
Di dalam mobil, Bramantyo menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yurika benar-benar sudah tidak mengkhawatirkan ibunya di rumah sakit. Apalagi ibunya saat ini sendirian di sana. Yurika benar-benar mempercayakan perawat di rumah sakit itu untuk menjaganya. Yurika berani membayar mahal untuk itu dan memang meminta satu perawat yang khusus untuk menjaga ibunya. Sehingga Yurika bisa konsentrasi dalam bekerja dan mencari uang.
Bramantyo sesaat melirik ke arah Yurika yang sedari tadi memainkan kuku di jari nya. Yurika sangat khawatir dengan keadaan ibunya.
" Yoyo, asisten ku sudah mentransfer uangnya ke rekening kamu. Aku juga sedikit mentransfer ke rekening kamu secara pribadi. Lihat saja saldo yang masuk, Yurika! Apakah uang segitu cukup untuk biaya ibu kamu di rumah sakit itu?" tanya Bramantyo. Yurika mengangguk cepat.
" Itu sudah lebih dari cukup, bang! Namun aku harus membayar hutang yang senilai tiga milyar itu. Kalau tidak, mereka akan selalu mengincar aku. Keselamatan ibu dan aku akan terancam." kata Yurika mulai khawatir.
" Baiklah! Karena aku hari ini sangat sibuk dan tidak bisa menjaga kamu, kamu bisa melunasi hutang itu. Aku sudah mentransfer nya ke rekening mu. Lihat lah!" kata Bramantyo. Yurika tersenyum lebar.
" Terimakasih banyak, bang!" ujar Yurika. Bramantyo tersenyum menyeringai.
" Itu bayaran satu tahun, Yurika! Karena kamu sudah menyepakati Perjanjian kontrak kita. Dan satu hal lagi, kamu tidak bisa mengatur kehidupan ku. Oke? Tugas kamu hanya yang tercantum di isi surat perjanjian itu." kata Bramantyo.
" Baiklah!" sahut Yurika.
" Ternyata licik juga bang Tyo ini. Setelah ini aku harus benar-benar bekerja keras mengambil peran pembantu pun tidak masalah. Asal bisa mendapatkan uang." pikir Yurika.
Bramantyo menghentikan mobilnya di depan gedung yang bertuliskan nama rumah sakit yang dimaksudkan oleh Yurika. Yurika turun dari mobil itu.
" Awas! Jangan sekali- kali mencoba lari dari aku. Aku dan orang-orang ku akan bisa menemukan kamu." ancam Bramantyo.
" Siapa yang lari? Aku tidak akan lari dari kamu, bang!" sahut Yurika.
" Bagus! Kalau ada apa-apa hubungi Yoyo!" kata Bramantyo. Yurika mengangguk cepat.
Bramantyo menjalankan mobilnya dengan cepat. Bramantyo harus segera ke kantor nya. Sedangkan Yurika kini mulai berjalan ke kamar inap dimana ibunya saat ini dirawat.
" Bahkan aku tidak tahu kontak kamu, bang! Kamu hanya memberikan kontak Yoyo saja? Artinya akun dan kamu hanyalah partner ranjang saja. Dan sewaktu- waktu aku dibutuhkan, aku akan mendampingi kamu sebagai kekasih kamu. Itupun ketika di depan orang tua dan keluarga kamu." pikir Yurika sambil menarik nafasnya lalu membuangnya dengan kasar.
" Pada akhirnya aku seperti menjual tubuhku demi uang. Namun bedanya aku hanya menjualnya kepada bang Tyo saja. Setelah aku melunasi hutang itu, dan membayar biaya berobat ibu, uang dari bang Tyo habis. Aku harus kembali bekerja keras. Syuting dan syuting lagi." pikir Yurika.
__ADS_1
" Semoga secepatnya aku bisa memberikan kebahagiaan untuk ibu. Membeli rumah dan tidak meng kontrak rumah lagi. Semangat Yurika!" pikir Yurika tidak terasa air matanya menetes. Betapa kehidupan nya saat ini begitu sulit dan keras.
*******
Di kamar inap rumah sakit, seorang wanita yang sudah setengah baya berbaring lemas di atas tempat tidur. Tidak jauh di sana dengan setia seorang wanita dengan berpakaian putih menunggu. Wanita itu masih muda dan berparas cukup cantik. Perawat itu dengan tulus dan ikhlas menjalankan tugas dan kewajiban nya menunggu dan merawat seorang wanita yang setengah baya itu. Perawat itu secara khusus dan privat khusus bertugas menjaga ibu setengah baya itu. Dia hanya memiliki satu anak tunggal dan dialah yang saat inilah yang menjadi tumpuan dan harapan nya untuk bertahan tetap hidup. Walaupun harapan dan untuk melanjutkan kehidupan nya sudah tipis, namun karena semangat itulah yang membuat ibu itu untuk bertahan dan kuat dengan rasa sakit yang dideritanya.
Yurika membuka pintu kamar itu. Perawat itu seketika melemparkan senyuman nya demikian juga dengan ibu setengah baya itu.
" Kamu sudah datang, Yurika?" tanya ibu itu dengan tersenyum senang namun masih terlihat lemas dan tidak bersemangat.
" Iya, ibu! Maaf ibu, aku harus bekerja dan mencari uang." sahut Yurika seraya meraih tangan ibunya lalu mencium punggung tangannya dengan lembut. Yurika menggeser kursi plastik di sana supaya lebih dekat duduk di dekat ibunya yang saat ini masih terbaring. Ibunya mengusap puncak rambut Yurika dengan lembut ketika kepala itu sedikit menunduk.
" Maafkan ibu, sayang! Kamu jadi bekerja keras seperti ini." ucap Ibu Yurika. Yurika tersenyum walaupun sebenarnya dia sudah lelah.
" Tidak apa ibu! Aku sudah mendapatkan uang nya, ibu. Uang untuk membayangkan hutang ayah dan untuk berobat ibu. Ibu harus secepatnya sembuh." kata Yurika. Ibu itu mulai berkaca.
" Jika ayah kamu masih hidup, mungkin saja kamu tidak akan bekerja keras seperti ini, Yurika. Seandainya ayah kamu tidak melakukan kesalahan itu dan membuat sakit hati seseorang, mungkin saja kehancuran keluarga kita tidak akan terjadi. Kita masih berkumpul bersama ayah kamu." ucap Ibu Yurika.
" Ibu, semuanya sudah terjadi! Dan kita tidak perlu menyesali takdir kehidupan ini. Yang penting kita masih bisa bertahan dan semangat untuk meneruskan kehidupan ini dengan penuh kebahagiaan." kata Yurika. Ibunya mengusap rambut Yurika.
*******
Bramantyo sudah tiba dan berada di ruang kerjanya. Di dalam sudah menunggu seorang wanita yang berpakaian sangat seksi dan terbuka. Dia adalah Claudia. Dengan senyumnya yang mengembang Claudia menyambut kedatangan Bramantyo dengan semangat. Kali ini Claudia ingin kembali mengulang kebersamaannya dengan Bramantyo. Hubungannya dengan Bramantyo sudah lama tidak terjalin lagi karena Claudia mengambil kontrak dengan agensi untuk karier nya sebagai model.
" Kamu semakin matang dan maco saja, Tyo!" ucap Claudia dengan suara yang menggoda dan manja. Bramantyo berusaha menepis Claudia yang mendekati dirinya yang begitu dekat dan berusaha menempelkan bagian da da nya di lengan Bramantyo. Bramantyo mendengus kesal.
" Ayolah, Tyo! Apakah kamu masih marah dengan aku? Hubungan kita break saat itu karena aku harus memilih karier aku. Aku harus mengambil kontrak itu bukan? Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kali. Kamu lihat sekarang? Aku sudah sukses dan terkenal sebagai model internasional. Dan jika aku kembali memulai karier di dalam negeri, bayaran aku semakin tinggi." ucap Claudia penuh percaya diri. Bramantyo menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
" Kenapa kamu mencari aku? Kalau kamu sudah yakin jika kamu akan diterima di dunia akting dan model di dalam negeri dengan modal kesuksesan kamu di luar negeri itu?" kata Bramantyo. Claudia tersenyum mengembang.
"Karena kamu memiliki kekuatan dan kekuasaan itu untuk menjadikan aku aktris mahal dan dikenal di dalam negeri ini." ucap Claudia.
__ADS_1
" Lupakan itu! Kamu bisa langsung menghubungi Joan untuk mendapatkan peran di film garapan nya. Oke?" kata Bramantyo. Claudia tersenyum lega.
" Baiklah! Untuk hubungan kita. Apakah kita bisa memulainya lagi dari awal Tyo? Maaf, jika dulu aku tiba-tiba memutuskan untuk menjauh dari kamu dan memilih karier itu." kata Claudia.
" Itu hak kamu! Lagi pula, kamu bukan siapa-siapa bagi aku saat itu dan saat sekarang. Tanpa kamu pun masih banyak wanita-wanita yang berusaha mendekati aku dan mencari perhatikan dari aku dengan senang hati." ucap Bramantyo dengan senyuman sinis nya.
" Jangan seperti itu, Tyo! Apakah tidak ada perasaan dan hati ketika kamu menjalin hubungan dengan aku setiap malam- malam kamu yang dingin dulu saat bersama aku?" tanya Claudia dengan gaya menggodanya.
" Tidak ada yang spesial dan pakai hati ketika aku menjalin hubungan banyak wanita-wanita selama ini. Demikian hal nya dengan kamu, Claudia. Kamu hanya salah satu partner ranjang saja yang kebetulan bisa mengerti kemauan aku ketika itu. Tapi untuk sekarang dan selamanya aku sudah tidak berminat lagi bermain- main dengan yang lainnya." kata Bramantyo. Claudia seketika mengerutkan dahinya.
"Benarkah? Kamu sudah tidak lagi bermain dengan artis- artis kamu?" sahut Claudia.
" Tidak! Aku sudah bosan!" ucap Bramantyo. Claudia tidak percaya.
" Kamu bohong! Kamu membohongi aku! Apakah kamu masih marah dengan aku, sehingga kamu membohongimu aku seperti itu?" tanya Claudia.
" Hahaha!" Bramantyo tertawa terbahak- bahak. Claudia tidak segan- segan ingin menggoda Bramantyo.
" Lalu sejak kapan kamu tidak suka bermain dengan banyak wanita-wanita dan artis- artis kamu, Tyo?" tanya Claudia.
" Sejak aku menemukan wanita yang tepat untuk aku jadikan istri aku kelak." sahut Bramantyo. Claudia tertawa terbahak.
" Jadi, masih sekedar niat bukan? Kamu tidak akan mungkin bisa menolak wanita-wanita cantik yang datang kepadamu dengan suka rela dan senang hati, Tyo!" ujar Claudia. Bramantyo mulai bergegas meninggal ruangan itu.
" Tyo! Malam ini bagaimana kalau kita berkencan dan menghabiskan malam?" tanya Claudia.
" Malam ini aku ada janji! Maaf!" sahut Bramantyo.
" Kalau begitu besok saja, bagaimana?" tanya Claudia.
" Besok aku pun padat jadwal! Maaf!" sahut Bramantyo lagi. Claudia menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
" Sepertinya kamu sudah malas dengan aku. Apakah kamu tidak kangen aku? Apakah kamu sudah tidak tertarik dengan aku?" kata Claudia.
" Lebih tepatnya, aku sudah tidak minat lagi dengan kamu, Claudia! Maaf!" sahut Bramantyo sambil meninggalkan ruangan kerjanya dan meninggalkan Claudia. Claudia mengikuti langkah Bramantyo dibelakang nya.