Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Terbongkar


__ADS_3

"Harap anda duduk dengan tenang nyonya Margareth atau saya akan menyuruh petugas membawa anda keluar sidang" ucap hakim ketua tegas karena melihat Margareth berteriak-teriak


"Luka di tubuh saya karena wanita ini yang menyewa orang membunuh saya.


Beruntung seseorang menyelamatkan saya.


Saya juga dapat membuktikan bahwa dia, wanita ular itu bekerjasama dengan dokter rumah sakit dimana dia kecelakaan.


Karena dokter itu adalah salah satu mantannya yang di ancam oleh Margareth untuk membantunya.


Dokter itu juga yang membantu membuat opini bahwa itu percobaan pembunuhan untuk menyingkirkan wanita malang itu" terang Antoni menunjuk Davira


"Ini tidak benar..


Semua perkataannya bohong pak hakim


Dia berbohong, saya di fitnah"teria margareth panik.


Jonathan menatap Margareth dengan tatapan menyelidik, lalu melirik ke arah papanya yang terlihat tenang dengan senyum mengembang di bibirnya.


Yang mana yang harus Jhon percaya???


Apakah ini ulah papanya memanipulasi saksi??? Tapi bukankah jika papanya melakukan itu akan ketahuan dan yang paling buruk akan di penjara????


Tapi melihat betapa tenangnya papanya, Jhon jadi gusar.


Benarkah ia mengenal Margareth dengan baik??? bagaimana jika perkataan pria asing itu benar adanya??


Jika demikian, ia sama saja mendorong adeknya masuk ke mulut buaya betina.


Jhon frustasi, ia memijit keningnya yang terasa berdenyut, Jhon menatap Margaretha


"Kak, sungguh bukan aku pelakunya, seseorang memfitnah ku" ucap margareth berusaha menarik simpati Jhon


"Jika kau tak bersalah tak usah khawatir.

__ADS_1


Biarkan hukum yang membuktikan"


"Kau harus menolongku kak,


Hanya kau yang ku percaya.


Aku hanya seorang ibu dengan anak yang tak di akui" ucap Margareth menambah bumbu di dramanya


Jhon tertegun sejenak, ia memang sosok yang penyayang sehingga ada rasa ibu dan kasihan pada dirinya


"Aku akan membantumu, tapi jika kau berbohong, aku tak akan melepaskan mu" ucap Jhon membuat Margareth bergidik ngeri.


pria hangat dan baik hati didepannya memancarkan sinyal ancaman yang tak main-main.


Ruangan sidang kembali gaduh.


Pernyataan Antoni membuka semua bukti.


Hakim ketua kembali mengetuk palu menenangkan ruang sidang


TOK TOK TOK


"Yang mulia ini adalah bukti pemeriksaan Antonio, dan dua berkas lainnya adalah bukti pernyataan dokter yang menjadi kaki tangan Margareth.


Kini dokter itu sedang dalam penanganan pihak berwajib. Dia mengakui jika dia diancam akan di beberkan q skandalnya ke publik, sementara karir nya sedang menanjak dan sebentar lagi akan menikah.


Semuanya ada dalam flash disk ini.


dan berkas satunya lagi bukti dari pihak berwajib tentang penangkapan saudara Y yang di sewa nyonya Margareth dalam percobaan pembunuhan Antoni" ucap Ruben lancar.


Hakim anggota menerimanya, flash disk di terima dan di putar,


Sesuai perkataan Ruben itu merupakan bukti bahwa dokter itu bertindak di bawah ancaman, sekalipun begitu dokter itu tetap di kenakan sangsi berat, dari kedokteran dan juga pihak berwajib.


Alexander mengangguk, ia tersenyum puas.

__ADS_1


Kerjasamanya dengan Ruben di detik menjelang sidang membuahkan hasil. Bahkan Steven pun tak tahu, hanya Alexander dan Ruben.


Kini ia bisa bernafas lega, menantinya pasti bebas.


Alex juga tahu jika Steven mencari keberadaan saksi kunci, namun Alex khawatir hanya dengan itu Davira akan sulit keluar dari penjara. Untuk mengeluarkan Davira perlu saksi yang lebih hebat lagi, dan anak buahnya menemukan keberadaan Antoni.


Alex juga menelusuri semuanya dengan jelas dan menjebloskan semua yang bersalah ke penjara.


Alexander pria tua itu masih sosok yang sama, berkuasa dan tegas, usia nya yang tak muda lagi, tak menghalangi dirinya untuk mencari informasi yang terlihat pelik sekalipun.


Steven melongo bengong, pasalnya Ruben tak mengatakan apapun tentang itu, namun melihat reaksi Ruben yang mengacungkan jempol ke arah Alex, Steven mengerti, papanya yang membantu mereka


"Ben...?????"


"Ini berkat papa loe, gue hanya sebagai pelengkap" ucap Ruben tersenyum.


Ruben sangat berharap Steven dapat menyayangi Alex dan menemaninya di hari tua pria malang itu.


"Pa, terima kasih...


Terima kasih banyak pa" ucap Steven memeluk Alexander


"Hei, tak perlu berterima kasih, Menantu cantikku tak bersalah. Lagi pula aku melakukanya demi Davira dan cucu lelakiku"


"Pa, dia masih kecil bagaimana kau tahu dia anak laki-laki????"


"Sebab itu insting ornagtua. Sudah tenangkan dirimu dan kita dengarkan putusan hakim.


Setelah itu bereskan semua kekacauan mu.


Papa tahu bukan papa yang baik, jangan lakukan kesalahan yang sama seperti papa nak.


jangan pernah melepaskan istrimu"


"Tidak akan pernah pa, Steven cinta mati sama Davira" ucap Steven membuat Alex tertawa kecil.

__ADS_1


putranya itu mirip dengannya.


hanya mencintai satu wanita.


__ADS_2