Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Wanita di Masa Lalu


__ADS_3

Steven menghembuskan rokoknya sambil menatap gelapnya malam di temani cahaya temaram.senyum licik tersungging di bibir nya.


Steven terbayang kejadian siang tadi. saat bertemu dengan Davira,


Davira mengingatkannya pada seseorang.


Seseorang yang amat ia cintai.


Seseorang yang berbeda dengan wanita lainnya.


Entah mengapa melihat kegalakan dan judes nya Davira sangat senang.


seolah ia mengenang kembali sosok itu, sosok yang mampu menggetarkan hati Steven.


#Flash Back


Ting tong


Ting tong


suara bell terus apartemen Steven berbunyi, Tidak bisnaya ia sudah tidur lebih awal, ini karena Susana mendukung, di luar hujan rintik tak henti sejak pagi membuatnya malas beraktivitas dan lebih senang berada diatas kasur sejak pulang kerja tadi


Bel terus berbunyi, membuat tidur Steven terganggu,


Steven menyalahkan lampu, sudah pukul dua belas, lalu siapa yang datang, jika asistennya ia tak perlu membunyikan Bel pintu


Dengan malas Steven bangkit dan menyalahkan semua lampu di ruang tengah dan tamu.


ia mengintip dari celah pintu, seorang wanita????


Dengan penasaran Steven membuka lebar pintunya


Nampak berdiri seorang perempuan dengan rambut sedikit basah akibat hujan, sedang berdiri di depannya dengan mengatupkan kedua tangan, ia terlihat kedinginan


"Pak, tolong saya" ucap nya lirih dengan pandangan memohon


"Dian? apa yang membawamu kemari, ayo masuk


kenapa kamu hujan-hujanan apa tak bisa dibicarakan besok???" ucapnya mempersilahkan perempuan itu masuk


"Maaf menggangu istirahat anda tuan" ucap Dian lirih melirik dengan takut-takut


"Apa mendesak???Ah baiklah masuk lah dulu, kita bicarakan di dalam" ucap Steven dengan seringai licik.


Dian menggigit bibir nya, ia terlihat ragu, namun akhirnya masuk juga.


Steven mengenalnya wanita itu karena Dian bekerja di salah satu hotel miliknya, dan ia pernah mengejar gadis itu, bukan karena cinta.


Tapi karena Steven ingin Dian menghangatkan ranjangnya.


"Mu minum apa???" tanya Steven menatap lekat Dian membuat wanita itu merasa risih


"Tidak perlu, saya..."


"Sebentar" ucap Steven melangkah masuk ke dalam kamarnya, ia memberikan handuk untuk mengeringkan rambut Dian, lalu berjalan ke arah dapur mengambil segelas air mineral.


"Te..terima kasih" ucap Dian meneguk air putih itu dengan ragu.


Dian menghela nafas, ia saat ini sangat takut.


namun ia sudah membulatkan telat nya

__ADS_1


"Apa yang bisa saya bantu?"tanya Steven duduk di depan Dian


"Saya mau pinjam uang Tuan, ayah saya sakit" ucapnya tersendat dengan kepala tertunduk sambil memainkan jari tangannya


"Berapa?" Tanya Steven dengan senyum mengembang.


Satu tahun. Satu tahun Steven mengejarnya, namun gadis itu menolak mentah-mentah seorang Steven.


"Dua ratus juta tuan" ucapnya lirih dengan kepala masih menunduk


Steven tak mengatakan apapun, ia  berjalan menuju meja kerjanya, tak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa selembar cek bertuliskan nominal yang di sebutkan Dian


"Terima kasih Tuan Steven" ucap Dian gembira, dengan ini ia bisa mengobati bapak nya yang harus segera di operasi.


sejak memutuskan meminta bantuan Steven, Dian sudah tahu konsekuensinya.


Bukan rahasia lagi jika bos nya itu adalah kumbang penghisap madu, Steve akan membayar mahal untuk setiap wanita yang berhasil ia tiduri.


Sang borju yang senang mengejar daun muda.


Sebelum tangan Dian berhasil mengambil cek tersebut, Steven menariknya kembali.


Sontak netra hitam milik Dian bertemu dengan netra berwarna abu-abu milik Steven.


Mata yang indah namun sayang penuh kelicikan.


Diam merasa tubuhnya menggigil melihat Steven menatapnya dengan cara yang tak bisa Dian katakan.


tatapan itu seperti binatang buas yang ingin memakan mangsanya.


Tatapan itu terus tertuju pada kemeja putih Dian yang basah kuyup membuat tubuh sintal Dian terekspos sempurna.


Saat di beritahu ayahnya pingsan dan di bawa kerumah sakit, Dian segera kerumah sakitan menerima kenyataan bahwa ayahnya harus segera di operasi.


"Dengan apa kamu membayar nya? " tanya steven memandang lekat Dian.


Kini Dian merasa tubuhnya lemas, pria itu menatapnya seolah ia adalah mangsanya.


Mata penuh nafsu yang seakan menelanjanginya


Steven memandangi baju Dian yang sedikit basah, menampilkan lekuk tubuhnya.


Steven makin tak sabar ingin menggagahi Dian, sesuatu di alam dirinya bergejolak, terlebih melihat Dian dengan pakaian basah.


Dian menelan saliva nya, sebelum ia datang kesini, ia sudah membulatkan tekadnya.


Ia juga sudah mendengar sepak terjang Steven, berapapun akan di berikan Steven asal wanita itu merelakan sesuatu yang berharga di rampas darinya.


mahkotanya.


Dian memejamkan mata sejenak, ia mulai melucuti baju nya sendiri, hingga kini tanpa sehelai kain


Steven Dian di tempatnya, ia sampai melotot tak menyangka bahwa tubuh Dian sangat sexy.


Tanpa komando Steven langsung menerkam Dian tanpa ampun, ia juga seakan tak perduli jika gadis polos itu menitikkan air mata.


Nafsu sudah membuatkan mata hati Steven.


Pria itu ******* bibir Dian, namun gadis itu hanya diam membuat Steven melepaskan pangutan bibirnya


"Balas aku, seperti apa yang ku lakukan.

__ADS_1


Aku tak suka bercinta dengan benda mati.


Apa kau berubah pikiran???"tanya Steven dengan suara parau


"Ti....tidak" ucap Dian menguatkan hatinya.


Ini yang pertama untuknya, seorang lelaki menjamah, ******* dan meremas bagian tubuhnya.


Air mata Dian menetes deras.


Ia mencoba membalas ciuman Steven walau terlihat kaku


"Tuhan, ampuni aku.


aku tak punya jalan lain.


Ayah maafkan anakmu ini yang tak bisa menjaga kesuciannya


biarkan Dosa ini tanggung asal kau sembuh ayah" gumam diam dalam hati.


Kini Steven menciumi leher jenjang Dian, meninggalkan tanda kepemilikan di sana.


Dian mengigit bibirnya, hatinya hancur, tapi ini semua demi ayahnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki.


ciuman Steven kini makin turun ke bawah,


Nafas berat terdengar jelas, tanda Steven sudah di penuhi nafsu


"Satu tahun, satu tahun aku mengejar mu.


Membayangkan menikmati tubuhmu yang nikmat ini" ceracau Steven


Tanpa sadar Dian mendorong Steven, ia merasa jijik dan malu


"Kau ingin uangmu dan nyawa ayahmu selamat atau..." Dian tak menunggu lama, ia melakukan apa yang Steven perintahkan.


"jangannnnn....


Aku ..


kubmilikmu tuan" ucap Dian memejamkan matanya


"susah terlambat, aku tak akan melepaskan mu" ucap Steven mengurung Dian di bawahnya.


Steven melancarkan aksinya


Dia menjerit kencang. ia merasa sangat kesakitan.


Ia sangat tersiksa.


"Tuan Steven, berhenti...


Tolong berhenti" namun Steven tak perduli hingga ia pelepasan pertama


lalu ambruk di samping Dian.


Sementara Dian menangis' tersedu-sedu.


ia tak punya harga diri lagi, kehormatan yang selama ini ia jaga sudah tak ada lagi di tandai bercak darah di pahanya yang menetes


"Perawan memang nikmat, aku akan menambahkan lima puluh juta lagi untukmu baby" ucap Steven berjalan tanpa pakaian, ia mengambil minum untuk dirinya dan Dian.

__ADS_1


__ADS_2