
#Pov Dian
"Dian ini tak seperti yang kamu bayangkan, please biarkan aku menjelaskan nya padamu"ucap seorang pria dengan tubuh tanpa sehelai benangpun.
ya Dian ingin mengunjungi kekasih nya, mereka sudah menjalin kasih semenjak Sekolah menengah atas dan dua bulan lagi merek akan menikah.
Namun kini ia di hadapkan pada kenyataan bahwa kekasihnya selingkuh dan sedang berbuat maksiat di rumah yang mereka beli bersama.
Yang membuat Dian sakit hati adalah, wanita yang bernama dengan kekasihnya adalah sahabatnya sendiri,Melan
"Mau menjelaskan apa lagi? semua nya sudah cukup jelas bagiku.
Aku gak nyangka jika pria yang ku bangga-banggakan akan menjadi imam ku kelak berkelakuan layaknya binatang, aku sangat bersyukur Allah buka kan mata ku sekarang"
Suara Dian parau, namun mengandung kebencian yang dalam
"Dan kamu, Sahabat macam apa kamu, menusuk sahabatnya sendiri" hardik Dian pada sahabatnya.
"aku sudah menganggap mu saudaraku sendiri" ucap Dian menatap penuh benci pada Melan, namun Melan seolah tak bersalah, wajahnya malah menyunggingkan senyum mengejek pada Dian.
Melanntak punya malu, bahkan ia tak menutupi tubuh polosnya
"Siapa yang mau jadi saudaramu? ngacaaaa? punya apa kamu sampai menilai dirimu terlalu tinggi" cibir Melan
"Melaaaannn" bentak Fuad
"Babe tak usah sembunyikan lagi dari wanita munafik ini.
Aku tak pernah menyukainya, Asalnkau tahu, selama ini Fuad adalah kekasihku, kau hanya di manfaatkan saja!!!!!!
Fuad lebih mencintai aku, lihat tanda kepemilikan ya di tubuhku
Sementara kau wanita sok suci, pria mana yang tahan denganmu yang berciuman saja tak mau"
"Diam kau" teriak fuad marah membuat Melan langsung membungkam mulutnya, terlihat sekali jika Melan menurut pada Fuad dan ada kilatan kebencian yang amat sangat di mata Melan melihat Dian.
"Sayang maafkan aku kali ini saja, wanita itu menggodaku, dia menjebak ku" ucap Fuad membela diri
"Kau ..
kau bilang aku menjebakmu??
Siap yng ke kost an ku lalu memperkosaku???
itu kau, dan berkata membutuhkan ku, cinta aku???
Siapa yang selalu merengek minta jatah itu kau, pria sialan" maki Melan kesal bukan main,
Fuad menjadikanya kambing hitam
"Cukuuuuppppp....
Kalian berdua sama emejijikanya.
satu pelakor, satu lagi pecundang.
kalian berdua jodoh
__ADS_1
lalat dan bunga bangkai!!!" ejek Dian membuang lidah dengan wajah jijik
"PLAAAAAKKKK"
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Dian
"Kau yang munafik.
aku selalu mencintai kamu tapi jangankan melakukan hubungan badan, kaunkucoum saja seirngbtaj mau.
Kau sok suci" cibir Fuad dengan wajah merah akrena amarah
"Plaaaaakkk"
"Binatang, hari ini pergi dari hadapanku
bawa pelacurmu juga"
"Hahaha, wanita bodoh.
kau pikir aku dungu???
Rumah ini tas namaku, jadi kau enyaaaahhh.
sialan "Dian tergugu.
ia melakukan sesuatu yang fatal.
Ya rumah ini atas nama Fuad, bodohnya Dian rugi dua kali
waktu yang terbuang sia-sia untuk pria bajingan macam Fuad dan juga uang yang hilang.
"Baiklah, makanan sana.
kalian akan mendapatkan balasan setimpal suatu saat nanti" ucap Dian lalu berjalan keluar.
sesampainya diluar, air matanya tumpah.
ia meninggalkan rumah itu dengan hati hancur berkeping-keping.
Sesampainya di kerjaan, ia mendapat telepon ayahnya masuk rumah sakit dan harus di operasi
dan disinilah Dian kini, di apartemen megah milik Steven.
Dian turun dari meja,
Ia merasa sangat kesakitan di bagian intinya.
Namun hatinya lebih sakit
ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lanta, sedih dan merasa hina itu yang Dian rasakan.
Steven tak mengatakan apapun, ia berjalan meninggalkan Dian menuju dapur mini di apartemen tersebut
tak lama ia kembali dengan membawa segelas air putih.
Dian sudah memakai pakaiannya yang masih basah.
__ADS_1
"Minum" ucap Steven menyodorkan air tersebut.
Dian dengan ragu meminumnya, seringai jahat tersungging
Dian yng kelelahan meneguk air itu hingga tandas
ia mengira Steven memberi minum padanya karena tahu Dian haus, namun sepuluh menit kemudian, Dian merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
Diam merasa tak nyaman, ia merasa tubuhnya panas.
Dian mulai terlihat tak tenang duduk.
"Tu..tuan boleh aku mendapatkan uangnya sekarang???"tanya Dian lirih
"Tentu.
duduklah dulu, aku tahu ini pertama untukmu" ucap Steve. melirik noda darah yang menetes di karpet putih di ruang tersebut, Dian perawan.
"Tuan, saya harus...
Harus segera ke rumah sakit...
ah ayah, ayah saya..." Dian makin merasa panas, ia bahkan mengigit bibirnya sementara tubuhnya sudah tak bisa diam.
"*Sial, apa yang di berikan bajingan ini padaku
apa obat itu???
Dian bodoh kau terjebak oleh bajingan itu!!" maki Dian membaca situasi
ia melotot kesal ke arah Steven.
sementara Steven yang memakai kimono sengaja membuka dadanya, terlihat dada sixpack Steven membuat Dian gatal ingin menyentuhnya
*Dian Sadar ...." gumam Dian memperingati dirinya sendiri*
"Tuan uangnya..." ucap dian mengigit bibir bawahnya.
kini pandanganya ke arah bibir Steven.
tiba-tiba Dian mendekatinya dan **********.
Steven bersorak girang dalam hati
Ia membiarkan Dian yang mengendalikan situasi hingga akhirnya pelepasan kedua
Steven tiba-tiba membopongnya dan membawanya ke kamar mandi.
dan mereka melakukan lagi di sana.
Obat yang di berikan Steven ternyata sangat keras, Dian merasa sangat sakit di area intinya
mereka melakukan lagi dan lagi hingga akhirnya Dian pingsan tak sadarkan diri
Steven membersihkan tubuh Dian yang tak berkutik lagi.
Ia bahkan tak merasa kasihan
__ADS_1
Hingga pada pagi harinya Dian demam tinggi, tubuhnya menggigil membuat Steven ketakutan.
ia segera memanggil dokter keluarga yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.