Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Maksud Tersembunyi


__ADS_3

"Kucing liar, bukankah dia cute Ben????" tanya pria itu pada asistennya


"Sedikit tapi galak" ucap pria yang sejak tadi berdiri di samping pria aneh itu


"Aku justru suka yang seperti itu.


kuti gadis itu dan cari tahu siapa yang di kunjungi.


aku menginginkannya" ucap Pria itu menyeringai licik


"Apa anda yakin, dia terlihat..."pria yang di panggil Ben menghentikan ucapannya saat atasannya itu menatapnya tak suka


"Galak dan sulit di dapatkan??? tanya Apria itu menaikan sebelah alisnya dengan senyum meremehkan.


"Tenang saja, lakukan tugasmu dan sisanya urusanku" ucap pria itu sambil meneguk kopi nya dengan santai,


di bibirnya tersungging senyum licik.


sementra pria yang di panggil Ben langsung mengikuti Vira secara sembunyi-sembunyi hingga akhirnya Vira masuk ke dalam sebuah ruang perawatan.


ia menunggu lama namun wanita itu tak kunjung keluar, hingga akhirnya Ben memutuskan bertanya pada seorang suster yang melintas


Tak sulit mendapatkan informasi dari suster itu.


Cukup memanfaatkan ketampanannya, Ben berhasil memikat lawan jenisnya.


setelah mendapatkan informasi yang di cari, Ben kembali menghadap bos nya di kediaman pria tersebut.


"apa yang kau dapatkan????" Tanya pria itu tak sabaran


"namanya Davira, dia bekerja dua tempat.


Dia ternyata karyawan di hotel kita" ucap Ben menatap bos nya ingin tahu reaksi bos nya, namun pria itu tetap santai


"aku tahu" ucap pria itu tersenyum


"Kalau sudah tahu ngapain juga nyuruh gue, dasar aneh" gerutu Ben dalam hati


"Ben masih bisa ku dengar kau mengumpat apa"


Ben tersentak dan meneruskan laporannya


"Ah, iya dia bekerja di cafe juga.


Papanya sudah meninggal karena terlilit hutang, depresi berat dan akhirnya tutup usia.


sementara mamanya kena kanker payudara.


Saat ini Vira sedang berjuang untuk operasi mamanya karena..."


"cukup Ben, informasi yang sudah kau berikan sudah cukup bagiku"ucap pria itu memotong ucapan Ben


"Apa ada yang harus ku lakukan lagi bos????" tanya Ben


"Cari tahu, dokter yang menangani wanita tua itu, dan buat janji temu denganku" ucap Pria misterius itu bangkit dari tempat duduknya


"bos...


Apa yang mau kau lakukan????" tanya Ben penasaran, tapi ia sudah bisa menebak.


Dalam hati Ben merasa kasihan dengan wanita malang itu.

__ADS_1


"Aku????


Tentu aku mau menebar jaring ku.


Apa kau pikir aku pria dermawan yang menebar uang untuk pahala???" cibir Pria misterius itu


"Bu...bukan begitu bos, saya...."


"Sudahlah lakukan apa yang aku perintahkan


Dan ini...


Ini bonus untukmu karena kau tanggap dalam bekerja" ucap pria itu tertawa lalu berjalan menuju kamar pribadinya


Ruben menatap amplop besar diatas meja, matanya berkaca-kaca, namun tangannya mengepal kencang.


Ia merasa seperti germo yang menjual para gadis.


Batinnya menjerit namun tak berdaya.


"Maafkan aku nona.


Aku tak berdaya. Aku hanya berdoa semoga bos menyadari kesalahannya cepat atau lambat" ucap pria itu lalu perlahan mengambil amplop coklat diatas meja dan segera pergi dari tempat itu.


Dua hari kemudian


Ruben menatap kertas ditangannya


Ia merasa ragu menyerahkan pada bos nya.


Perasaan bersalah menghantuinya.


Ia bisa membayangkan nasib wanita itu setelah masuk dalam cengkraman bos nya, menjadi budak pemuas *** yang akhirnya akan di campakkan oleh bos nya saat ia sudah bosan.


Ruben meremas rambutnya frustasi, ia dilema.


Cekreeeeng


Pintu ruangan Steven Gerrard terbuka, dan berdirilah pria tampan dengan wajah dingin itu menatap bingung Asistennya yang terlihat sedang melamun


"Apa yang kau lakukan di depan ruanganku????" Tanya Steven membuat Ruben terkejut dan kembali dari lamunannya


"Ah bos, anda mengagetkan saya" ucap Ruben gelagapan


"Aku tanya apa yang kau lakukan???" Tanya Steven dingin, menatap penuh selidik


"Tidak....


Saya...." Ruben masih ragu ingin menyerahkan hasil penyelidikannya atau tidak


"Kertas apa itu??" Tanya Steven langsung merebut kertas dari tangan Ruben.


Pria itu terkejut, namun berusaha tenang


"Tamatlah sudah riwayatmu nona" gumam Ruben yang melihat seringai licik terpasang di bibir atasannya 


"Kerja bagus, kau memang orangku yang paling kompeten" ucap Steven menatap puas kertas laporan di tangannya


"Bos...


Kita akan ada meeting satu jam lagi" ucap Ruben mengingatkan

__ADS_1


"Undur dua jam, ada yang harus aku lakukan.


Ayo..." ucap Steven melempar kertas laporan Ruben dan berjalan sambil memasukan kedua tangannya.


langkahnya yang panjang dengan wajah tampan membuatnya terlihat seperti peragawan, namun siapa yang tak tahu tabiat buruknya.


Bahkan seisi kantor sudah tahu jika bos mereka seorang playboy cap bintang tujuh, (puyer kali🤣🤣🤣)


"Ke...kemana bos???" Tanya Ruben pura-pura bodoh. Ia yakin serigala ini akan menuju rumah sakit dimana mama Davira di rawat


"Kerumah sakit, cepat waktu kita tak banyak" ucap Steven tak sabaran.


Ia berjalan mendahului Ruben menuju lobby perusahaanya.


Ruben langsung bergegas menuju basemen mengambil mobil sambil memberi informasi ke bawahannya jika rapat di undur dua jam


Sambil memaki pelan Ruben menjalankan mobilnya setelah Steven naik, mereka langsung menuju rumah sakit imana Cynthia di rawat.


Ruben langsung membuat janji temu, beruntung Frans hari ini ada jadwal praktek.


Setelah menunggu kurang lebih satu jam, mereka akhirnya berhasil menemui dokter Frans


"Siang pak, ada yang bisa saya bantu????" Tanya dokter Frans ramah


"Saya keluarga jauh nyonya Cynthia Aarav, saya ingin tahu kondisi beliau"


Dokter Frans menatap Steven yang terlihat tenang. Dokter Frans menatap tak percaya pada pria di depannya.


Pasalnya sudah lebih dari dua tahun Cynthia di rawat, baru kali ini ada yang datang menanyakan kabar wanita malang itu.


Frans meragukan Steven


"Ini kartu nama saya jika anda ragu, anda bisa memeriksanya.


Saya memang bukan kerabat nyonya Cynthia


Tepatnya saya akan menjadi kerabat karena Davira akan menikah dengan saya" ucap pria itu membuat Frans terkejut bukan main.


Ia sampai menatap Steven dari atas kepala hingga ujung kaki.Walau harus Frans akui, pria di depannya sangat tampan dan juga pastinya kaya raya.


Frans membaca kartu nama yang di berikan Steven.


Alisnya berkerut.


Ia mengenal perusahaan itu, tak menyangka bahwa CEO mereka sendiri yang kini berada di depan Frans.


walau Frans tak berkecimpung di dunia bisnis, ia tidak pernah ketinggalan berita, semua karena papanya selalu membicarakan bisnis sekalipun di meja makan.


Namun Frans lebih memilih menjadi dokter alih-alih meneruskan perusahaan papanya.


Ia tak berminat sama sekali dalam bisnis, walau Frans juga sebabnya memiliki background di bidang bisnis juga.


Frans merasa sangat cemburu.


Ia merasa darahnya mendidih, Ada perasaan kecewa karena mengetahui Davira sudah memiliki kekasih, apakah itu alasan gadis cantik itu tak pernah merespon perasaanya????


Frans menghela nafas, ia berusaha tetap tenang.


Sebagai dokter ia harus bersikap profesional.


Masalah perasaan nomor dua.

__ADS_1


"Jadi...."


"saya ingin membiayai semua operasi nyonya Cynthia"


__ADS_2