Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Keadaan Dian


__ADS_3

Ia harus membayar mahal untuk itu dan disini lah ia kini.


Merasa sekujur tubuhnya sakit, terutama di bagian bawahnya, perih sakit seperti di sayat.


Bahkan untuk melakukan pergerakan kecil pun, ia merasa sangat kesakitan.


bukan hanya tubuhnya yang hancur, tapi hatinya juga. Air mata terus menetes membasahi pipinya.


"ya Tuhan, maafkan hamba menembuh jalan nista ini.


Hamba hanya ingin menyelamatkan ayah" gumam dian kembali tak sadarkan diri.


Stevenn sudah memanggil sahabatnya yang berprofesi dokter dan juga sebagai dokter keluarga sekaligus.


Bagas segera datang setelah steven menelponnya.


Begitu bell apartemen berbunyi, steven segera membuka pintu apartemen , terlihat Bagas sudah berdiri di depannya


"Thank bro"


"Mana pasiennya??"tanya Bagas datar, ia sudah hapal maksud tujuannya di panggil.


"Apa mood mu sedang buruk??"tanya Steven menatap sahabatnya


"Sekalipun sedang buruk apa kau perduli???


Aku sedang making love dan kau telepon suruh datang, apa kau pernah merasakan sesuatu yang sudah di ubun-ubun harus sirnah karena kelakuanmu???'


"Ups maaf, kenapa loe enggak bilang???'tanya ZSteven nyengir. Ia merasa bersalah pada Bagas


Bagas memutar bola matnya malas. Ia mengeluarkan ponselnya dan memutar voice note


"*Bagas loe cepet datang ke apartemen gue sekarang"


"tapi bro gue..."


"Cepet urgent. Ini menyangkut nyawa manusia.


Cepet enggak pake lama. Tut"


Percakapan Steven dan bagas di telepon beberapa waktu lalu, Steven makin menyeringai, menggaruk kepalamya yang


Tak gatal*.


"Menurut loe????"


"Iya gue salah, gue salah"


"Gue enggak butuh pengakuan dosa loe, gegara loe vania sampai ngambek"


"Tenang gue kaish voucer belanja nanti dia dan loe berdua boleh nginep di hotel gue manapun selama seminggu"


"president suit hotel ya"

__ADS_1


"Seminggu.... Ya udah lah iya, iya.


Cepet selametim tuh cewek, dia dari tadi enggak bergerak"ucap steven khawatir


Bagas memandang kasihan pada wanita mungil yang tergeletak diatas ranjang


Ini bukan kali pertama ia merawat wanita korban keliaran Steven.


Namun diantara mereka semua, Dian terlihat paling mengenaskan.


Wanita malang itu sampai dua kali pingsan setelah sadar beberap waktu lalu.


Terpaksa Bagas memberikan infus pada wanita itu.


Ia juga menugaskan seorang suster untuk merawat luka di **** ***** wanita itu


Entah berapa kali sahabatnya itu menggagahi gadis perawan itu hingga area intimnya membengkak besar dan luka parah.


"Gimana dia??" Tanya Steve mendekati Bagas yang baru selesai menyuntikkan antiseptik pada Dian


"Apa loe harus seganas itu sama dia???


Dia masih perawan Steven.


Barang laknat loe Segede ulekan sambel di dapur Mak gue, sial" maki Bagas membuat Steven melotot


"Loe samaain terpedo kesayangan gue sama ulekan, dasar dokter gadungan" maki Steven tak terima


"Minum tuh" ucap Steven yang sudah menuangkan segelas wine di atas meja bartender


Loe mau izin praktek gue di cabut???


Dasar teman Laknut" maki Bagas menuju lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air menirel dan meneguknya sampai tandas.


"Loe kehausan???" Tanya Steven


"Haus liat kelakuan loe.


Gue itu dokter spesialis penyakit dalam Steven.


Bukan dokter Spesialis Obstetri-Ginekologi" 


"Terus??? Tapi sama-sama dokter kan???"tanya steven tak merasa bersalah


"Sudah ngomong sama loe"dengus Bagas menghempas bokonya di kursi bartender


"Terus salahnya dimana, sama-sama dokter pasti loe juga [ernah belajar anatomi tubuh manusia kan????"


"Apa kata loe aja lah, ,alas debat sama loe.


Ah satu yang gue nyeselin di dunia ini.


Kenapa punya teman blangsak kaya loe.

__ADS_1


Susah ngomong sama loe, sial" maki Bagas yang di balas tawa kecil Steven


"Bilang aja loe grogi harus liat...


Hmmm, hemm" ledek Steven tak tahu malu sambil menarik turunkan alisnya


"Karena gue sama loe berbeda sial.


Gue lelaki baik-baik yang enggak akan menjamah kekasih gue sampai halal.


Gue jaga pusaka gue sampai waktunya"


"Terus si Vania siapa loe???


"Dia barang test drive gue"


"Najis loe sama gue sama, bedanya cuma di caranya aja"gerutu steven kesal


"Jelas Beda dong. Kalau loe kan berkeliaran dimana-mana tuh burung, entah berapa sangkar yang udah loe hinggapi.


Steve ingat loe juga harus memikirkan masa depan. Jangan buang masa depan loe sia-sia"


"Ya, ya ,ya...


Bawa tas loe dan minggat sana.


Gue mau istirahat cape" ucap Steven mengibaskan tangannya


"Mau sampai kapan???" Tanya Bagas menatap sahabatnya serius


"Maksud loe????"


"Mau sampai kapan loe seperti ini???


Steven, gue sebagai sehabat loe hanya berharap loe bisa berubah.


Cobalah berdamai dengan masa lalu.


Semua yang terjadi dalam hidup kita sudah di gariskan, tapi kita bisa memilih menjalani hidup kita kedepannya bagaimana." Steven terdiam, ia menghembuskan asap rokok di mulutnya sambil menatap kosong ke depan


"Temui dokter Andika, loe butuh terapgy nya"


"Gue enggak sakit bro" ucap Steven tak suka


"Tapi loe terluka disini.


Itu lebih sulit di sembuhkan.


Gue akan membuat jadwal temu untuk loe, dan gue gak mau loe bantah atau...


Persahabatan kita berakhir


Percayalah, gue menyayangi loe kaya adik gue" ucap Bagas menepuk punggung Steven lalu melangkah pergi sambil mengela nafas.

__ADS_1


Steven hanya memandang kepergian sahabatnya hingga punggung Bagas menghilang di balik pintu


"Apa gue harus menemui psikiater???? Gumam steven lirih.


__ADS_2