
"Apa? kok bisa sayang? " tanya Cynthia terkejut
"Kami baru bertemu dua kali, bagaimana bisa dia mengeluarkan uang begitu banyak untuk orang yang baru di kenalnya?"ucap Davira menggeleng tak mengerti
"Davira sayang, setiap orang punya motif sendiri, jika ia mengeluarkan uang banyak untukmu, pasti ia akan menagihnya suatu saat nanti, tak ada yang gratis dalam hidup ini. Mama takut ini tak baik untukmu.
Kembalikan saja uang nya nak, mama tak apa tak menjalani operasi. Kita pikirkan jalan keluar lainnya selain operasi.
Mama makin merasa bersalah padamu nak"
Cynthia menundukkan kepalanya malu, ia terisak pelan.
Setelah suaminya wafat, ia terus menyusahkan putri kesayangannya dan membebaninya dengan penyakitnya yang membutuhkan biaya besar.
Putri semata wayang yang tadinya hidup bergelimang harta dan kemewahan, harus berjuang membiayai hidup dan pengobatan mamanya.
Davira di paksa dewasa karena keadaan.
"Ma, mama. jangan pernah merasa seperti itu.
"Sudah aku bilang, itu sudah kewajiban Vira ma, jika suatu saat pria itu meminta bayaran vira ikhlas ma, asal mama bisa operasi dan sembuh" ucap Davira tegas.
"Bagaimana jika pria itu ingin kamu membayar dengan dirimu? " tangis Cynthia semakin kencang, ia tak rela, sungguh tak rela putri kecilnya menderita karenanya
"Ma, Vira ikhlas Lillahi ta'allla, yang menjadi prioritas Vira hanya mama.
Vira akan membayar utang itu walau Vira harus bekerja siang malam"
"Ya Allah, Alhamdulillah Engkau memberiku anak yang berbakti " ucap Cynthia di tengah isak nya
"Mama yang penting sehat, jangan memikirkan apa pun. jadi mama bisa segera di operasi. Mama satu-satunya yang vira punya di dunia ini" ucap vira memeluk Cynthia erat.
Sementara di tempat lain
Seorang pria sedang memadu kasih dengan seorang wanita, wajah pria itu tampan namun sangat dingin, ia melihat wanita di depannya dengan pandangan menghina dan senyum mencemooh
Setelah pelepasan, pria itu duduk dengan angkuh di Sofa yang tersedia di kamar tersebut, lalu mengambil dompet nya yang terdapat di saku celana, setelah itu melemparkan sejumlah uang kearah wanita yang terlihat memunguti pakaian nya
"Cepat ambil dan pergi" ucap nya dingin sambil menghembuskan rokok nya
Si perempuan seakan sudah paham akan maksud dari pria tersebut, secepat kilat ia memakai pakaian lalu memunguti uang yang pria itu lempar dan segera berlalu cepat keluar dari kamar itu.
"Arrrrggghhh dasar wanita semua sama...
menjijikkan" teriaknya geram sambil melempar gelas yang ada di atas meja.
wajahnya berubah menyeramkan, bengis dan penuh kebencian.
__ADS_1
Ting tong,
Ting tong
Bel apartemen berbunyi, si pria nampak mengerutkan dahinya bertanya dalam hati siapakah yang mengunjungi.
dengan malas pria itu bangkit mendekati pintu apartemen.
"Apakah wanita sialan itu kembali? apa uang yang ku beri kurang? " dengus pria itu
Ia dengan malas membuka pintu apartemen, namun wajahnya langsung berubah tegang, matanya melotot melihat sosok tamu yang berdiri di depan pintu apartemen nya
"Maaf, anda tidak diterima di sini, silahkan anda pergi" ucapnya segera menutup pintu apartemen, namun sebuah tangan kekar menahan nya
"Jhon, lepaskan tanganmu, jangan ikut campur urusan aku dengan tua bangka ini" teriaknya marah.
kebencian melintas di matanya.
Namun Jhon seolah tidak mendengar ucapan si empunya apartemen
"Ah kau orang yang menyebalkan Jhon, kau tahu itu?
Buat apa kau masih mau menemani tua bangka ini.
Biarkan dia bersama para wanita ****** itu, bukankah itu yang dia mau????????" Dengus pria itu sinis
"Steven, aku mohon sopan lah sedikit dengan papa" ucapnya dengan halus
"Papa katamu, orangtua ini? apa kamu anggap aku sudah gila????????
Pria ini bukan papaku, tidak layak di panggil papa, apa yang bisa ia lakukan sebagai seorang papa, tidak ada Jhon.
Peran dan keberadaan nya sudah mati sejak mama ku memilih bunuh diri" ucap pria itu terlihat terluka.
kebencian seakan mendarah daging dalam tubuhnya.
bahkan tubuhnya menggigil menahan amarah.
Rasa kehilangan mendalam mendorongnya untuk membenci pria di depannya itu
Si pria tua tersebut nampak terpukul dengan ucapannya, ia terlihat terhuyung dan hampir jatuh, beruntung Jhon langsung menopangnya berdiri
"Steven Gerald.....
Kau jangan keterlaluan!!!" teriak Jhon emosi sambil menyangga tubuh tua pria di samping nya
"Dia yang keterlaluan, kemana dia saat aku butuh dia, aku atau dia yang keterlaluan.
__ADS_1
Dia, bukan papaku.
aku tak punya papa!!!!!!" teriak pria itu
"Steeeeeevvvvvvv" teriak Jhon kesal
"Papa hanya rindu padamu, aku yang memaksa membawa beliau kesini karena ingin melihat keadaanmu, tapi kamu sungguh keterlaluan" maki Jhon pada Steven
"Sudahlah Jhon, sebaiknya bawa orangtua itu pulang, bukankah dia memiliki banyak wanita untuk merawatnya, jadi jangan pedulikan aku bagaimana" ucapnya melunak
"Bagaimana pun ia tetap papamu, dalam tubuhmu mengalir darahnya.
seburuk apapun papa kamu harus menghormatinya, beliau sudah menyadari kekeliruannya.
Tuhan saja pemaaf, mengapa kamu mahluk yang diciptakan begitu angkuh tak mau memaafkan orangtuamu sendiri?? " ucap Jhon mengingatkan
"Aku tidak bisa memaafkannya.ungkin kamu bisa karena tak melihat kebengisan pria itu.
aku tidak akan mengantarmu kalian, pintu keluar ada di belakang kalian" ucap Steven melangkah menuju kamarnya lalu membantingnya keras.
Pria tua itu terpaku, tanpa sadar air mata menetes membasahi wajahnya yang sudah di penuhi keriput. Tak ada yang lebih menyakitkan di dunia ini selain tidak di akui oleh darah dagingnya sendiri.
"Ayo nak, papa mau pulang" ucap Alexander Gerald menunduk, air mata nya menetes terlebih mendengar perkataan anak nya yang terasa menusuk nya.
Semua salahnya, wajar saja putranya sendiri membencinya.
Kesalahan masa lalu nya sudah menghancurkan semua, kekayaan yang dimiliki nya sudah tak bernilai lagi saat istri yang ia cintai memilih bunuh diri di depan mata nya.
Di tambah anak nya dengan wanita itu membencinya hingga ke tulang sumsumnya.
semua salahnya.
Jika waktu bisa di putar, Alexander Gerald tak akan pernah melakukan kesalahan fatal itu, sayangnya waktu tak pernah kembali.
Alexander menangis tanpa suara, Jhon memberi kode anak buahnya membantu Alex mendorongnya dengan kursi roda yang biasa di gunakan jika kondisi nya drop
Sementara Jhon masuk ke dalam kamar Steven dengan marah, langsung menarik kerah kimono yang di pakai Steven. Ia mengayunkan bogem mentah ke wajah Steven karena tidak terima dengan perkataan adik nya tersebut
"Kamu sudah menyakiti hati papa, mau sampai kapan kamu sadar?? apa nunggu papa meninggal baru kamu puas??
Mama sudah meninggal lama, apa kamu pikir mama akan memaafkan perbuatan mu?
Cukup Steve, jangan sakiti papa lagi, beliau sudah menyesal dan bertaubat.
Bertahun-tahun ini papa menyesali perbuatannya hingga ia sakit parah.
Semoga tak ada hari dimana aku melihatmu
__ADS_1
Menyesal di kemudian hari" ucap Jhon menghempas tubuh adiknya kasar lalu segera pergi menyusul papa nya yang di bawa oleh anak buahnya