Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Positif


__ADS_3

Seminggu berlalu


Steven belum juga kembali ke apartemen, namun ia sering menelpon mengabarkan keadaanya atau sekedar menanyakan kegiatan Davira, keduanya bahkan kini lebih terbuka tentang semua hal.


Mereka terkadang menghabiskan waktu bercengkrama walau hanya dari telepon, mengungkapkan perasaan satu sama lain, persis anak muda yang sedang di mabuk cinta.


Terkadang juga Davira datang ke kantor steven mengantarkan makan siang untuk steven dan baru kembali menjelang sore, mereka menikmati perasaan mereka.


Pagi ini Davira merasa tubuhnya panas ,bahkan ia demam. Nafsu makannya menurun, ia juga kadang sulit mencerna makanannya dan memuntahkannya.


Davira tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya hingga ia menyadari sesuatu,


Davira segera mengambil ponselnya, matanya melotot dan ponselnya sampai terjatuh.


Ia merasa tubuhnya lemas, bergetar ketakutan.


Davira memaksakan tubuhnya yang demam untuk pergi keluar, tujuannya hanya satu, yaitu membeli sesuatu dan menemukan kebenarannya.


Davira segera memoles wajahnya dengan make up untuk menyamarkan wajahnya yang pucat karena sejak malam ia terus mual muntah. Namun davira tahan ia muntah tanpa suara dan itu amat menyiksanya.


Setelah meminta izin pada Cynthia untuk ke supermarket Davira segera pergi, ia tak lupa mampir ke apotik membeli obat demam dan juga test pack.


Bulan ini ia ingat belun datang bulan dan sudah lewat dua Minggu, Davira sangat takut jika ia hamil.


Bukan tidak siap, saat ia menyerahkan keperawanannya, ia sudah siap sekalipun hamil.


Namun Saat itu Steven memberikan obat kontrasepsi sehingga ia tak hamil.


Namun beberapa Minggu ini Steven terus melakukanya dan lupa memberinya obat itu, atau mungkin Steven sengaja???


Davira menggelengkan kepalanya, bagaimana pria itu sengaja, jelas-jelas ia baru setuju menikahinya seminggu lalu, dulu saat ia mengatakan pria itu tidak mengatakan apapun.


Davira sudah sampai di apartemen, ia meletakkan barang belanjaannya, beruntung Dara yang melihat Davira pucat bersedia membantunya merapihkan barang belanjaan tersebut.

__ADS_1


Pada Dara perawat yang merawat Cynthia Davira memohon tidak mengatakan apapun pada Cynthia.


Setelah itu Davira masuk kedalam kamarnya dan langsung memakai test pack tersebut


Davira menanti dengan berdebar.


dua garis merah samar tercetak .


Ia sampai merasa lemas dan duduk diatas toilet sambil menangis.


Bagaimana ia bisa menjelaskan pada Mamanya jika ia hamil anak Steven.


hamil sebelum menikah???


Bagaimana jantung mamanya nanti?


Davira sulit membayangkan.


namun dua garis merah samar???


Davira mencari pencarian di laman pencarian dan mencari informasi tentang dua garis merah pada testpack, lututnya lemas. Ia hamil.


Ia sungguh hamil.


Davira merasa senang hamil anak Steven, tapi juga takut. Untuk memastikan kebenaran apakah ia hamil atau tidak , Davira berniat memeriksakan dirinya ke rumah sakit, tidak di rumah akit yang salam dengan mamanya, Davira khawatir ada yang mengenalinya.


Siang itu juga Davira sudah berdandan, bersiap ke rumah sakit.


mamanya yang melihat Davira sudah rapih merasa heran, sebab Davira sudah tidak bekerja sejak mereka tinggal di apartemen Steven.


Kini Davira berdandan cantik namun ia tak melihat kotak makan yang biasa Davira bawa saat ingin menemui Steven membawakan makanan untuk calon suaminya tersebut


"Sayang, kamu mau kemana???"

__ADS_1


"Nita ngajak ketemuan ma, biasa deh" ucap Davira santai, walau sebenarnya ia merasa berdosa sudah membohongi mamanya.


"Oh kalau begitu salam buat Nita ya sayang.


Ingat biasakan izin dengan calonmu juga biar dia enggak salah paham.


Pulang jangan malam-malam" ucap Cynthia


"baik ma, Vira jalan dulu.


Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Davira segera pergi sebelum kebohongannya terungkap.


Ini pertama kalinya ia tak jujur pada Cynthia, ada rasa bersalah menggerogoti dirinya


"Maafkan Vira ma, Vira harus memastikan sesuatu" ucap Davira segera melajukan motornya menuju sebuah rumah sakit. Ia segera mendaftar di loket pendaftaran.


Davira tak lupa mengabarkan Steven, namun ponsel priabitu tak aktif. Akhirnya ia mengirimkan pesan singkat yang intinya memberitahu jika ia keluar rumah.


Jika Memnag ia hamil, Davira harus segera mendesak Steven menikahinya secepatnya.


Setelah mendaftar, Davira menuju ruangan khusus dokter kandungan di lantai dua. Rupanya antrian cukup panjang, Davira sudah mengantri selama satu jam dan kini gilirannya.


Dengan ragu Davira masuk, ia beralasan Jika suaminya sedang dinas keluar kota, dokter kandungan tersebut memeriksa dengan teliti, dan ternyata benar Davira hamil, bahkan ia mencetak hasil USG nya, ia tak sabar memperlihatkan itu pada Steven.


Davira tersenyum menatap amplop berisi hasil USG nya. Tanpa sadar tangannya mengelus perutnya yang masih rata, di alam sana ada buah cintanya dengan Steven, pria yang ia cintai.


Ada bahagia juga harus bercampur menjadi satu. Davira jadi membayangkan bagaimana anaknya kelak. Ia bahkan sudah memikirkan pakaian apa dan jenis kelamin anaknya.


Tiba-tiba ia menabrak seseorang dan hampir terjatuh, beruntung ia berpegangan pada pot besar di sampingnya

__ADS_1


"Astaghfirullah kalau jalan lihat-lihat..."


"Kau.....


__ADS_2