
Hari ini selesai sudah terapy yang dijalani Cyntia sebelum pulang mereka makan siang terlebih dahulu, lalu setelah itu kembali ke apartemen
Setelah mengantar Cyntia dan Davira sampai apartemen, Steven pergi lagi setelah menerima telepon dari seseorang, wajahnya terlihat sedikit tegang dan matanya memerah karena marah, entah ada masalah apa, yang jelas Steven Memacu kendaraannya dengan tergesa-gesa
Davira menghembuskan nafas lega, setidaknya ia merasa aman tanpa adanya intimidasi dari Steven
Hingga makan malam, Steven belum juga kembali,
entah mengapa ada perasaan hampa di hati Vira, namun ia menggelengkan kepalanya, menghalau pikirannya
"Sepertinya otakku sudah gila, bagaimana aku bisa memikirkan pria mesum itu, Ya Tuhan apa yang terjadi padaku”gerutu Davira yang tak bisa memejamkan matanya terus memikirkan Steven,
jujur walau mengesalkan dan sering buat Davira kesal, namun tanpa sadar kehadiran Steven sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Kini ia bahkan membayangkan Steven sedang berkencan dengan seorang wanita
”Arrrgghhh , Vira loe sinting, buat apa mikirin cowok sialan itu, seharusnya loe senang dia gak ganggu tidur loe”Teriak Davira frustasi mengacak-acak rambut nya sendiri
Setelah berguling ke kanan dan keliru dan akhirnya lelah, Davira tertidur sambil memeluk bantal guling nya
#Flash Back
Setelah menerima telepon dari Margaretha Steven langsung menghubungi asistennya yang mengabarkan jika wanita yang pernah tidur dengannya sedang hamil,
Steven mengutuk dirinya sendiri, namun juga ada keraguan di dalam hatinya
ia selalu bermain bersih.
hanya ada dua wanita yang pernah ia tiduri tanpa pengaman, Dian dan juga Davira.
namun mereka berbeda, mereka bukan wanita bayaran.
Margareth langsung menyusul Steven setelah tahu dimana Steven berada.
Bisanya Steven lebih memilih tinggal di salah satu hotel miliknya, namun kini berbeda, ia tinggal dengan Davira dan mamanya.
Margaretha mengamuk di hotel tersebut karena menduga orang-orang Steven menghalangi ia bertemu dengan Steven.
”Bos, nona Margaret sedang mengamuk di hotel kita, ia membuat keributan, berteriak-teriak di lobby hotel, membuat pelanggan terganggu..
__ADS_1
Kami tak berani melakukan kekerasan , karena ia mengancam jika kami bertindak, maka akan menyakiti anak dalam kandungannya”ucap Ruben panik
”Bawa wanita itu ke kamar yang biasa ku pakai, tahan ia untuk keluar sebisa mungkin, jangan sakiti ia.
aku akan datang dalam waktu lima belas menit"ucap Steven dingin, lalu mengakhiri panggilan teleponnya
Ia memacu kendaraannya, pikirannya kacau, ia jadi teringat akan seseorang yang pernah ia cintai , Dian, gadis polos yang memilih mengakhiri hidupnya karena tidak ingin memiliki anak darinya.
Wajah Steven muram, ia lalu menghubungi Ruben kembali
"Selidiki segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita itu, termasuk hubungannya dengan teman lelakinya, aku ingin memastikan apakah benar ia mengandung anakku atau pria lain, ku beri waktu 2x24jam untukmu mencari tahu"ucap Steven lalu mengakhiri panggilannya sebelum Ruben menyahut
"Aku akan ikuti permainan wanita itu, jika dia ingin menipuku dan bermain-main denganku, membuang waktuku yang percuma, bersiaplah menggali kuburannya sendiri”ucap Steven dengan tatapan dingin
Kendaraannya sudah sampai dia sebuah hotel yang terlihat megah, hotel ini adalah hotel miliknya juga, beberapa orang menyambut kedatangannya dengan kepala menunduk hormat.
Ruben yang sudah mengetahui kedatangan Andrew langsung menyambut Andrew
”Bagaimana dengan wanita itu?”tanya Steven yang langsung berjalan menuju lift
”Lapor bos, wanita itu sudah tak memberontak, malah ia seakan menikmati fasilitas di hotel ini, ia bahkan berani membentak dan memerintah pegawai hotel dengan mengatakan bahwa ia sebentar lagi akan menjadi nyonya Steven Smith ”ucap Ruben memberi laporan
”Huh, dasar wanita rendahan, aku akan bersabar sampai aku tahu yang sebenarnya, sementara ini ikuti semua kemauannya”ucap Steven yang sudah sampai di depan pintu kamar presidential suite
Nampak Margaretha sedang menikmati room service ia meminta petugas spa yang berada di hotelnya datang ke kamarnya untuk melakukan perawatan
Margareth tidak menyadari kedatangan Steven , ia terlihat sedang memarahi pegawainya
”Kamu kalau kerja hati-hati dong, pakai otak, awas saja akan ku adukan pada kekasihku, aku pastikan kamu akan di pecat.
apa kamu tahu siapa saya? saya calon istri pemilik hotel ini”ucap Margareth angkuh, sementara si pegawai hotel terlihat berkeringat dingin ketakutan hingga ia berlutut memohon ampun pada Margareth
”Cih, wanita ini sungguh kejam, dia memperlakukan karyawan ku seperti ini, bagaimana jika benar ia mengandung anakku? Aku tak bisa membayangkan seberapa Angkuhnya lagi wanita ini jika benar anak itu anakku, aku berharap itu tak benar"gumam Steven dalam hati
Sekalipun Steven dingin dan kejam, ia tak pernah memperlakukan karyawannya dengan buruk.
Steven selalu berlaku profesional, walau ia memiliki kebiasaan buruk suka memetik bunga yang wangi.
”Sayang , apa yang membuatmu tak senang”ucap Steven mendekati Margareth
__ADS_1
"Sayang, kau kenapa lama sekali, aku merindukanmu" ucap Margaret tanpa malu langsung duduk hingga sebagain tubuhnya tersingkap.
ia malah sengaja berpose menantang
Steven memberi kode karyawannya untuk pergi
”Mau kemana kamu?” bentak Margareth membuat pegawai hotel itu berhenti dan memandang Steven
”Apa kamu masih butuh orang lain saat aku sudah datang?” tanya Steven tersenyum menggoda, walau dalam hatinya ingin sekali ia mencekik wanita ini.
ia tak pernah suka ada wanita arogan di depannya
"Biarkan mereka pergi, aku risih banyak orang" lalu Steven mengibaskan tangannya meminta karyawannya keluar, kini tinggal ia dan wanita itu di dalam ruangan.
Tanpa malu, wanita itu bangkit sehingga kain yang menutupi tubuhnya jatuh, ia berjalan mendekati Steven tanpa sehelai pakaian
Steven tidak bergeming dari tempatnya, ia hanya menunggu dan melihat apa yang wanita ini lakukan
Margareth mulai menciumi dan melenggak-lenggok memamerkan ke sexy an tubuhnya, melakukan gerakan erotis untuk membangkitkan gairah Steven
Steven yang terbakar gairah langsung membopong tubuh Margareth ke kasur lalu menyergapnya, menciumi setiap inci tubuh Margareth.
wanita itu mendesah tanpa malu menerima perlakuan Steven, Margareth malah semakin liar, mengambil alih kegiatan panas mereka,keduanya berpacu meraih puncak, terdengar suara ******* yang saling bersahutan hingga diakhiri teriakan kecil tertahan tanda mereka telah mencapai pelepasan
Steven bangkit lalu menyulut rokoknya, ia tersenyum sinis melihat tubuh bugil Margareth yang tertidur
”Aku harus memastikan sesuatu sebelum semuanya jelas, aku tak mau bertindak ceroboh.
Entah mengapa aku malah merindukan Davira.
wanita lugu , galak dan malu-malu, justru membuatku tertantang”ucap Steven menyunggingkan senyum smirk
Steven berjalan ke arah balkon, menikmati rokok dan segelas wine di tangannya, ia lalu meraih ponselnya, menghubungi seseorang yang tak lain adalah Farel sahabat sekaligus orang kepercayaannya selain Ruben
”Hoaaamm, ada apa bro malam-malam menghubungiku”ucap Farel kesal
”Apa Ruben sudah kasih kabar sama loe? "tanya Steven tak sabar
”God, apa gue robot yang tak perlu tidur? gue juga butuh waktu bukan hanya kerja, kalau loe udah berkeluarga, loe akan tahu ”ucap Farel protes
__ADS_1
”Gue nelpon loe bukan untuk mendengar ocehan loe. Gue pengen secepatnya mengetahui kebenaran.
Ruben sudah mengirimi bukti kehamilan Margareth apa loe udah mencari tahu usia kandungannya dan apa dia benar hamil?” cerocos Steven tak perduli pada protes Farel