HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
I LOVE YOU YURIKA


__ADS_3

Yurika benar-benar meninggalkan rumah kontrakan an, setelah menghubungi suster kedua untuk menemani ibunya di rumah kontrakan nya. Suster pertama ada keperluan keluarga sehingga hari ini hanya setelah hari saja menemani ibunya di rumah. Setelah memastikan ibunya aman bersama dengan suster Ariana, Yurika ke rumah Bramantyo dengan pesan ojek online. Hingga beberapa saat akhirnya Yurika sampai di rumah kediaman Bramantyo.


Yurika yang sudah dikenal oleh satpam rumah itu, segera diijinkan masuk ke dalam.


" Apakah pak Bramantyo ada di dalam?" tanya Yurika sedikit khawatir jika Bramantyo benar-benar pergi menemui Claudia di apartemen nya.


" Ada, non! Sepertinya tuan muda Bramantyo sedang berenang." kata satpam penjaga rumah itu.


" Apa? Malam- malam seperti ini renang?" gumam Yurika.


" Eh, baiklah pak biar saya langsung saja ke sana. Terimakasih pak." ucap Yurika sambil melangkah dengan kaki mungilnya.


" Kehidupan orang kaya memang aneh. Malam- malam seperti ini masih berenang? Cuaca pun juga sedang dingin seperti ini. Apakah dunia sudah terbalik untuk kehidupan Bramantyo?" gumam Yurika. Yurika langsung menuju ke kolam renang yang berada di belakang rumah itu. Tentu saja tembus dan melewati ruang tengah, ruang dapur, ruang makan dan taman di belakang rumah. Kolam renang itu di sekeliling nya dihias dengan tanaman anggrek yang berwarna- warni.


Yurika sudah berada di belakang rumah itu, tepat di kolam renang milik tuan muda Bramantyo. Yurika duduk di kursi yang tersedia di sana, tidak jauh dari letak kolam berada. Yurika melihat Bramantyo sedang berenang di kolam itu. Mungkin saja belum melihat dirinya yang sudah duduk di sana sembari memperhatikan gerakan Bramantyo yang terlihat sangat lihai dalam berenang. Sampai akhirnya Bramantyo sampai ditepian dan naik ke atas. Bramantyo berjalan mendekati kursi santai nya di sana setelah mengambil minuman jus apel yang sudah tersedia di meja itu. Bramantyo kini melemparkan senyumnya ke arah Yurika yang melihat dirinya dengan tatapan takjub.


Yurika menatap tubuh Bramantyo yang dalam keadaan basah itu, bagian bidang yang lebar dengan perut yang rata membentuk sixpack sangat menggoda mata indahnya. Yurika menelan air liur nya sendiri menatap kekasih kontrak nya itu dalam keadaan telanjang dad@.


" Mau renang bersama aku?" ajak Bramantyo. Yurika menggeleng cepat.


" Dingin! Lagipula aku tidak bisa berenang." ucap Yurika. Bramantyo terkekeh.


" Itu tidak mungkin, bukannya kamu dulu adalah anak dari keluarga konglomerat juga? Rumahmu dulu tidak kalah seperti istana. Aku sangat tahu itu." kata Bramantyo.


" Itu dulu, tapi sekarang aku lupa bagaimana caranya mengatur nafas ketika berenang." sahut Yurika. Bramantyo terkekeh. Kini Bramantyo mendekati Yurika dan dengan cepat menggendong nya lalu menceburkan nya di dalam kolam itu lengkap dengan pakaian yang dikenakan oleh Yurika saat ini. Yurika tentu saja sangat terkejut dan belum. siap. Dengan sisa- sisa pengalamannya yang dulu pernah berenang akhirnya Yurika mampu berenang ketepian.


Bramantyo menyeburkan tubuh nya ke dalam kolam. Kini keduanya sama-sama di dalam kolam.


" Pakaian aku jadi basah, Bang Tyo." ucap Yurika sambil duduk di tepi kolam. Bramantyo berdiri di depan Yurika.


" Ayo turun lagi! Kita berenang sampai ke ujung sana." ajak Bramantyo.


" Tidak! Kamu lihat kan bang! Saat ini aku mengenakannya celana jeans dan kemeja lengan panjang. Ini menambah berat jika aku berenang sampai ke ujung." kata Yurika berusaha menolak.


" Ya sudah! Lepas semua pakaian kamu!" sahut Bramantyo. Yurika melotot matanya.


" Maksudnya kamu ganti saja pakai pakaian renang." ucap Bramantyo.


" Tidak!" tolak Yurika. Namun Bramantyo kembali menarik tangan Yurika hingga kembali masuk ke dalam air.


" Bang Tyo. Sudah malam, kita lanjutkan besok pagi saja. Bagaimana? Lagipula dingin sekali cuaca malam ini. Aku takut nanti kita demam." kata Yurika. Bramantyo memeluk pinggang Yurika.


" Dingin yah, kalau sudah seperti ini akan menjadi hangat." ucap Bramantyo. Yurika mulai berdesir aliran darahnya. Bramantyo mulai mengecup bibir Yurika yang basah, rasanya dingin akhirnya menjadi menghangatkan.


" Bang Tyo!" ucap Yurika lirih.


" Hem, ada apa?" tanya Bramantyo menghentikan kecupan bibir itu.


" Aku mengkhawatirkan kamu. Aku kira kamu sedang bersama Claudia?" ucap Yurika jujur. Bramantyo terkekeh.

__ADS_1


" Apakah kamu mulai cemburu dan tidak rela jika aku bersama dengan wanita lain?" tanya Bramantyo. Yurika mengangguk pelan.


" Benar! Aku menjadi takut kehilangan kamu, bang Tyo. Padahal hubungan kita hanya kekasih kontrak saja. Aku tahu, bang Tyo akan mengusir aku dalam kehidupan abang setelah kontrak ini berakhir. Tapi..." kata Yurika terhenti. Bramantyo kini malah menutup mulut Yurika dengan ciuman nya. Di dalam air kolam itu, Bramantyo mulai dengan aksi-aksi liarnya. Tidak ada orang lain di sana. Hanya mereka berdua di tempat itu. Bramantyo mulai menyusuri leher jenjang Yurika yang menggoda. Yurika sangat pasrah akan perlakuan hangat dari Bramantyo.


Bramantyo kini mulai menyusuri bagian dad@ milik Yurika. Yurika mendesis merasakan sensasi yang mulai menghangat ketika dingin cuaca disekitar.


Yurika mendorong dada bidang Bramantyo agar ada jarak dengan dirinya.


" Apakah setelah kontrak kita selesai, kita tidak akan lagi berhubungan bang?" tanya Yurika dengan mata yang mulai redup.


" Apakah kamu sudah mulai mencintai aku, Yurika?" tanya Bramantyo serius.


" Apakah aku boleh jika aku sudah merasakan itu. Ada rasa rindu dan takut jika kehilangan kamu. Takut jika wanita itu mengambil kamu dari aku." kata Yurika kini berdiri dan duduk di kursi santai di kolam itu. Bramantyo ikut mendekati Yurika dan menyambar handuk di sana. Bramantyo mulai mengusap rambut Yurika lalu setelah nya menutupkan ke bagian badannya yang basah.


" Sudah mulai dingin. Ayo kita masuk ke dalam dan ganti bajumu yang basah." ajak Bramantyo sambil melenggang masuk ke dalam meninggalkan Yurika. Bramantyo masih belum memahami perasaan nya. Namun bersama dengan Yurika dirinya sudah mulai terbiasa. Yurika berlari kecil mengejar Bramantyo yang masuk ke dalam rumahnya.


Sesampainya ke kamar pribadi Bramantyo, Yurika masih berdiri di depan pintu kamar. Bramantyo melihat keraguan dalam diri Yurika untuk masuk ke dalam.


" Cepat masuk dan ganti pakaian kamu!" kata Bramantyo seraya menarik tangan Yurika hingga masuk ke dalam kamarnya. Bramantyo menutup pintu kamarnya kembali. Bramantyo mulai mencari pakaian ganti untuk Yurika yang sudah banyak di lemari besarnya itu.


" Kamu pakai baju tidur aja yah!" kata Bramantyo sambil mengambilkan baju tidur untuk Yurika. Yurika masih berdiri mematung tidak jauh dari Bramantyo. Akhirnya entah kenapa Yurika memeluk Bramantyo dari belakang. Bramantyo tentu sangat terkejut, karena tidak biasanya Yurika mendahului memeluk nya. Yurika seperti takut akan kehilangan Bramantyo . Bramantyo membalikkan tubuh nya hingga kini keduanya saling berhadap-hadapan.


Bramantyo merangkum kedua pipi Yurika dan menatap mata Yurika yang berkaca.


" Hai, kamu kenapa gadis kecilku? Apakah ibu kamu sakit lagi? Apakah kamu butuh uang?" tanya Bramantyo. Yurika menggeleng cepat.


" Boleh!" sahut Bramantyo kini mengecup dahi gadis kecil nya dengan lembut.


" Jangan menyuruhku untuk meninggalkan kamu, ya bang! Karena jika itu kamu lakukan, aku benar-benar tidak sanggup." kata Yurika lirih.


" Sudahlah, ganti baju kamu dulu yah. Ini basah semua." kata Bramantyo sambil membantu melepaskan kancing kemeja yang dikenakan oleh Yurika hingga semuanya terlepas. Yurika masih tidak bergeming menatap Bramantyo dengan rasa rindu dan cinta yang mendalam. Yurika mengusap dada bidang itu yang masih basah. Yurika mulai mengambil inisiatif. Yurika kini malah memainkan bibir dingin Bramantyo. Kemudian mulai menciumnya dengan lama. Bramantyo mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuh nya. Kini Bramantyo sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Akhirnya mereka mulai saling bergelut dan menghangatkan.


" Aku tidak akan melepaskan kamu pergi! Kita segera menikah setelah ini. Aku yakin, kamu adalah wanita ku yang akan aku titipkan benihku di rahim kamu." bisik Bramantyo akhirnya. Kalimat itu sangat membuat lega dan tenang Yurika.


" Katakan kalau kamu mencintai aku, bang Tyo!" bisik Yurika.


" I love you, Yurika sayang!" bisik Bramantyo dengan suara yang mulai serak.


" I love you, bang Tyo. Lakukan apa yang kamu mau." kata Yurika. Bramantyo tersenyum menatap mata indah Yurika. Lalu keduanya kembali saling memberi dan menerima dalam kenikmatan dunia.


@@@@@@@


Kedua insan itu terlihat polos di atas peraduan. Dengan selimut tebal mereka saling berdekapan. Dalam kelelahan karena aktivitas yang menguras energi dan emosi, keduanya kini sama- sama terlelap .


Berjanji untuk saling mengisi. Berjanji untuk saling membahagiakan. Sepakat untuk tidak menyakiti. Ada rencana indah untuk mengikrarkan sebuah janji suci.


Yurika membuka matanya menatap wajah tampan yang kini mendekapnya. Yurika merasa sangat beruntung bertemu laki-laki itu. Yurika tidak pernah menyangka jika hatinya sudah terpaut namanya. Yurika tidak rela jika harus pergi meninggalkan nya.


" Ada apa, sayang? Kamu terbangun?" kata Bramantyo lirih yang tiba-tiba membuka matanya kerena lama dipandangi oleh Yurika sambil tangan Yurika mengusap lembut pipi pria itu.

__ADS_1


" Aku lapar, bang!" ucap Yurika. Bramantyo tersenyum mendengar nya.


" Kamu mau makan?" tanya Bramantyo rasanya masih enggan untuk bangun dari posisi enak itu. Memeluk Yurika dalam kehangatan dan merasakan damai itu.


" Bang Tyo tidak lapar?" tanya Yurika.


" Lapar, tapi masih malas bangun sayang! Jam berapa sekarang?" kata Bramantyo.


" Jam tiga pagi." sahut Yurika.


" Ya sudah, kita lihat ke dapur dulu." kata Bramantyo kini mulai membenarkan posisi nya. Keduanya masih duduk di atas kasur mereka. Lalu keduanya turun dari sana setelah mengambil handuk kimono untuk mereka berdua.


" Ayo, kita ke dapur dulu!" ajak Bramantyo seraya memeluk Yurika penuh kasih sayang.


" Aku ingin memasak untuk kamu, sayang!" ucap Yurika.


" Tidak usah, kita panaskan saja masakan tadi malam yang sudah disiapkan pelayan. Tapi kita malah belum memakannya." kata Bramantyo.


" Kalau begitu, besok pagi aku akan membuatkan masakan spesial buat kamu, deh." sahut Yurika akhirnya.


" Tidak usah, itu sudah menjadi tugas pelayan di rumah ini. Tugas kamu hanya melayani aku saja, sayang! Ini iga bakar atau ayam bakar? Ayo makanlah! Setelah ini kita lakukan lagi kegiatan yang enak- enak itu." ucap Bramantyo sambil tersenyum menyeringai.


Bramantyo menyuapi Yurika yang masih menatap dirinya tanpa berkedip.


" Makanlah dulu, gadis kecil! Kamu tidak akan kenyang hanya dengan menatap wajahku yang ganteng ini." ucap Bramantyo sambil memasukkan potongan daging iga bakar kesukaan Yurika.


" Enak!" ucap Yurika sambil tersenyum. Matanya masih tidak lepas melihat wajah Bramantyo.


" Yurika! Jangan memandangi aku seperti itu! Ayo makan!" kata Bramantyo kini malah menjadi salah tingkah karena ulah gadisnya. Yurika kini malah terkekeh melihat Bramantyo yang menjadi salah tingkah itu.


Yurika mengambilkan makanan itu lalu giliran dirinya menyuapi Bramantyo. Bramantyo membuka mulutnya dengan lebar. Keduanya jadi saling menyuapi. Senyum keduanya tersingging di bibir mereka.


" Kamu yakin, akan menikah dengan aku, kan bang?" tanya Yurika memastikan kembali keraguan nya.


" Iya, sayang!" sahut Bramantyo kini tidak ingin melihat lagi ada kegelisahan dari wanita kecilnya itu.


" Terimakasih bang Tyo! Kamu memilih diriku untuk menjadi pendampingan hidup kamu." ucap Yurika.


" Aku yang terimakasih Yurika sayang! Aku yang sering kamu panggil dengan om, akhirnya akan menjadi suami kamu. Jarak kita terpaut jauh. Aku 35 sedangkan kamu baru 20 tahun." ucap Bramantyo. Yurika nyengir kuda. Namun setelah itu memeluk Bramantyo dengan cepat.


" Aku mencintaimu bang! Kamu adalah om Tyo ku yang paling ganteng." ucap Yurika menggoda.


" Apa kamu bilang? Om?" sahut Bramantyo dengan cepat menarik hidung Yurika.


" Iya, iya, bang Tyo sayang!" ucap Yurika meralat kata- katanya.


" Ayo cepat makannya!" perintah Bramantyo akhirnya.


Keduanya akhirnya kembali saling menyuapi hingga makanan di atas piring mereka habis.

__ADS_1


__ADS_2