
Operasi Cynthia yang di jadwalkan Minggu depan terpaksa harus di majukan karena kondisi Cynthia terus drop.
Sejak satu jam lalu Cynthia sudah berada di meja operasi berjuang dengan maut.
Davira terus menangis ia sangat takut kehilangan mamanya.
Davira terus berdoa dan berdoa untuk kelancaran operasi Cynthia
Setelah 3 jam ruang operasi baru terbuka.
Cynthia langsing bangkit dan menghampiri dokter Frans yang bertugas untuk mengoperasi mamanya
"Dokter bagaimana kondisi mamaku apa operasinya berjalan dengan lancar????"tanya davira dengan suara bergetar
"Operasinya berjalan dengan lancar.
Tapi kondisi mamamu belum stabil.
Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan satu jam kemudian.
Sebaiknya kau makan dan beristirahat sambil menunggu mamamu di bawah ke ruang perawatan.
Jangan sampai kau sakit juga dan mamamu akan sedih karena itu.
Jika kau sakit siapa yang akan menjaga mamamu???"ucap dokter Frans sambil mengelus puncak kepala davira.
"Sebenarnya aku masih kesal karena ada pria yang membiayai operasi Cynthia.
Padahal aku sudah menawarkan diri untuk membantu Davira, namun gadis itu menolak.
Tapi mengapa gadis itu menerima bantuan pria itu???? Apa benar pria itu kekasih Davira????"gumam dokter Frans dalam hati
"Dok Apa kau baik-baik saja????"tanya Vira yang melihat dokter Frans terlihat termenung
"Ah iya aku baik-baik saja"ucap Frans Canggung
"Aku pergi dulu Davira jika kau perlu sesuatu kau bisa menghubungiku di ruang kerjaku"ucap dokter Frans selalu meninggalkan ruang operasi.
Satu jam kemudian Cynthia di bawa keruang perawatan, ia masih dalam pengaruh obat bius. Davira lega dan bersyukur tiada henti karena akhirnya mamanya bisa dioperasi.
Hari berganti hari, tak terasa sudah tiga hari pasca operasi, kondisi Cynthia berangsur membaik, siang itu Davira sedang menyuapi mamanya, hingga suara ketukan pintu membuat percakapan kedua ibu dan anak itu terhenti
Tok tok tok
seorang pemuda tampan dengan keranjang buah di tangannya membuka pintu ruang perawatan tersebut
Davira sempat terkejut, namun beberapa detik kemudian ia bangkit dan menyambut kedatangan pria misterius itu.
Davira memang ingin menemuinya, namun ia tak tahu apapun tentang Steven
"selamat sore Tante,"
"sore" ucap cynthia menatap anaknya
"Ma, kenalkan, beliau adalah pak Steven,"
"Steven Tante" ucap pria itu sopan, bahkan mencium punggung tangan Cynthia membuat davira mengangkat sebelah alisnya.
Pasalnya pria misterius yang ia kenal itu sangat arogan dan menyebalkan.
Namunkini ia sangat sopan dan lembut pada mamanya,
"Jadi kamu yang sudah menolong Tante nak, ya Allah terima kasih ya nak.
Tante enggak tahu harus mengatakan apa lagi, sejak papanya Davira meninggal, kamu kira tak dan lagi orang yang sudi menolong kami.
__ADS_1
Terima kasih" ucap Cynthia Menggenggam tangan Steven.
Pria itu menyunggingkan senyum
"Saya menolong ikhlas Tan, terlebih Davira teman saya" ucap Steven tak masuk akal, Steven tak tahu jika Davira sudah menceritakan semua siapa Steven.
Mendengar pria itu menolong karena teman?????
Davira merasa dadanya sakit ada sedikit rasa getir dalam hatinya.
Pria itu berbicara dengan mudah seolah itu kebenaran, bagaimana reaksinya jika ia tahu bahwa mamanya sudah tahu kenyataannya???
"Tante enggak tahu harus membalas dengan apa" ucap Cynthia menundukkan kepalanya
Melihat Cynthia sedih, entah mengapa Steven merasa ikut sedih.
"cukup Tante sehat dan doakan aku sehat dan pekerjaan ku lancar" ucap Steven mengalir begitu saja.
Cynthia melongo menatap Steven tak percaya.
Namun Steven mengangguk dan tersenyum.
"kemari Tante ingin memelukmu" ucap Cynthia merasa senang.
Ia memiliki kesan baik pada Steven.
Cynthia menepuk-menepuknya pundak Steven penuh kasih sayang, Steven jadi teringat mamanya. saat kecil dulu, Steven sering di perlakukan sama seperti saat ini hingga ia tertidur dalam pelukan mamanya
"mama....
Steve kangen mama" gumam Steven lirih namun masih terdengar oleh Cynthia
"nak Steven, pasti mamamu orang yang lembut dan penuh kasih.
Jika ada waktu Tante ingin mengenalnya"
Mama sudah lama meninggal" ucap Steven tercekat.
"maafkan Tante ya.
kau bisa menganggap Tante mamamu, Tante tak punya anak laki-laki dan punya anak perempuan yang suka membantah" ucap Cynthia melirik ke arah Davira
"Mama, itu..." Davira merasa mamanya terlalu gegabah, ia tak setuju.
Namun Cynthia tak menggubris Davira.
"terima kasih Tante, aku akhirnya punya mama lagi" ucap Steven di luar dugaan.
ia kembali memeluk Cynthia sementara Davira melongo tak percaya dengan apa yang di lihat.
Bahkan mama nya terlihat sangat menyayangi Steven
"Mama...."
"sayang kemari, mama punya anak lelaki tampan hahaa.
Walaupun meninggal sekarang, mama tak khawatir lagi" ucap Cynthia tertawa senang
"Ma... Jangan Berkata yang aneh-aneh
Mama akan hidup seratus tahun lagi dan melihat Steve punya anak. Apa mama enggak mau Menimang cucu???"
"ah mama lupa, tentu mama akan sehat.
Mama ingin melihat kalian punya anak" ucap Cynthia
__ADS_1
Davira tak bisa berkata apa-apa, ia menatap Steven meminta kejelasan.
satu jam kemudian Cynthia tertidur karena kelelahan. Davira langsung menarik Steven keluar dari ruangan itu.
Ia harus menanyakan maksud dan tujuan Steven
Davira menarik tangan Steven keluar dari ruangan tersebut.
ia tak mau menggangu mamanya, terlebih Davira tak ingin Cynthia mendengar apa yang akan ia bicarakan dengan Steven.
"Hei kucing liar, mengapa kau suka sekali main kasar???"
"Diam kau!!!!
Aku tak tahu apa yang kau rencanakan di dalam otakmu yang kotor itu.
Ya harus aku akui, aku sangat berterima kasih karena kau sudah menolong mamaku, membiayai pengobatan mama.
Tapi aku tak mengerti apa tujuanmu melakukan itu???
Demi kemanusiaan???? Aku tak tahu jaman sekarang ada orang yang murah hati"
"mengapa kau selalu saja berprasangka buru" tanya Steven menaikan sebelah alisnya
"Karena sejak pertama kita bertemu, kau memberikan kesan itu padaku" ucap Davira tegas
"Astaga, apakah seperti itu???"
Dan kau memberi kesan seperti...."
"seperti apa???" Desak Vira
"Kucing liar"
"Dasar gila" Dengus Davira tak mengerti dengan jalan pikiran pria di depannya
"Jaga mamamu, aku akan menemui kalian lagi nanti.
Aku ada perlu" ucap Steven lalu melenggang pergi namun Davira menghadang Steven, menghentikannya.
"Aku akan membayar, aku akan membayar biaya yang kau keluarkan untuk operasi mamaku" ucap Davira menatap tajam ke arah Steven.
Steven terkekeh. Wanita ini mengingatkannya pada seseorang yang amat ia cintai.
Hati steven terasa sakit jika mengenang wanita itu
"Aku tak ingin membahasnya saat ini.
Yang terpenting kesembuhan Mama Cynthia.
Lagi pula aku tak tahu kau akan membalas dengan apa???
Jika mengandalkan gajimu, mau berapa tahun lunas???" Tanya Steven tersenyum meremehkan. Steven meninggalkan Davira yang membeku di tempatnya.
Ya, mau berapa lama???
Sementara di dua pekerjaannya saja ia hanya bisa menyisihkan setidaknya lima ratus ribu sebulannya, sedang hutangnya pada Steven lebih dari seratus juta
Davira merasa tubuhnya lemah seolah tak bertulang, ia jatuh terduduk.
Davira menangis tersedu-sedu
"Tuhan, aku takut
Aku takut jika aku harus membayar hutang Budi itu dengan sesuatu yang membuatku berkubang dalam dosa.
__ADS_1
Tapi aku tak punya pilihan.
Mamaku, aku tak ingin kehilangan beliau" ucap Davira makin tersedu.