
Lofie sedang memilih- milih souvenir dari rak di toko yang menjual pernak- pernik kerajinan tangan di masyarakat itu. Sedangkan Hanom sedang ke toilet sebentar untuk melepaskan hajatnya yang sudah tidak dapat di tahan nya. Memang saat ini antara Lofie dan Hanom sedang berada di pantai, tempat wisata di kota yang mereka berdua kunjungi. Lofie terlihat clingak- clinguk ke kiri dan ke kanan mencari Hanom yang tidak kunjung kembali. Padahal sudah hampir setengah jam berlalu dari Hanom pergi meninggalkan Lofie.
Setelah Lofie membeli beberapa souvenir di kios itu, akhirnya Lofie mencari tempat toilet pria berada. Belum sampai ditempat yang hendak di tuju, di sebuah gang kecil tidak jauh dari parkiran, Lofie ditarik tangannya secara paksa oleh seorang dan mulai membungkamnya dengan saputangan, hingga Lofie menghirup sesuatu dari saputangan yang membungkamnya sampai kebagian hidungnya. Selanjutnya Lofie dibawa masuk ke dalam mobil oleh dua laki-laki kekar. Entah siapa laki-laki itu namun Lofie dilarikan dalam mobil itu.
Setelah keluar dari toilet pria, Hanom kembali ke kios dimana Lofie dia tinggalkan. Namun sesampainya ditempat itu, Hanom tidak mendapatkan Lofie di sana. Tentu saja Hanom bertanya kepada beberapa orang termasuk pemilik kios yang tadi melayani Lofie ketika membeli souvenir di tempat itu. Betapa panil Hanom dengan hilangnya Lofie. Tentu saja Hanom mencoba tenang dan menghubungi ponsel Lofie. Namun tidak diangkat oleh Lofie.
" Akhhhhh kamu di mana Lofie sayang?" gumam Hanom mulai mengkhawatirkan Lofie. Hanom mulai teringat akan Sindi yang telah mengancam dirinya. Hanom tentu saja langsung berprasangka buruk dengan Sindi.
" Ini pasti ulah Sindi." sangka Hanom lalu mencoba menghubungi Sindi. Sampai beberapa kali, tidak juga diangkat oleh Sindi. Hanom tidak bisa berpikir lagi. Kini Hanom menuju penginapan dimana Sindi menginap di tempat itu.
" Benar, aku harus menjumpai Sindi di hotel itu. Tidak salah lagi, pasti Sindi yang melakukan semua ini. Kalau terjadi macam- macam dengan Lofie, akan aku cincang- cincang Sindi.
Hanom berjalan dengan cepat menuju ke mobilnya. Dirinya tidak ingin terjadi apa- apa dengan Lofie. Sindi yang dikenalnya memang baik dan penyayang. Namun Sindi pun bisa bersikap nekat dan semakin terobsesi jika keinginan nya belum tercapai. Hanom mulai mengkhawatirkan Lofie.
Hanom mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tidak perduli dengan keselamatan dirinya.
" Lofie, tunggu aku! Aku akan menolong kamu." ucap Hanom seraya membelah jalanan yang penuh kelokakan.
Hanom mulai memasuki hotel yang bertingkat itu. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkiran, Hanom mulai menghubungi Sindi. Setelah Hanom menuliskan pesan chat di sana, barulah Hanom menelpon Sindi. Benar saja, Sindi yang telah membaca pesan dari Hanom bahwa dirinya saat ini sudah berada di tempat resepsionis di hotel tempat Sindi menginap, barulah Sindi menerima panggilan masuk dari Hanom. Sindi merasa menang karena Hanom datang lebih cepat dari rencananya.
"Ok, aku akan menjemput kamu di depan. Sabar yah Sayang." ucap Sindi. Hanom menahan amarah nya karena Sindi masih menyembunyikan keberadaan Lofie saat ini.
Tidak berapa lama Sindi tiba dan lalu mengajak Hanom mengikuti dirinya ke kamar tempat nya menginap.
" Hai, dimana kau sembunyikan istri aku?" ucap Hanom seraya mencekal lengan Sindi ketika Sindi berjalan melenggang di depannya.
" Sabar dong sayang! Kita bicara kan semuanya di dalam sambil melepaskan segala kerinduan kita." sahut Sindi sambil tersenyum dan tetap melenggang melangkah menuju kamarnya.
" Awas saja kalau terjadi apa- apa dengan Lofie, istri aku. Aku tidak akan membiarkan kamu nyenyak tidur mu." ancam Hanom.
" Uhuy, aku menjadi takut!" sahut Sindi meledek.
@@@@@@@
Di dalam kamar hotel.
__ADS_1
" Di mana Lofie kau sembunyikan, hah?" tanya Hanom. Sindi membuka beberapa kancing kemejanya hingga terlihat belahan dad@ nya. Sindi mulai minum wine yang sudah ia tuang di gelasnya sedari tadi. Sindi meminumnya sampai berceceran di mulut dan sengaja ia jatuhkan di bagian kemejanya. Bahkan sampai di bagian dua gundukan yang masih terlihat kenyal dan padat berisi itu. Hanom menelan salivanya. Sindi tersenyum menyeringai.
"Aku rasa, Lofie saat ini sudah bersenang-senang dengan dua anggota ku. Kamu jangan khawatir, kita juga akan bisa melakukan itu seperti istri kamu itu." ucap Sindi. Hanom seketika marah.
" Badji ngan kau Sindi! Kalau terjadi sesuatu dengan Lofie, aku akan membuat kamu menderita." ancam Hanom.
" Woy, woy tenang saja kamu sayang! Lofie tidak akan kenapa- kenapa. Dia pasti akan merasakan pengalaman ber cinta yang luar biasa dengan dua pria keren dan maco itu. Dan kita pun sama. Kita akan melakukannya di sini sampai pagi. Dan kamu tahu, minuman yang kamu minum itu sudah aku beti obat penambah ke agresifan kamu. Kamu pasti semakin liar di atas ranjang ini.Hahahaha." kata Sindi. Hanom mulai merasakan gerah seluruh badannya. Umpatan dari mulut Hanom pun mulai keluar mengatai Sindi. Sindi semakin tertawa terbahak- bahak atas ucapan Hanom atas makiannya.
Hanom berusaha tetap sadar namun tubuhnya semakin tidak nyaman. Hal itu sangat menyiksa Hanom. Hanom mulai berlari dengan semponyon menuju ke kamar mandi. Setelah melepaskan seluruh pakaiannya, Hanom mulai masuk ke bathub ruangan itu. Sesaat Hanom menjadi segar dan tubuhnya mulai netral. Namun setelah Hanom keluar dari kamar mandi itu, tubuhnya semakin tidak nyaman. Sindi tertawa melihat kepanikan Hanom.
" Ayo kemarilah, Hanom sayang! Aku mengajak kamu enak- enak bukan untuk menyiksa kamu. Lakukan kepadaku jika kamu menginginkan itu. Kenapa kamu bertahan?" kata Sindi yang kini sudah berbaring di atas peraduan itu dengan pose sudah siap dihujam segala serangan-serangan dari Hanom. Namun Hanom berusaha menahan nya.
Hanom mendekati Sindi lalu mulai mengelus bagian leher Sindi. Sesaat Sindi terpejam dan menikmati segala sentuhan tangan Hanom. Namun tanpa disadari oleh Sindi tangan Hanom mulai mencekiknya.
" Katakan d imana istri aku? Jika tidak kamu katakan, aku akan membunuhmu dan menjatuhkan kamu dari atas lantai kamar ini." ancam Hanom. Sindi memegang tangan Hanom berusaha melepaskan cekikikan tangan Hanom ke lehernya.
" Le.. lepas." kata Sindi.
" Di mana Lofie?" tanya Hanom dengan suara yang keras.
" Le.. pas du lu." ucap Sindi dengan susah payah. Hanom melepaskan cekikikan itu. Namun Hanom tetap mengunci Sindi supaya tidak bisa lepas dari Hanom.
" Ayo tunjukkan kamarnya!" kata Hanom seraya mengunci Sindi dan mendorong nya dari belakang untuk menunjukkan kamar dimana Lofie berada. Kedua tangan Sindi dikunci ke belakang oleh Hanom. Sindi tidak bisa berkutik.
Dengan sekali ketukan pintu kamar dimana ada Lofie itu dibukakan oleh anak buah Sindi.
" Nona?" ucap anak buah Sindi dengan bodi yang kekar. Kedua laki-laki anak buah Sindi itu menatap Sindi dengan penuh gairah. Kenapa tidak, Hanom membawa Sindi dalam keadaan hampir polos dan hanya tersisakan secuil kain yang menutupi bukit kecilnya saja. Kedua anak buah Sindi naik jakunnya.
Di mana Lofie?" tanya Hanom masih menahan mengunci kedua tangan Sindi hingga kedua gundukan milik Sindi seolah menantang di mata dia anak buah nya.
" Kak Hanom!" teriak Lofie yang posisi nya kedua tangan nya di ikat. Lofie berada di bawah lantai. Hanom melihat kondisi Lofie masih dengan pakaian lengkapnya. Sepertinya belum terjadi sesuatu seperti yang dikatakan oleh Sindi.
" Bawa kemari Istri aku itu!" kata Hanom menyuruh salah satu anggota dari Sindi. Anak buah Sindi melihat Sindi untuk meminta ijin. Dengan isyarat Sindi, akhirnya anak buah Sindi itu membawa Lofie ke dekat Hanom.
" Lepaskan ikatan nya!" perintah Hanom. Dengan cepat anak buah Sindi membuka ikatan tangan Lofie.
__ADS_1
" Kita barter!" kata Hanom. Akhirnya anak buah Sindi dengan Hanom sama- sama mendorong sandera mereka masing-masing. Kini Lofie berada bersama dengan Hanom. Sedangkan Sindi dalam pelukan anak buah Sindi.
" Hai, silahkan kalau kalian berdua mau bersenang-senang dengan wanita ini. Dan kamu kamu bisa bersenang-senang bersama kedua anak buah kamu." kata Hanom seraya menarik tangan Lofie keluar dari kamar itu dan menutup kamar itu dengan keras.
" Sialan! Rencanaku tidak berhasil." umpat Sindi. Kedua anak buah Sindi mendekati tubuh Sindi yang terbuka dan terlihat menggairahkan. Kedua anak buah Sindi saling pandang dan seperti nya tidak akan melewatkan rejeki nomplok hari ini.
" A.. a. apa yang akan kalian lakukan? Aku ini yang membayar kamu. Jangan lakukan itu! Pergi!" ucap Sindi seraya mundur beberapa langkah menjauh dari kedua anak buahnya yang sudah menyeringai. Keduanya kini telah membuka celana panjang dan kaos oblong nya.
" Aku duluan, bang!" kata pria yang lebih jangkung.
" Tidak, kita lakukan bersama- sama. Ini akan lebih mengasyikkan. Bukannya dia punya beberapa lubang?" ucap salah satu pria anak buah Sindi itu dengan tertawa menyeringai.
" Apa? Jangan lakukan itu monyet!" maki Sindi.
" Jangan melawan, Nona! Lebih baik kamu pasrah dan menikmati permainan liar bersama kami berdua." kata anak buah Sindi sambil mulai menyerang Sindi dengan mambabi buta. Keduanya benar-benar membuat kedua kaki Sindi bergetar dan lemas. Akhirnya Sindi pasrah dalam kungkungan liar kedua laki-laki kekar itu.
Betapa Sindi tidak ada harga dirinya, bahkan hal. itu dilakukan cuma- cuma pada laki-laki rendah an anak buahnya sendiri.
" Tenang saja nona, setelah ini nona pasti akan ketagihan dengan kami." kata anak buah Sindi yang kini mulai liar mengobrak-abrik harga diri Sindi.
" Monyet kalian!" maki Sindi. Sampai akhirnya Sindi merelakan dirinya diguncang dengan hebat oleh kedua anak buahnya sendiri.
@@@@@@@
" Kak Hanom, aku takut!" ucap Lofie yang kini masih dalam pelukan suaminya.
" Tenang sayang, aku sudah di sini bersama dengan kamu. Mereka sudah tidak akan berani mengganggu kamu dan kita lagi. Percaya sama aku yah. Ayu kita kembali ke penginapan." kata Hanom seraya menuntun Lofie masuk ke dalam mobilnya. Hanom membawa pergi Lofie dari hotel itu.
" Rasakan kamu Sindi! Kamu kena senjata makan tuan sendiri." pikir Hanom.
" Kakak aku lapar!" kata Lofie. Hanom tersenyum melihat wajah istrinya yang sekarang berubah menjadi imut.
" Baiklah, kita akan sempai ke penginapan dan kamu boleh pesan makanan dan minuman apa saja. Oke?" kata Hanom seraya mengusap puncak kepala Lofie dengan tangan kirinya.
' Kak Hanom, terimakasih sudah menyelamatkan aku. Kalau tidak, entah apa yang akan dilakukan oleh dua laki-laki itu terhadap aku." ucap Lofie.
__ADS_1
" Iya, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada kamu, sayang. Aku akan melindungi kamu karena kamu adalah istri aku." kata Hanom. Lofie tersenyum menatap wajah suaminya itu.
" Bersyukur aku memiliki suami yang pemberani seperti kamu kak Hanom. Selain berani menangkap kecoak, kakak juga berani menghadapi penculik seperti mereka." kata Lofie. Hanom terkekeh mendengar kata kecoak di sebut oleh Lofie.