
" Mulai saat ini bukalah hati kamu! Dan tinggalkan kebisaan buruk kamu dari kenakalan kamu yang suka bermain dengan wanita." ucap nenek Hindun. Satria diam lalu memikirkan apa yang dikatakan oleh nenek nya.
" Apakah tidak ada sedikit rasa suka dengan Citra? Nenek sangat menyukai gadis itu." kata nenek Hindun. Satria mengerutkan dahinya.
" Citra? Eh, a.. aku tidak eh maksud aku belum ada rasa cinta itu." sahut Satria.
" Kamu yakin? Tapi kemarin ketika pesta kecil bersama keluarga, kamu terlihat memandangi Citra terus menerus tanpa berkedip. Pasti kamu terpesona yah?" ujar nenek Hindun.
" Citra sangat cantik ketika pesta malam itu." ucap Satria jujur.
" Ya sudah, hari sudah mulai petang! Kamu antarkan gadis itu kembali ke rumahnya. Nenek akan istirahat di kamar." ucap nenek Hindun. Satria mengantarkan neneknya masuk ke dalam kamarnya dan setelah itu Satria mencari keberadaan Citra yang biasanya duduk di taman.
" Ayo aku antar pulang ke rumah!" kata Satria setelah menemukan Citra sedang duduk di taman setelah merapikan beberapa tanaman di sana.
" Eh, aku bisa pulang sendiri tuan muda." kata Citra.
" Tidak boleh membantah dan protes! Ini perintah nenek! Apakah kamu ingin dipotong gaji kamu?" ucap Satria.
" Eh, jangan! Baiklah!" kata Citra akhirnya menurut. Citra naik di atas boncengan motor gedhe milik Satria. Betapa jantung Citra tidak bisa dia kondisikan saat ini. Dirinya begitu dekat bahkan sangat dekat dengan Satria. Ini seperti dirinya sedang memeluk Satria dari belakang.
" Kenapa harus naik motor sih? Biasanya juga naik mobil. Dasar laki-laki mesum dan suka mencari kesempatan." umpat Citra dalam hati. Citra mau tidak mau akhirnya berpegangan di pinggang Satria, kalau tidak dirinya bisa jatuh lantaran Satria pun menjalankan motor gedhe nya tidak mungkin sepelan siput.
" Kamu masih ingat rumah aku kan mas? Eh tuan muda?" tanya Citra.
" Masih!" sahut Satria keras sambil menjalankan motor nya dengan percaya diri.
@@@@@@
Sesampainya di depan rumah Citra yang super kecil. Citra turun dari motor itu.
" Terimakasih mas Satria! Eh tuan muda!" kata Citra. Satria tersenyum dengan sikap gugup Citra terhay dirinya.
" Sama-sama! Panggil aku Mas Satria saja! Itu lebih intim." ucap Satria.
" Intim? Dasar laki-laki mesum, otak kotor! Setiap apapun pikiran nya selalu jorok." pikir Citra dalam hati.
" Saya masuk dulu yah, mas!" kata Citra.
" Kenapa kamu tidak menawarkan aku masuk dan mampir dulu ke rumah kamu? Dasar pelit!" umpat Satria.
" Eh, maaf saya takut jika menawarkan mas Satria untuk mampir ke rumah. Rumah saya kecil dan jelek." kata Citra.
Satria turun dari motor nya lalu mulai melangkah dan melenggang ke rumah kecil milik Citra. Di dalam rumah itu ada adik Citra sedang belajar. Melihat kedatangan Satria, adik Citra seketika bersalaman dan mencium punggung tangan Satria setelah bersalaman dengan kakaknya Citra.
" Nura, kamu sudah makan?" tanya Citra.
" Belum kak! Aku menunggu kakak pulang. Kita makan bersama-sama." kata Nura.
__ADS_1
" Baiklah, siapkan makanan nya di meja dan jangan lupa bikinkan kopi untuk mas Satria. Kakak mau berganti baju dulu." kata Citra. Nura segera mengikuti perintah kakaknya. Satria sesaat terdiam melihat rumah itu dan memandang sekeliling ruangan itu.
@@@@@@
Nura sudah meletakkan makanan di atas meja. Nasi putih dengan lauknya yaitu tempe tahu serta ikan goreng. Ditambah sambal terasi dan rebusan terong ungu dan sawi hijau. Air putih hangat juga telah disiapkan di dalam teko. Satria memandangi menu malam itu.
Nura juga membuatkan satu gelas kopi hitam dengan cara direbus lalu baru di saring untuk Satria. Satria mencoba kopi bikinan adiknya Citra itu apakah sama dengan buatan kakaknya, Citra.
" Hem lumayan! Tapi sedikit kebanyakan gula." batin Satria sambil menyeruput kopi hitam buatan Nura.
Tidak lama Citra keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian santai.
" Ayo kita makan!" ajak Citra sambil mengambil piring lalu menyajikan nasi dan kawan-kawan nya. Satu piring itu, Citra berikan ke Satria setelah itu Citra mengambilkan Nura baru terakhir mengambil piring untuk dirinya sendiri.
" Ayo kita makan!" ajak Citra setelah Citra dan juga Nura terlihat berdoa dalam hati. Tidak dengan Satria yang masih menatap kedua gadis kakak beradik itu secara bergantian. Citra dan Nura mulai makan makanan yang ada di piringnya. Tidak ada suara dari keduanya memakan makanan itu. Satria pada akhirnya tergoda memakannya. Piring yang berisi nasi, sambel, sayur-sayuran dan lauk itu Satria makan.
" Lumayan sambelnya! Ini enak sekali. Padahal menunya sangat biasa sekali. Nasi nya mungkin masih hangat dan makannya bersama dengan lesehan." pikir Satria.
Citra dan Nura terlihat sudah menghabiskan makanan di atas piring nya. Citra meminum air putih hangat hingga habis satu gelas.
" Sudah dek? Kakak mau kopi dek." perintah Citra ke Nura. Nura membawa piring kotor itu sekalian membuatkan kopi yang diminta Citra.
Citra melihat Satria ikut menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Citra mengambilkan nya tidak terlalu banyak.
" Ini makanan yang paling lezat yang pernah aku makan." ucap Satria. Citra tersenyum sinis mendengar ucapan tuan mudanya itu.
" Maaf, hanya itu yang kami masak hari ini." kata Citra. Satria tersenyum berusaha lebih akrab dengan Citra.
" Hehehe. masakan di rumah mas Satria lebih lengkap dan variasi. Kalau makanan seperti ini, mana di sentuh oleh mas Satria." kata Citra.
" Ini nyatanya habis aku makan." kata Satria. Citra terkekeh saja.
" Mas Satria takut yah, jika makanan itu tidak dihabiskan?" tuduh Citra.
" Eh no! Makan bersama dengan kalian jadi terasa enak dan nikmat. Apalagi kopi hitam ini." ucap Satria.
" Ini kak, kopi hitamnya!" sela Nura sambil meletakkan kopi hitam untuk kakaknya.
" Terimakasih Nura! Oh iya dek, ini sudah selesai. Letakkan dan bersihkan semuanya. Setelah itu Nura belajar di dalam kamar saja yah." kata Citra. Nura segera membereskan semuanya yang ada di meja dan mengikuti apa kata kakaknya itu.
" Kamu kalau seperti ini macam ibu tiri loh! Galak banget sama adiknya." ucap Satria.
" Bukan galak, tapi ini mendidik supaya bisa bekerja." sahut Citra membela diri.
" Ternyata kamu tipe orang tegas juga yah? Aku pikir kamu itu lembek." nilai Satria.
" Aku dengan Nura sudah lama ditinggal kedua orang tua kami. Aku kini yang mencari uang untuk kebutuhan dan juga sekolah adikku." cerita Citra.
__ADS_1
" Kalau kamu mau, kalian berdua tinggallah di rumah aku. Aku akan menyekolahkan adik kamu. Selain itu kebutuhan kalian berdua biar aku yang memenuhi nya." ucap Satria.
" Dengan bekerja di rumah mas Satria, kebutuhan saya sudah di bilang cukup mas. Terimakasih atas gaji yang mas Satria berikan." ucap Citra.
" Kalau begitu, aku akan memberikan lebih dari gaji kamu itu. Tapi dengan satu syarat." kata Satria.
" Maaf, aku tidak tertarik mas! Gaji yang mas Satria berikan ke saya sudah lebih dari cukup. Sungguh!" sahut Citra.
" Kamu benar-benar keras kepala! Bahkan kamu belum mendengar syarat yang aku berikan." ucap Satria. Citra terkekeh.
" Aku pikir syarat nya pasti tidak jauh dari pikiran mesum nya. Aku yakin itu." batin Citra.
" Adik kamu sudah tidur?" tanya Satria.
" Hem, mungkin saja masih belajar di dalam kamar. Alangkah baiknya, mas Satria pulang saja. Sudah larut malam. Lagi pula, saya mau istirahat. Besok pagi saya akan kembali bekerja di rumah mas Satria." kata Citra.
" Busyet, aku diusir!" batin Satria.
" Oke, aku pamit pulang yah!" kata Satria bergegas
meninggalkan rumah kecil milik Citra.
@@@@@@@
Satria tiba di rumahnya.
" Aku baru tahu, kalau kehidupan Citra sangat keras. Bersama adiknya menjalani kehidupan nya dengan keras. Bagaimana caranya aku bisa mengajaknya pindah ke rumah ini bersama dengan adiknya. Aku ingin membahagiakan Citra dan juga adiknya." gumam Satria.
" Wanita itu sangat keras kepala. Tidak mudah untuk mengajaknya pindah ke rumah ini dengan cuma- cuma." pikir Satria.
" Mungkin benar juga apa kata nenek. Jika aku menikah dengan Citra, mungkin Citra beserta adiknya mau pindah ke rumah ini. Mengikuti suaminya dan ikut bahagia bersama dengan aku.Apakah aku bisa menjalani hubungan dengan komitmen itu. Dengan menikahi Citra aku terikat janji suci kepada wanita itu. Aku tidak bisa menyakiti dirinya dengan menjalin hubungan dengan wanita lainnya." gumam Satria.
" Apakah aku bisa setia?" pikir Satria. Satria masih belum bisa tidur memikirkan ucapan neneknya. Sampai akhirnya Satria memejamkan mata tertidur dalam buaian mimpi nya.
@@@@@@@
Pagi harinya Citra sudah kembali bekerja di rumah Satria. Pekerjaan nya hanya menemani dan merawat nenek Hindun. Pagi itu Citra sudah membawa nenek Hindun berjemur di taman depan rumah itu. Sambil berjemur matahari di pagi itu sampai jam sembilan pagi. Sambil menikmati susu segar hangat dan pisang keju coklat keduanya akrab bercerita.
"Pagi ini kamu terlihat cantik sekali, Citra!" ucap nenek Hindun.
" Eh, benarkah nek?" sahut Citra.
" Iya, kamu terlihat lebih segar dan bercahaya. Pasti kamu lagi bahagia yah?" tuduh nenek Hindun.
" Lebih tepatnya Citra sedang jatuh cinta, nek!" sahut Satria yang tiba-tiba datang dengan pakaian yang sudah rapi hendak berangkat ke kantor.
" Eh, kamu!" Citra terkejut. Jantung nya tiba-tiba berdetak semakin kencang.
__ADS_1
" Kamu juga lebih ganteng hari ini, Satria! Apakah kamu juga sedang jatuh cinta? Pasti semalam tidak bisa tidur yah?" balas nenek menuduh Satria. Satria jadi salah tingkah menatap Citra.
" M@mpus loh!" batin Citra dalam hati.