HANYA DEMI UANG

HANYA DEMI UANG
HANOM PITER


__ADS_3

Hanom Piter berusia 25 tahun anak ke empat dari tuan Piter dengan mami Egi. Dalam kepribadiannya Hanom tipe laki-laki yang setia. Hanom saat ini menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Sindi. Sindi adalah seorang penyanyi yang namanya sudah dikenal. Sedangkan Hanom sendiri menekuni dunia balapnya. Nama Hanom cukup dikenal dalam jajaran pembalap di dalam negeri.


Hanom belum tertarik terlibat dalam dunia bisnis seperti saudara- saudara nya yang lain. Saat ini dunia Hanom masih di dunia lokomotif dan balap. Karena seringkali mengikuti event dan pertandingan, Hanom dengan Sindi sangat jarang sekali bertemu. Apalagi ketika Hanom sering melakukan pertandingan di luar kota. Sedangkan Sindi pun juga mendapatkan beberapa job dari panggung ke panggung baik di dalam kota maupun luar kota.


Namun sekarang ini akhirnya mereka bisa bertemu setelah hampir satu bulan hanya berkomunikasi melalui ponselnya saja. Kesibukan keduanya lah yang menyebabkan hubungan berpacaran mereka seperti LDR.


" Sindi, kita menikah yuk!" ajak Hanom. Sindi bergelayut manja dengan Hanom. Rasanya rindu keduanya itu ingin mereka tumpahkan dalam pertemuan malam ini.


" Usia aku masih 22, Hanom. Sedangkan kamupun masih 25 tahun bukan. Kenapa kita buru- buru menikah?" ucap Sindi. Hanom merangkum kedua pipi Sindi dan kedua hidung mereka sudah saling menempel. Hanom dan Sindi mulai merasakan adu nafas mereka yang mulai menghangat. Sindi memejamkan matanya seolah siap jika Hanom hendak mengecupnya. Benar saja, tidak sekedar mengecup bibir Sindi. Namun Hanom mulai mencium dan memainkan bibir Sindi sampai akhirnya keduanya melakukan ciuman yang panjang dalam detak jantung yang mulai tidak menentu. Hanom menyudahinya dari kegiatan yang intens itu.


" Aku ingin menikah muda. Papi mami menginginkan kami semua untuk segera menikah dan mengurus perusahaan bisnis keluarga. Aku seperti nya sudah lelah dengan dunia balap aku. Aku akan berhenti dari hobi ini. Dan aku harap kamu juga berhenti menjadi penyanyi. Kamu menyanyilah hanya untuk aku saja, Sindi." kata Hanom. Sindi tersenyum.


" Setelah menikah, aku akan hamil, lalu mengurus anak, terus hanya berkutat menjadi ibu muda yang mengurus anak, suami dan rumah. Ayolah, Hanom! Aku masih sangat muda untuk dunia seperti itu. Aku masih ingin bebas." ucap Sindi. Hanom kini mengangkat tubuh Sindi dan merebahkan tubuh Sindi. Sindi kini berada dalam kukungan Hanom. Hanom membelai lembut pipi Sindi.

__ADS_1


" Tidak Sindi! Setelah ini tentukan pilihan kamu. Menikah dengan aku atau kita sudahi saja hubungan kita." ancam Hanom. Sindi malah terkekeh lalu membalikkan posisi Hanom hingga berada di bawah tubuh Sindi. Tanpa banyak berbicara Sindi mulai dengan aksinya meluapkan segala rasa dan kerinduan yang berkecamuk dalam dadanya.


" Aku kangen kamu, Hanom! Aku tidak mau bicara serius dahulu. Kita lebih baik melakukan sesuatu yang sudah lama tidak kita lakukan bersama." kata Sindi dengan nafas yang mulai memburu. Hanom sesaat tersenyum seraya meredup matanya karena Sindi kini berbalik mengukung Hanom dengan kemahiran nya dalam menyenangkan seorang pria.


Malam semakin kian larut, suara- suara malam sudah beradu dengan keluh@an dan lenguh@n yang lolos dari kedua mulut sepasang kekasih yang belum menikah itu. Keduanya saling bercengkrama dalam penyatuan keringat cinta yang mulai keluar dalam panas gelora api yang membakar kerinduan. Semua sudah terluapkan dalam semburan kepuasan keduanya. Sampai berkali-kali kegiatan intens itu dilakukan tanpa ada kata letih hingga akhirnya salah satu tubuh itu ambruk setelah pelepasan dalam puncak kenikmatan.


Keduanya saling berdekapan dan senyuman pun terukir dari kedua bibir mereka.


" Maaf, aku tidak bisa menuruti kamu dalam waktu dekat ini. Dan baiklah, pertemuan ini aku anggap sebagai perpisahan diantara kita." kata Sindi tidak ragu- ragu. Hanom benar-benar terkejut mendengar penuturan Sindi.


" Apa? Kamu? Kamu ingin putus dengan aku?" tanya Hanom.


" Bukannya kamu tadi mengancam aku, menikah atau putus? Dan aku memilih putus demi karir aku." kata Sindi. Sindi segera turun dari peraduan itu dan mengenakan pakaiannya yang tadi berserakan karena dilempar di lantai kamar itu. Hanom hanya diam dalam keterkejutan dan kesedihan nya. Namun Hanom tidak ingin merengek dan memohon. Mungkin itu adalah keputusan dari Sindi ingin meninggalkan dirinya.

__ADS_1


" Setelah ini, jangan hubungi aku lagi dan mendatangi aku. Oke?" ucap Sindi.


" Sindi!" Hanom memeluk Sindi.


" Maaf, Hanom! Aku harus pergi sekarang! Besok pagi aku harus terbang ke luar kota." kata Sindi.


"Apakah kamu benar-benar ingin pergi dariku?" tanya Hanom lagi. Sindi mulai mengecup pipi Hanom.


" Maaf, Hanom!" kata Sindi seraya berlalu dari tempat itu.


Kini tinggal Hanom dengan kemarahan nya. Hanom benar-benar frustasi dengan pilihan yang diambil oleh Sindi. Sindi lebih memilih karir nya daripada menikah dengan dirinya.


" Apa yang dia cari? Bahkan berapa pun uang yang ia minta, pasti aku bisa memberikannya." kata Hanom.

__ADS_1


__ADS_2