Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
maafkan aku ma


__ADS_3

Steven merasakan kepalanya masih terasa berat, ia membuka matanya perlahan, saat ia ingin memijit keningnya yang masih terasa berdenyut, namun sebuah tangan menggenggamnya erat, Ia melihat Davira meringkuk tertidur di sisi ranjang sambil menggenggam tangannya erat


Tanpa sadar Steven tersenyum.


ia melihat wajah lelah Davira, sepetinya wanita itu semalaman menjaganya.


Steven Hadi merasa kasihan, karena dia Davira jadi susah.


Namun ia bahagia bisa di rawat oleh Davira,ada senyum terukir di bibir nya, ia malah mendekatkan wajahnya kearah Davira memandangi wajah cantik Wanita dari dekat.


Sangat cantik dan menggemaskan.


saat Wanita itu tertidur terlihat damai membuat Steven senang berlama-lama memandang wajahnya.


Steven bahkan mengelus rambut Davira, merapihkan beberapa helai anak rambut yang menutupi wajahnya.


"Ah kamu jika sedang tidur begini sangat imut sekali, tapi jika terbangun kamu seperti kucing liar, galak dan suka melawan" gumam Steven memegang hidung Bangir Davira, lalu pandangannya beralih pada bibir merah merekah milih Davira, ingin sekali ia ********** dan merasakan kembali bibir lembut itu, namun kondisinya tidak memungkinkan, ia terlalu lemah jika Davira melawan maka ia akan kalah tenaga.


Steven mengelus wajah Davira sambil tersenyum, seolah ia sedang bermain di sana, Davira yang terganggu menggeliat, ia terlalu mengantuk untuk membuka matanya karena ia terjaga hingga jam empat subuh karena merawat Steven


selepas sholat subuh ia langsung tertidur karena rasa kantuk yang sudah tak tertahan dan ia kelelahan


Steven berpura-pura memejamkan mata, seolah masih tertidur saat davira merasa terganggu dan membuka matanya malas, ia kembali memejamkan matanya karena teramat mengantuk.


Steve. kembali membuka matanya dan membelai rambut Davira , mengecup keningnya lembut


"Terima kasih baby, kamu sudah mau merawat ku" bisik Steven pelan, ia perlahan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, ia memaksakan diri walau masih sangat lemah, tubuhnya lengket karena keringatan akibat demam semalam


Steven menyalahkan air dalam bathtub lalu masuk ke dalamnya, ia berendam air hangat.


sementara di tempat tidur Davira membuka mata ya sedikit dan tersenyum, ia menyentuh keningnya, bekas dicium Steven.

__ADS_1


sejak beberapa saat lalu ia sudah terbangun karena ulah Steven, namun ia kembali memejamkan mata pura-pura tertidur kembali


"Maafkan aku mas, aku lega akhirnya kamu sudah baikan" gumamnya lalu kembali memejamkan matanya kembali


Steven yang sudah selsai mandi berpakaian dan kembali baik ke kasur, ia dengan sengaja mendekatkan wajahnya dekat Davira hingga hembusan nafasnya menerpa wajah Davira


Aroma sabun tercium dari tubuh Steven


Davira merasakan jika pria itu justru kini menempelkan wajahnya di pipi Davira, membuat ia membuka matanya sedikit


"Mas, aku mengantuk, biarkan aku tertidur sebentar"ucapnya lirih lalu kembali tidur


"Tidurlah, aku tak akan mengganggumu hari ini"ucap steven sambil mengelus kepala Davira


mereka akhirnya kembali tertidur sambil berpelukan.


Tak terasa mereka sudah tidur tiga jam sekarang sudah jam 9 pagi, dan mereka masih tertidur


Cynthia mencoba mengetuk pintu, ia tidak mendengar suara anaknya maupun Steven dari dalam sana sehingga ia mengurungkan niatnya masuk, namun setelah Cynthia pikir kembali tak baik anaknya di dalam hanya berduaan saja dengan Steven,ia kembali mengetuk pintu kamar dan memberanikan membukanya


Cynthia shock hingga ia hampir terjatuh, beruntung ia segera berpegangan pada handle pintu


"Astaghfirullah Davira, steve apa yang kalian lakukan nak??? kalian bukan muhrim nya" gumam cynthia, ia tak mau berburuk sangka terlebih dahulu, Menguatkan hatinya melangkah mendekati putrinya


"Sayang bangun"panggil cynthia sambil menepuk pelan pipi putrinya


Davira menggeliat dan membuka matanya perlahan, matanya langsung membelalak lebar melihat mamanya masuk ke dalam kamar ini, ia melihat posisinya yang salah saat ini, khawatir mamanya akan salah sangka padanya


Davira langsung turun dari kasur ,berdiri menundukkan kepalanya


"Maaf ma Vira gak sengaja tertidur, entah mengapa bisa ada diatas" ucapnya beralibi tanpa mau menatap mamanya.

__ADS_1


Cynthia hanya diam, memeriksa anaknya dengan seksama, pakaian Adavira masih utuh dan tidak terlihat ia habis melakukan hal yang ia khawatirkan.


Sementara Steven masih tertidur pulas, ia tak menyadari keberadaan Cynthia.


Cynthia memberi kode pada Davira untuk keluar dari kamar tersebut, mengikutinya dari belakang.


Sesampainya mereka di ruangan lain


"Ma maaf, tapi ini tidak seperti yang mama pikirkan"


ucap Davira langsung mengerti apa maksud mamanya


"Mama percaya padamu nak, namun tidak baik kamu sekamar dengannya, bagaimana jika orang lain yang melihat, mereka akan menganggap mu sebagai wanita yang tidak baik, sekamar dengan seorang lelaki tanpa ikatan pernikahan, itu tetap salah" ucap Cynthia menatap tajam Davira


"Maaf ma" lirih Davira


"Mama akan menanyakan pada nak Steven apakah ia mau menikahi mu, mama yakin dia pria yang baik dan bertanggung jawab" ucap Cynthia tiba-tiba


"Maa, itu???"


"Kenapa kamu tidak mau??? bukan mama memaksakan sesuatu, namun kita juga harus tahu diri.


Nak Steven sudah membantu pengobatan mama, dengan apa kita harus membalasnya?????


Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang gratis, suatu saat ia pasti akan menagihnya, cepat atau lambat.


menikahlah dengannya, mama mohon.


Anggaplah ini permintaan mama yang harus kamu turuti.


Maafkan mama, bukan mama egois, tapi mama juga mau kamu bahagia, walau nak Steven mungkin tidak mencintaimu dan mungkin saja suatu saat akan menduakan mu, tapi nantinya hidupmu akan bahagia karena ia memiliki segalanya.

__ADS_1


anggaplah kamu membalas hutang jasanya ” ucap Cynthia mulai menangis karena ia telah egois mengorbankan masa depan Davira tanpa meminta pendapatnya


"Ma, jangan menangis, Vira akan lakukan apapun yang mama mau, setelah kepergian papa, hanya mama yang Vira miliki, Vira rela melakukan apapun asal mama bahagia” ucap Davira menghapus air mata mamanya, mereka saling berpelukan.


__ADS_2