
Raja terlihat sibuk menyelesaikan lukisannya. Raja terlihat bersemangat menggarap karya lukisnya itu. Akhir tahun dirinya harus menampilkan karya- karyanya yang berpotensi itu.
Sesaat Raja duduk sambil menatap hasil lukisannya. Matanya menatap lukisan yang menjadi favoritnya. Sosok wanita yang cantik dan lemah gemulai itu. Kini ingatannya kembali ke wajah Alexa yang menarik hatinya.
" Sepertinya aku akan melukis kembali wajah kamu Alexa." pikir Raja sambil menyalakan batang rokoknya kembali. Papi nya telah menghubungi dirinya. Raja lalu membuka layar ponselnya.
" Iya, halo pi!" sapa Raja.
" Tapi aku masih harus menyelesaikan lukisanku dulu, pi" protes Raja.
" Baiklah kalau begitu! Di kantor?" tanya Raja masih bertanya dengan papi nya di seberang sana.
" Iya.. iya,.. pi! Aku segera ke sana! Aku akan bersiap- siap!" ucap Raja akhirnya.
Raja menghela nafasnya. Papi nya menyuruhnya segera datang ke kantor. Perusahaan bidang konstruksi itu mulai berkembang pesat. Proyek- proyek banyak yang mempercayai kerja sama dengan perusahaan konstruksi milik keluarga Piter itu, tepat nya saham kepemilikan terbesar adalah empunya papi nya, selain berapa persen milik om dan juga tante nya. Namun hampir tujuh puluh persen kepemilikan saham adalah milik papi Raja. Dari dulu, papi Raja ingin melibatkan Raja dalam perusahaan konstruksi tersebut. Namun Raja masih saja menolaknya. Padahal Raja sudah diberi sedikit pembagiannya sekitar sepuluh persen. Jadi walaupun Raja masih belum turun dan terjun ikut mengembangkan perusahaan konstruksi tersebut, Raja sebenarnya mendapatkan penghasilan dari pembagian sesuai saham yang dimiliki. Raja selama ini fokus dengan perusahaan nya di bidang pendidikan dan kesehatan.
" Kenapa papi selalu menginginkan aku masuk ke dunia bisnis itu sih?" keluh Raja sambil keluar dari ruangan melukis nya.
Raja mulai menuju kamarnya dan mulai membersihkan dirinya. Raja mulai berpenampilan selayaknya bos eksekutif yang mengenakan setelan jas rapi dengan sepatu yang mengkilap. Raja melihat pantulan dirinya di cermin kamarnya yang lumayan besar.
" Ini seperti bukan diriku. Aku terlalu rapi sekali. Hehe." pikir Raja yang melihat dirinya seperti aktor Holywood.
Raja saat ini berambut sedikit panjang. Rambutnya kini ia rapikan dan ikat kebelakang. Jidatnya yang sedikit lebar menambah kesan cowok maco yang bikin wanita-wanita klepek-klepek. Apalagi badan bidang Raja yang sangat atletik jika dibuka akan terlihat sixpack. Wanita manapun akan tergila-gila jika melihat penampilan Raja yang terlihat seperti pria mapan, dewasa dan cool.
Walaupun banyak yang tergila-gila dengan Raja, namun tidak satu orang pun yang berani mendekati Raja lantaran Raja selalu dingin, angkuh dan cuek terhadap wanita. Sehingga Raja belum pernah berpacaran satu kali pun.
*******
__ADS_1
Dengan mobil sport nya, Raja memasuki gedung bertingkat itu. Raja langsung menuju ruangan dimana papi dan beberapa keluarga dekat menunggu. Keluarga dekat dari ayah, tante dan om nya, ke dua adik dari papinya.
Raja masuk ke ruangan yang cukup luas, mewah dan megah. Di sana sudah duduk papi Raja tante Fina dan om Dedy.
" Hai anak badung! Akhirnya kamu ke sini juga!" sapa om Dedy yang umurnya sekitar empat puluhan. Om Dedy terlihat masih muda sekali, apalagi wajah gantengnya masih saja menggoda bagi wanita- wanita. Tante Fina hanya tersenyum melihat keponakan nya yang ganteng itu datang lalu duduk bergabung dengan mereka.
" Lagi kumpul ini, pi?" tanya Raja setelah menjabat tangan seniornya alias sesepuh nya.
" Lagi kumpul apa toh, nak? Kita hampir setiap hari yah begini. Kecuali weekend saja kita libur." sahut Tante Fina.
"Kasihan yah!" sahut Raja alhasil mendapatkan jitakkan oleh papi nya.
" Raja, Kamu lagi mengerjakan proyek apaan sih? Sampai tidak mau datang ke kantor loh! Ini perusahaan ini milik kamu juga! Kamu seperti tidak perduli." protes om Dedy.
" Akhir tahun aku akan ikut pameran lukisan om! Aku saat ini sedang mengoleksi hasil lukisanku. Ini sudah terkumpul beberapa puluh lebih. Itupun sebenarnya sudah lebih dari itu, namun ada beberapa relasi yang tertarik lalu mengambilnya. Jadi sedikit kejar tayang, aku om Dedy." cerita Raja semangat.
" Tapi mbok ya, jangan lupa perusahaan ini to nak? Kami sudah senior dan kamu sewaktu- waktu yang akan turun ke lapangan. Tenaga kami sudah mulai lemah." sahut om Dedy sambil terkekeh.
" Apa? Om bisa dimutasi hidup- hidup sama tante kamu, kalau om nyari istri lagi. Ini anak kok sembrono sih? Mas Piter, ini anak kamu kok kelewat rusaknya sih? Hahaha." kata Om Dedy dan yang lain ikut tertawa.
" Raja ini nakalnya mirip sama mas Piter loh!" ucap Om Dedy.
" Papi aku paling kalem, om Dedy! Aku juga sebenarnya kalem, apalagi waktu tidur." sahut Raja sambil tersenyum.
" Apa di sini lagi kemarau yah, tante?" tambah Raja sambil memegangi tenggorokan nya. Tante Fina jadi tersenyum.
" Kamu mau apa? Jus atau kopi?" tanya Tante Fina kepada Raja.
__ADS_1
" Aku juz mangga saja, tante." pinta Raja.
" Oke, tante pesan kan dulu yah! papi kamu dan om Dedy sudah pasti kopi hitam." kata Tante Fina sambil membuka layar ponselnya dam menghubungi asisten pribadinya yang sedang di luar.
" Raja! Kamu masih ingat ruangan kerja kamu kan, nak?" tanya Papi Piter.
" Ingat pa!" sahut Raja.
" Oh iya Pi? Saudara ku yang lain mana Bang Bramantyo, Satria, Sudra, Hanom, masa hanya aku yang di desak terlibat di perusahaan ini. Bukannya aku sudah memilih dua bidang itu yaitu rumah sakit dan sekolah? Kenapa aku harus duduk di sini juga?" keluh Raja.
" Kamu ke rumah sakit dan ke yayasan pendidikan juga tidak tiap hari ke sana bukan? Paling juga kamu hanya melihat laporan tiap bulan nya saja. Papi tahu itu dengan jelas. Kalau di sini kamu benar-benar bisa mengerti caranya nyari uang itu seperti apa." kata Tuan Piter. Raja menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Mulai besok kamu harus disiplin yah, nak! Nanti setelah ini pelajari beberapa berkas kerja sama yang bertumpuk di atas meja kerja papa itu. Papi sekarang mengandalkan kamu. Tolonglah nak!" kata papi Raja dengan suara agak lemah.
" Soal ke empat kakak kamu itu, semuanya sudah pusing dengan perusahaan besar milik mereka. Jadi papi tidak ingin menambah kerjaan dan tanggung jawab lagi. Papi sudah membagi semuanya pada anak-anak papi. Cuma kamu saja yang papi pikir, bisa ikut menjalankan bisnis ini bersama saudara papi. Di perusahaan konstruksi ini lah perusahaan terlama yang dibangun dari nol bersama keluarga papi. Kalau yang lainnya memang papi sendiri yang merintis nya lalu diteruskan oleh saudara- saudara kamu itu." jelas Tuan Piter. Raja manggut-manggut. Betapa pusing juga papi nya ketika berusaha mengelola dan mengembangkan bisnisnya dari semua sektor. Dan anehnya Tuan Piter selalu mendapatkan orang yang dipercaya untuk mengelola nya sebelum putra- putra nya turun secara penuh.
" Tapi, papi tidak apa- apa kan? Papi harus menjaga kesehatan." sahut Raja sudah mulai cemas.
" Halah, papi selalu sehat? Sejak kapan kamu mulai mengkhawatirkan papi, hah?" sahut Tuan Piter bercanda.
" Jangan begitu dong pi! Begini- begini aku juga ingin papi selalu sehat dan nanti bisa mendampingi aku saat menikah dengan pasangan ku." ucap Raja. Tuan Piter terkekeh.
" Kamu sudah ketemu calon pengantin kamu? Kamu jangan sampai kalah dengan saudara kamu yang empat itu. Bramantyo, Satria, Sudra, Hanom sudah memilih wanita yang dijadikan tempatnya berlabuh. Dan kamu tahu, Kakak kamu Hanom pun sudah menikahi wanita itu." jelas Tuan Piter. Raja mengernyitkan dahinya.
"Memang hebat keempat kakak- kakak ku itu, kalau urusan menggait wanita seperti membalikkan telapak tangan saja. Sedangkan aku, satu pun belum ada yang mau mendekati aku." keluh Raja. Tuan Piter terkekeh.
" Itu lantaran kamu selalu bersikap dingin dan kaku dengan semua gadis. Lihat tampang kamu yang sok jual mahal itu, para gadis- gadis menjadi takut kepada mu, Raja." sahut Tuan Piter.
__ADS_1
" Mungkin saja! Oh iya Pi, besok aku ke yayasan dulu. Besok aku tidak bisa ke kantor ini dulu." kata Raja. Tuan Piter tersenyum.
" Yang penting tanggung jawab kamu sekarang bertambah yaitu perusahaan ini." ujar Tuan Piter.