HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
SATRIA PITER 5


__ADS_3

Pagi itu di rumah pribadi milik Satria, Citra sudah mulai bekerja di sana. Citra menyuapi nenek Satria dengan bubur ayam yang sudah disiapkan oleh pelayan di rumah kediaman Satria itu. Dengan telaten dan kesabaran, Citra menyuapi wanita tua itu yang kini sudah duduk di atas kursi rodanya. Sesekali nenek itu melihat wajah Citra dengan kekaguman. Kagum karena Citra memiliki kecantikan yang alami dan tidak banyak polesan makeup di wajahnya. Nenek Hindun, panggilan nenek Satria itu.


" Siapa nama kamu tadi, nak?" tanya nenek Hindun lagi- lagi bertanya. Memang nenek ini sering kali lupa untuk mengingat sebuah nama. Apalagi orang itu baru dikenalnya.


" Citra, nek! Citra adalah nama aku." sahut Citra. Nenek Hindun berusaha mengingatnya supaya besok- besok dirinya tidak bertanya kembali.


" Kamu kenapa sore harus kembali pulang? Tinggal saja di rumah ini, nanti biar nenek yang bilang dengan Satria supaya kamu di rumah ini. Rumah ini cukup besar dan sangat sepi. Jika kamu tinggal di rumah ini, rumah ini akan menjadi ramai." ucap Nenek Hindun.


" Bagaimana yah, nek? Saya juga masih memiliki satu adik. Kami terbiasa bersama di rumah itu. Walaupun kehidupan kami sangat sangat sederhana, namun kami sangat bahagia jika sudah bersama di rumah tempat tinggal kami." jelas Citra. Nenek Hindun menyimak cerita Citra.


" Kamu tinggal hanya bersama adik kamu?" tanya nenek Hindun. Citra membenarkan.

__ADS_1


" Kamu dan adik kamu tinggallah di rumah ini! Satria pasti tidak akan menolak jika kalian tinggal di rumah ini." kata nenek Hindun.


" Maaf, nek! Saya tidak bisa tinggal di sini. Sesuai kesepakatan saya bekerja di sini hanya sampai Sore saja, nek!" jelas Citra.


" Padahal nenek ingin membantu kamu! Jika kamu dan adik kamu tinggal disini, semua kebutuhan kamu akan nenek tanggung." kata Nenek Hindun.


" Maaf, nek! Saya masih nyaman tinggal di rumah kami. Bagaimana pun juga kami sudah merasakan kedamaian di rumah itu bersama adik saya." ucap Citra. Nenek Hindun akhirnya tidak ingin memaksakan dirinya.


" Sepertinya nenek menyukai gadis kecil itu. Sampai menginginkan Citra dan juga adiknya untuk tinggal di rumah ini." gumam Satria.


" Gadis kecil itu memang pada dasarnya keras kepala. Dia tetap dengan pendirian nya. Kita lihat saja, apakah kamu masih bisa melawan kekuasaan aku jika aku yang meminta kamu dan juga adik kamu pindah ke rumah ini?" pikir Satria.

__ADS_1


" Tetapi untuk apa juga, aku perduli dengan gadis kecil itu? Ah biarkan saja dia kembali di rumahnya sendiri. Lagi pula, ketika malam hari ada banyak pelayan di rumah ini yang akan menemani nenek. Jadi, nenek tidak akan merasa sendirian di rumah ini. Jika aku banyak kerjaan di kantor atau perjalanan bisnis." pikir Satria kembali.


Satria kini keluar dari pintu utama itu, lalu berpamitan dengan nenek nya. Diciumnya pipi neneknya setelah punggung tangan neneknya ia cium juga.


" Satria, berangkat ke kantor dulu nek!" pamit Satria.


" Hati-hati Satria!" sahut nenek Hindun.


" Tentu, nenek!" ucap Satria. Satria kini masuk ke dalam mobilnya dan bergegas menghidupkan dan menjalankan mobilnya.


*******

__ADS_1


__ADS_2