HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
SATRIA PITER 3


__ADS_3

Di mansion pribadi Satria Piter.


Di kamar yang luas, mewah, dan juga elegan, seorang laki-laki dengan memiliki tubuhnya bersih, putih sedang melakukan massage. Seorang wanita yang memiliki paras yang cukup manis mulai melakukan tugasnya dengan tangannya yang terampil, mengusap, memijat, dan menekan otot- otot yang kuat milik Satria. Ketika tekanan itu sedikit keras, Satria sedikit meringis menahan sakit, karena letak yang ditekan oleh si wanita terapis itu memang syaraf- syaraf yang mengalami sumbatan.


" Sedikit pelan saja! Aku tidak biasa sakit. Kamu cukup menekankan nya dengan lembut saja. Mengerti?" ucap Satria. Wanita terapis itu mengerti.


" Siapa nama kamu?" tanya Satria. Wanita manis itu tersenyum.


" Saya Dwita, tuan muda." sahut wanita manis itu yang menyebut dirinya Dwita.


" Bagus nama kamu!" kata Satria. Dwita tersenyum tidak terlalu menanggapi dan tetap menjalankan tugasnya me massage dan menerapi badan menggoda milik Satria.


" Sudah punya suami?" tanya Satria sambil menengok ke arah Dwita. Dwita tersenyum.


" Belum, tuan muda! Saya masih gadis." sahut Dwita.


" Oh bagus lah! Berapa umur kamu?" kata Satria mulai kepo.


" 21 tahun, tuan muda!" sahut Dwita.


" Umur yang sudah matang! Umur yang mulai mengenal dan mempraktikkan pengalaman di ranjang." ucap Satria dengan datar. Dwita tersenyum malu.


Walaupun hatinya sudah mulai tidak menyukai kata- kata Satria, Dwita tetap menunjukkan senyuman nya. Baginya dia tetap bisa memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan barunya. Dwita tetap mengerjakan tugas nya menyelesaikan pijatan nya dan juga terapinya.


" Apakah kamu sudah memiliki pacar?" tanya Satria. Dwita menjawab dengan cepat.


" Sudah!" jawab Dwita bohong. Dwita tidak ingin laki-laki itu semakin jauh dengan khayalan nya dan berusaha mendekat atau merayunya.


" Tetapi aku suka wanita yang sudah memiliki pacar." goda Satria tidak mau kalah. Dwita mengerutkan keningnya.


" Kenapa?" tanya Dwita. Satria tersenyum.


" Bisa merebut milik orang lain itu suatu kepuasan tersendiri, nona!" jawab Satria asal. Padahal selama ini. Satria benar-benar tidak minat dengan wanita beristri atau memiliki pacar.


Dwita mulai memijat bagian kaki. Satria yang hanya mengenakan celana boxer dan ditutupi handuk lebarnya mulai merasakan sentuhan tangan Dwita yang lembut dan hangat. Apalagi Dwita mulai merayap tangannya di ujung pangkal paha. Satria memejamkan matanya.


" Lebih lembut di sana!" kata Satria lirih. Dwita semakin menekannya keras. Satria bangun dari tidur telungkup nya.


" Apakah kamu suka melawan, hah?" ucap Satria dengan mata tajam ke Dwita.

__ADS_1


" Tuan muda! Saya ini bukan hanya merilekskan tubuh anda, namun saya juga memberikan terapi kepadamu tuan muda! Jadi diam dan nikmati saja pelayanan jasa saya. Oke?" ucap Dwita kini mulai emosi.


Satria mendorong tubuh Dwita hingga Dwita terbaring di ranjang itu. Satria kini mulai mengunci dan menghimpit nya. Dwita mulai panik dan ketakutan.


" Tuan muda! Maaf! Maaf!" ucap Dwita mulai memohon, takut kalau Satria berlaku tidak sopan dan senonoh dengan dirinya.


Dwita kini merasakan sesuatu yang keras menekan bagian pangkal bawahnya. Dwita mulai tidak beraturan jantungnya. Satria semakin ingin membuat Dwita ketakutan.


" Tuan! A.. a.. apa yang tuan muda lakukan? Menyingkir lah dari atas tubuh saya! Saya harus menyelesaikan tugas saya, me massage anda!" kata Dwita.


" Cukup! Aku akan membayar kamu lebih. Lakukan itu kepada ku sekarang!" kata Satria kini dengan nafas yang mulai memburu. Dwita semakin takut.


"Tidak tuan! Saya tidak melayani seperti itu!" sahut Dwita sambil berusaha mendorong tubuh Satria dari atas tubuhnya yang telah mengunci dirinya.


" Apakah kamu akan menolak jika aku beri kamu 10 juta untuk memanaskan ranjang ini?" kata Satria. Dwita menggelengkan kepala nya cepat.


" Maaf, tuan muda! Sungguh, saya tidak tertarik dengan semua itu." sahut Dwita. Satria semakin geram dan penasaran.


" Apa? Kamu berani menolak aku?" kata Satria dengan amarah. Satria mulai melepaskan kuncian nya terhadap Dwita. Dwita bernafas lega.


" Maaf, tuan muda! Saya benar-benar tidak bisa." kata Dwita sambil membungkukkan badannya setelah dengan cepat turun dari ranjang itu.


" Tuan muda! Saya permisi tuan!" pamit Dwita. Satria menunjukkan sikap dingin nya.


" Aku tidak menyangka, kalau aku telah ditolak oleh gadis itu. Bahkan dia hanya seorang terapis saja." kata Satria dengan amarah nya.


*******


Suara ketukan pintu kamar nya terdengar. Satria membukakan pintu kamarnya. Topan berdiri didepan pintu kamar tuan mudanya bersama dengan Citra. Satria tersenyum lega. Paling tidak dengan kedatangan Topan bersama Citra akan mengobati kekecewaan dan kemarahan nya dari penolakan terapis wanita tadi.


" Citra, ini tuan muda Satria!" kata Topan pelan kepada Citra. Citra mengerti.


" Baiklah, tinggalkan kami berdua!" perintah Satria. Topan memahami kalau tuan mudanya saat ini sedang menginginkan Citra.


Satria tanpa banyak bicara mulai mendekati Citra.


" Tuan muda!" sebut Citra mulai panik karena Satria kini mulai mendekati dirinya hingga jarak itu mulai mengikis.


" Ingat! Ketika kita dalam satu ruangan seperti ini, panggil aku Mas Satria atau panggilan sayang. Oke?" bisik Satria.

__ADS_1


" Ba. bagaimana bisa?" sahut Citra.


" Supaya kita lebih intim." kata Satria kini mulai mengunci Citra.


" Tuan muda! Tuan! Jangan lakukan itu!" ucap Citra sambil berjalan mundur menjauhi Satria.


" Apakah kamu tidak menginginkan uang yang banyak?" ucap Satria.


" Ingin! Ingin tuan muda!" sahut Citra.


" Layani aku sekarang!" perintah Satria.


" Tapi.. tapi aku tidak pernah..."sahut Citra. Satria tersenyum menyeringai.


" Bohong! Zaman sekarang mana ada seorang gadis seusia kamu tidak pernah melakukan nya dengan pasangan kamu." ucap Satria.


" Benar tuan! Saya akan melakukan pekerjaan apa saja asal tidak melakukan dan menjual harga diri dan kehormatan saya, tuan!" kata Citra.


" Bagus! Bahkan kamu sudah bisa menceramahi aku?" sahut Citra.


" Maaf, tuan! Saya tidak bermaksud..." ucap Citra.


" Hah, sial! Kenapa hari ini aku bertemu dengan dua gadis kampungan yang menolak aku secara terang- terangan?" kata Satria. Satria kini membanting pintu kamarnya setelah meninggalkan kamarnya. Sedangkan Citra hanya mematung dan dalam hati bersyukur dirinya masih tetap bertahan dengan pandangan hidupnya.


" Walaupun aku butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari dan memenuhinya kebutuhan aku dengan adik aku, aku tidak akan menjual harga diri dan kehormatan aku." gumam Citra. Citra melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu mencari keberadaan Topan.


Sesampainya di bawah, lantai satu Citra bertemu dengan Topan.


" Om Topan! Saya permisi pulang! Maaf, aku tidak bisa melakukan pekerjaan seperti itu." kata Citra. Topan mengernyit kan dahinya.


" Pekerjaan apa? Dan kenapa kamu ingin cepat pulang? Bahkan kamu belum mengerjakan pekerjaan kamu." kata Topan.


" Untuk melayani tuan muda di ranjang?" tuduh Citra.


" Bukan! Maaf, itu tadi hanya kesalahan pahaman saja. Tuan muda Satrio tidak bermaksud melecehkan kamu. Maaf Citra!" kata Topan.


" Lalu tugas dan pekerjaan aku yang sebenarnya apa, om Topan?" tanya Citra.


" Soal itu, kita tunggu tuan muda Satria saja." kata Topan. Citra mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


__ADS_2