
Kesepakatan telah dibuat antara Bramantyo dan Yurika. Yurika karena ingin membalaskan dendam ayahnya lah, akhirnya Yurika dengan senang hati menerima perjanjian itu dengan Bramantyo. Karena baik keluarga besar Petir maupun Bramantyo sendiri memiliki kekuatan itu.
Di dalam mobil sport yang berwarna elegan itu, Bramantyo dan juga Yurika sudah berada di dalamnya. Yoyo? Yoyo terpaksa mengendarai mobil Alphard yang digunakan ketika keberangkatan menuju puncak. Banyak barang- barang yang sudah dibawa dan diletakkan di dalam mobil itu. Yoyo bertugas akan membawa nya ke rumah pribadi Bramantyo. Bukan di rumah besar kediaman keluarga Piter.
Selama perjalanan dari puncak, mobil yang dikendarai oleh Bramantyo telah diikuti oleh mobil lain. Bramantyo semakin mempercepat laju mobilnya. Namun ada rasa penasaran dalam benak Bramantyo yang melihat dua mobil tiba-tiba mengikuti mobilnya.
" Ada apa ini? Apakah saat ini kamu sedang dicari seseorang? Atau kamu sedang bermasalah?" tanya Bramantyo sambil melihat kaca spion nya. Mobil yang mengikuti nya masih setia membuntuti nya.
" Kemarin lusa, beberapa orang telah mendatangi aku karena ingin menagih hutang itu. Hutang yang telah ditinggalkan oleh ayahku. Ini adalah salah satunya. Entah masih beberapa lagi, ayah melakukan transaksi pinjaman kepada orang-orang seperti ini." terang Yurika.
Bramantyo menarik nafasnya.
" Aku menjanjikan hari ini untuk membayar hutang kepada mereka." kata Yurika.
" Berapa?" tanya Bramantyo.
" Tiga milyar! Itu sudah beserta bunga- bunganya. Tapi aku baru mendapatkan satu milyar itu dari kamu." sahut Yurika.
" Gila! Rentenir kelas kakap. Padahal satu milyar pinjaman nya, bukan?" tebak Bramantyo. Yurika mengangguk cepat.
Tiba-tiba dari arah belakang dua mobil itu sudah menghalangi laju pergerakan mobil. yang dikendarai oleh Bramantyo. Mau tidak mau Bramantyo secepatnya mengerem mobilnya. Yurika dan Bramantyo saling pandang. Bramantyo membuka dasbor di mobilnya. Ada pistol yang sengaja dia letakkan di sana. Bramantyo memastikan kalau masih ada peluru di dalam nya.
" Sial! Masih tersisa tiga peluru di dalamnya." umpat Bramantyo. Yurika sudah ketakutan membayangkan akan ada pertengkaran dan baku hantam. Bramantyo menyembunyikan senjata api itu di balik jaketnya. Yurika sudah ketakutan. Beberapa laki-laki berbadan besar sudah turun dari mobil itu dan mendekati mobil milik Bramantyo. Yurika sedikit khawatir dan menatap Bramantyo.
Sebelum laki-laki itu mendekati mobil Bramantyo lebih dekat lagi, Bramantyo keluar dan turun dari mobilnya diikuti oleh Yurika. Namun laki-laki itu tidak memperdulikan Bramantyo. Keempat laki-laki itu hanya berkepentingan dengan Yurika.
__ADS_1
" Sudah kau siapkan uangnya, gadis kecil?" tanya salah satu laki-laki itu masih dengan perangai yang tidak kasar.
" Apakah bisa aku beri sepertiganya terlebih dahulu?" tawar Yurika. Mereka semua tertawa.
" Boleh saja! Sisanya kamu boleh membayarnya dengan yang lain." sahut salah satu dari anggota preman itu.
" Roy! Kata bos, gadis ini suruh kita bawa ke markas." bisik salah satu preman itu yang membisikkan ke telinga ke salah satu preman yang bernama Roy.
"Ayo ikut dengan kami!" kata Roy dan beberapa anggota preman itu sambil menarik paksa Yurika.
" Kemana? Bukannya kalian hanya menginginkan uangnya? Aku akan membayarnya dan melunasinya." kata Yurika sambil melihat ke arah Bramantyo yang sedari tadi masih berdiri di dekat mobilnya seperti seorang sopir saja. Bramantyo yang sudah melihat wanita nya diganggu, mulai bereaksi. Senjata api yang sedari tadi disembunyikan nya, ia keluarkan dengan cepat untuk mengancam dan menakuti anggota preman itu. Sontak semua preman itu tertawa sinis dan beralih menyerang Bramantyo secara keroyokan. Namun Bramantyo sudah dengan cepat menembakkan sasarannya ke bagian paha ke salah satu preman itu. Anggota preman yang lain menjadi ketakutan karena Bramantyo benar- benar membawa senjata api itu.
" Bagaimana ini bos?" tanya salah satu preman itu.
" Sementara kita balik badan. Kita tidak bisa membiarkan Joni kehabisan darah karena peluru itu." ucap Boy.
" Aku tunggu waktu itu! Cari aku, Bramantyo Piter Atau cari aku di Markas Singa." tantang Bramantyo.
Preman yang mendengar kalau laki-laki yang di hadapan nya adalah anggota keluarga Piter yang punya kekuatan dan kekuasaan itu menjadi Bergidik ngeri. Semua anggota preman itu bergegas masuk ke dalam mobilnya. Bramantyo segera mendekati Yurika yang duduk berjongkok di dekat mobil itu. Matanya ditutup dengan kedua telapak tangannya. Bramantyo mengangkat bahu Yurika lalu memeluk nya.
" Ayo masuk ke dalam mobil lagi! Orang- orang itu sudah pergi." kata Bramantyo sambil membukakan pintu samping mobilnya dan menuntun Yurika masuk ke dalam mobilnya. Bramantyo pun masuk ke mobilnya kembali.
" Jangan khawatir! Mereka hanya segerombolan preman biasa saja. Mereka tidak ada kekuatan nya." ucap Bramantyo. Yurika menatap ke arah Bramantyo.
" Terimakasih!" kata Yurika pelan.
__ADS_1
" Hanya itu?" sahut Bramantyo menggoda. Yurika mengerucut bibirnya. Bramantyo mendekati Yurika dan merapikan rambut Yurika.
" Mulai sekarang, tidak ada seorangpun yang bisa mengganggu mainan aku." bisik Bramantyo sambil mengusap dengan lembut pipi Yurika. Bramantyo lalu mulai menjalankan mobilnya kembali.
" Kita sudah terlambat! Kawan-kawan ku sudah lama menunggu di tempat pesta." ucap Bramantyo sambil mempercepat laju mobilnya. Yurika ketakutan dan hanya menutup mata nya, tidak berani melihat ke depan.
" Tuan muda!" teriak Yurika.
" Apa?" sahut Bramantyo keras.
" Om Bramantyo!" sebut Yurika kembali dengan keras.
" Apa om?" sahut Bramantyo tidak suka jika dipanggil dengan om.
" Bang Tyo!" teriak Yurika masih ketakutan karena Bramantyo menjalankan mobilnya sangat cepat.
" Ada yang lebih romantis lagi tidak panggilan untuk aku?" ucap Bramantyo dengan suara keras. Yurika membuka matanya dan menoleh ke arah Bramantyo.
" Bang Tyo, sayang! Tolong jangan terlalu cepat mengemudi nya. Aku takut!" kata Yurika. Bramantyo tersenyum namun kecepatan itu masih tetap sama. Bramantyo ingin segera sampai di acara pesta kecil itu karena kawan-kawan nya sudah lama menunggu dirinya.
" Tenang lah! Sebentar lagi kita sampai, sayang!" kata Bramantyo. Yurika kembali memejamkan matanya.
Tidak berapa lama, Bramantyo masuk ke tempat parkiran di sebuah kafe yang cukup mewah dan elegan. Yurika terlihat masih memejamkan matanya. Bramantyo dengan jahil mendekati wajah yang menggemaskan itu. Bramantyo mengecup lembut bibir tipis itu. Yurika seketika membuka matanya. Matanya membulat seketika. Bramantyo tersenyum melihat reaksi Yurika yang terkejut itu.
" Ayo kita turun! Kita sudah sampai!" ajak Bramantyo. Yurika terlihat masih kebingungan.
__ADS_1
" Kenapa? Mau dicium lagi, supaya kamu sadar?" goda Bramantyo.
" Tidak! Aku lapar bang Tyo! Sedari tadi kita tidak jadi mampir untuk makan." protes Yurika. Bramantyo seketika tergelak tawanya.