HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
AKHIRNYA


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 00.15, Citra masih tampak gelisah malam itu. Matanya enggan diajak untuk sejenak tidur dan mengistirahatkan pikiran yang tidak menentu. Sedangkan Satria kini malah sudah terlelap dalam tidur nya. Hampir satu jam lebih Citra berada di dalam kamar mandi dan dirinya sengaja berada di dalam kamar mandi itu lantaran dirinya belum siap untuk menghadapi serangan yang membuat jantung nya brrdetak dengan hebat. Pikiran- pikiran konyol dan khayalan yang buruk itu terlintas dalam pikirannya mengenai malam pertama yang pernah ia pahami lewat video dewasa. Dari sanalah Citra menjadi bergidik ngeri akan hal itu.


Satria sudah sangat letih dengan seharian ini bersikap ramah terhadap saudara dekat maupun jauh yang memberikan ucapan selamat atas pernikahan nya dengan Citra. Menunggu Citra yang baginya sangat lama itu, membuat Satria jengah dan tertidur dalam keadaan belum mandi. Satria masih dengan celana pendeknya. Namun saat ini Satria terlihat meringkuk lantaran kedinginan. Suhu AC ruangan kamar pengantin itu disetel Satria dingin. Satria belum sempat menyelimuti dirinya lantaran benar-benar ketiduran karena kecapean.


Citra menatap laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya itu dengan rasa kasihan. Betapa sepanjang malam ini dirinya tidak menjalankan kewajiban nya sebagai istri untuk hari pertamanya. Sedangkan sekarang ini sudah lewat jam dua belas malam. Itu artinya Citra dan Satria melewatkan malam pertama mereka. Citra akhirnya mengambilkan selimut tebal itu dan menyelamatkan ke tubuh Satria. Pelan- pelan tubuh yang tidak berbaju dan hanya mengenakan celana pendek itu akhirnya merasakan kehangatan dari selimut yang menutupi tubuh nya. Citra tersenyum menatap wajah tampan yang dulunya adalah majikan nya. Kini bisa menjadi suaminya. Ini seperti cerita komik yang penuh fantasi dan cerita khayalan yang enggak banget.


Karena kelelahan, Citra akhirnya membaringkan tubuh nya di sebelah Satria. Seperti kebiasaan nya, Citra kalau tidur tidak mengenakan bra walaupun mengenakan pakaian tidur nya. Citra memiringkan tubuh nya menatap laki-laki di sebelah nya sampai merasakan puas.


" Laki-laki ini benar-benar tampan. Apakah benar dia sudah menjadi suami aku? Satria!" gumam Citra. Citra mengukurnya tangannya mengusap pipi pria yang meringkuk menghadap dirinya. Citra pun sama halnya memiringkan tubuh nya hingga keduanya saling berhadapan.


" Satria Piter! Pipinya halus dan lembut sekali. Seorang laki-laki yang suka perawatan. Hemm." pikir Citra sambil tersenyum.


Tiba-tiba saja tangan Citra yang sedang mengusap pipi Satria ditangkap oleh Satria dan tangan itu diciumnya pelan.


" Eh?" Citra terkejut. Namun Satria masih tertidur. Dalam keadaan seperti ini, Citra sudah sangat mengantuk. Tangannya masih digenggam oleh Satria. Sampai keesokan harinya keduanya tidak bisa bangun pagi. Hingga pukul 10.00 Satria terbangun dan mendapatkani dirinya tidur bersama Citra saling berpelukan. Satria mengecup kening Citra pelan. Mata itu berangsur-angsur membuka.


" Selamat pagi, Citra! Eh, istri ku." goda Satria dengan pelan.

__ADS_1


" Pagi, kak Satria!" sahut Citra.


" Sepertinya kita sudah kesiangan dan tidak ada yang berani membangunkan kita." ucap Satria. Citra tersenyum.


" Iya, hem aku akan membuatkan kopi untuk kamu kak." kata Citra.


" Eh tidak usah!" Sahut Satria dengan cepat mencegah Citra bangkit dari tempat tidur nya. Satria bergegas mengunci tangan Citra dan mulai menindihnya.


" Kita sudah melewatkan malam pertama. Jadi...." ucap Satria dan dengan tanpa kata- kata lagi Satria segera saja mengeksekusi Citra dengan serangan pagi yang menjelang siang itu. Citra sudah tidak bisa mengelak, hanya suara yang erotis lolos begitu saja dari bibir nya. Satria semakin bersemangat mendengar nya. Dengan menggigit bibir bawahnya Citra menahan segala sesuatu yang baru saja ia rasakan.


" Laki-laki ini benar-benar lihat dan terampil dalam memanjakan seorang wanita. Semoga setelah ini hanya aku saja yang akan didatangi nya. Aku Citra adalah istri dari Satria Piter tidak akan membiarkan suamiku berpaling dengan wanita lain." batin Citra dalam hati.


Kabar pernikahan Satria dengan pengasuh neneknya didengar sampai telinga Milar. Milar benar-benar seperti kebakaran jenggot. Siang itu Milar sudah berada di rumah Satria. Milar hendak menemui Satria, kenapa Satria tidak menjadikan dirinya istri atau pendamping nya dan malah memilih wanita kampungan yang tidak berkelas.


Milar sudaj duduk di ruang tamu. Pelayan rumah itu menyuruhnya untuk menunggu sampai tuan mudanya turun dari lantai atas bersama istri nya. Milar tentu saja semakin geram lantaran dirinya sudah menunggu hampir satu jam lebih, Satria tidak kunjung menemui dirinya. Akhirnya Milar nekat naik ke anak tangga tanpa sepengetahuan pelayan rumah itu.


Milar mulai menggedor pintu kamar utama Satria dimana Satria saat ini sedang bersama istrinya, Citra. Satria yang masih berbaring lemas bersama istrinya setelah melakukan kegiatan intens yang membuat istrinya terperangah akan keperkasaan nya, enggan untuk membuka pintu kamarnya. Apalagi suara wanita itu sudah sangat dikenali oleh Satria.

__ADS_1


" Kak Satria! Siapa yang mencari kak Satria?" tanya Citra yang kini masih dipeluk erat Satria. Keduanya masih polos belum mengenakan pakaian.


" Jangan dihiraukan! Orang stress kali." sahut Satria. Citra mengerutkan dahinya.


" Apakah setelah ini akan banyak wanita-wanita yang mendatangi kamu lantaran memprotes kak Satria lantaran sudah menikah dengan aku? Dan aku akan jadi bulan- bulanan karena mereka menghina aku." kata Citra seperti keluhan.


" Aku pastikan aku akan melindungi kamu." ucap Satria.


Suara Milar masih terdengar di telinga Satria dan juga Citra. Milar memanggil nama Satria dan memintanya untuk segera keluar dan menemui dirinya. Namun Satria tidak menyahuti dan membuka kan pintu kamarnya. Hingga pada akhirnya Satria menghubungi sekuriti rumah nya supaya mengusir Milar dari rumahnya.


" Kak Satria! Kamu yakin akan mengusir wanita itu dan tidak mau menemuinya?" kata Citra.


" Iya, kenapa? Saat ini aku sudah menikah dan memilih kamu sebagai istriku. Sekarang ini mereka bukan lagi siapa- siapa ku." ucap Satria. Citra tersenyum mendengar nya.


" Semoga saja apa yang kamu ucapkan sesuai dengan tindakan kamu." sahut Citra. Satria tersenyum menatap wajah Citra yang kini wajahnya terlihat pucat lantaran perbuatan nya tadi. Satria benar-benar membuat Citra tidak berdaya dan beberapa kali Satria melakukan itu terhadap Citra.


" Apakah kamu mulai lapar?" tanya Satria. Citra dengan cepat mengangguk kepalanya.

__ADS_1


" Kamu mandi sana dulu, aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar kita." kata Satria lagi. Citra segera turun dari ranjang lebar dan mewah itu lalu menyambar handuk lebar itu untuk menutupi tubuh nya. Citra segera masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.


Sementara Satria sudah mulai menghubungi pelayan di rumah nya untuk mempersiapkan makanan untuk makan siang mereka.


__ADS_2