengok ke arah sumber suara. Seorang wanita dengan rok mini di atas lutut saat ini menghampiri Hanom dan Lofie. Lofie mengerutkan dahinya. Mereka sementara berdiri mematung sampai seorang wanita itu datang kepada keduanya. Hanom tentu sangat terkejut saat siapa yang memanggil namanya tadi. Wanita yang pernah dekat dengan dirinya. Bahkan wanita itulah yang beberapa tahun selalu mengisi hatinya dan tidak sekali melalui malam panjang dengan nya. Namun ketika diajak menikah dengan Hanom, wanita itu menolak nya dan lebih memilih karir nya.


" Hai, apa kabar kamu?" tanya wanita itu. Wanita itu mengulurkan tangannya seraya mencium pipi kanan dan kiri Hanom. Tentu saja hal itu membuat Lofie seketika cemberut melihat pemandangan itu.


" Baik, aku baik sekali Sindi! Seperti yang sudah kamu lihat. Oh iya, kenalkan ini istri aku, Lofie." ucap Hanom berusaha mencairkan suasana hati Lofie yang mungkin saja cemburu dengan kedatangan Sindi, bahkan Sindi berani mencium dirinya di depan Lofie. Lofie mengulurkan tangannya dan ingin berjabat tangan dengan Sindi namun Sindi tetap cuek dengan Lofie tanpa membalas uluran tangan dari Lofie. Lofie seketika cemberut.


" Oh iya, Hanom kamu menginap di mana?" tanya Sindi. Hanom mrnggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung menghadapi situasi tersebut.


" Tidak jauh dari sini." jawab Hanom asal. Hanom tentu saja tidak ingin suasana bulan madunya terganggu lantaran ulah ataupun sikap dari Sindi.

__ADS_1


" Dimana? Di hotel mana? Biar nanti malam, aku datang ke sana." kata Sindi.


" Eh, jangan! Eh maksud aku, biar aku saja yang menjumpai kamu." sahut Hanom. Lofie semakin menahan kecemburuan nya. Lofie semakin kuat menggenggam tangan Hanom.


" Benarkah? Kamu pasti rindu aku yah? Temui aku sebelum jam 21.00 yah Hanom. Kita akan bersenang-senang dulu." ucap Sindi.


" Oh iya, pastikan kamu datang kepadaku tanpa istri kamu. Dan jangan sampai tidak datang kepadaku malam ini. Jika tidak? Aku bisa nekat kepada mu, Oke?" bisik Sindi nekat mendekati Hanom seraya menghembuskan nafasnya yang hangat. Hanom merasakan getaran yang pernah dulu ia rasakan. Tentu saja Hanom menjadi teringat akan permainan nakal Sindi ketika di atas peraduan dalam olahraga yang saling menyegarkan. Lofie mendengus kesal.


" Baiklah, selamat bersenang-senang dan jangan lupa nanti malam ya Hanom." kata Sindi seraya meninggalkan Lofie dengan bibir yang cemberut.


" Siapa pun dia, kamu adalah pemenang nya saat ini. Kamu adalah masa kini dan masa depan aku. Kamu tahu Lofie, sayang! Betapapun dirinya pernah menjadi kenangan terindah dan menjadi orang yang spesial dalam hidupku, namun itu dulu. Saat ini dan nanti hanya kamu yang sudah aku pilih. Kamu Lofie, yang imut, seksi seperti marmut." rayu Hanom, Lofie seketika adem seperti disiram air es keseluruh hati dan jiwanya yang sesaat lalu telah panas karena cemburu.


" Awas saja, kalau nanti malam kamu menjumpai wanita itu." ancam Lofie. Hanom meringis mendengar nya.


"Tapi berjanjilah dengan aku malam ini, nanti malam kita habiskan waktu untuk bermain musik bersama dengan aku." ucap Hanom ambigu. Lofie mengerutkan dahinya berusaha mengartikan arti ucapan Hanom. Hanom terkekeh melihat ekspresi Lofie setelah paham apa maksud dari ucapan Hanom itu.


" Laki-laki kalau sudah melihat paha sapi yang tidak pakai celana saja, sudah bangkit itu nya. Haduh." keluh Lofie.

__ADS_1


" Loh, kamu bukan sapi sayang? Dan aku tidak mungkin ber cinta dengan sapi." sahut Hanom. Lofie cuek meninggalkan Hanom, melangkah menuju stand yang menjual beberapa aksesoris.


Ketika Hanom mulai berlari kecil mengejar Lofie, kembali Sindi mendatangi dirinya dengan arah yang berlawanan.


" Sayang, jangan lupa nanti malam. Aku akan menunggu kamu! Ingat, jika kamu tidak datang kepada ku malam ini, aku akan nekat mendatangi kamu. Kamu tahu bukan Hanom, kalau aku wanita yang tidak bisa tidak dituruti segala inginku." ucap Sindi. Hanom sesaat diam mematung. Sindi berusaha pergi meninggalkan Hanom. Namun Hanom dengan cepat menahan lengan Sindi.


" Dan ingat, aku juga tidak suka diancam!" bisik Hanom. Sindi meringis karena cengkraman tangan Hanom terasa kuat dan sakit.


" Dan satu lagi! Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Aku sudah memiliki istri. Kamu harus ingat itu." kata Hanom.


" Dan aku tidak peduli!" sahut Sindi.


" Dan sejak kapan, kamu takut pada seorang wanita seperti istri kamu itu. Yang aku tahu, kamu hanya takut kepada ku saja. Kamu harus tahu, Hanom jika akulah yang paham akan fantasi liar kamu di atas peraduan." kata Sindi. Hanom tercekat tenggorokan nya. Sindi tersenyum puas menatap Hanom seperti tidak berkutik dengan ucapan nya.


" Kamu salah, aku sudah berubah dan hanya dengan lofie saja yang aku inginkan. Kamu bukan siapa- siapa aku lagi." sahut Hanom dengan tegas dan berani walaupun masih ada gejolak rasa dan rindu dengan Sindi. Tapi sekarang ini Lofie jauh lebih baik untuk Hanom. Sindi tentu saja terkejut dengan ucapan Hanom.


" Aku tidak yakin, jika kamu tidak mendatangi aku malam ini. Ancaman aku tidak sekedar isapan jempol saja." kata Sindi.

__ADS_1


__ADS_2