
”Besok aku akan bawa kamu ke spa agar mereka bisa merelaksasi tubuhmu sekalian merawat tubuhmu agar tetap cantik mempesona"ucap Steven
”Babe, aku hanya butuh kamu, ini karena ulahku sekarang di tubuhku ada Andrew kecil"Margareth mengeluh manja sambil memanyunkan bibirnya
Steven hanya bisa memaki kecil, ia sangat membenci wanita ini.
Namun belum saatnya ia menyingkirkan Margaret
”Aku bukan tukang urut, bagaimana aku bisa meringankan tubuhmu yang sakit??? apa perlu ku panggilkan Bu Mirah untuk memijit mu?” tanya Steven ingin bangkit dari tempat tidurnya, namun Margareth menarik tangannya
"Aku hanya mau kamu, tidak mau siapapun" rengek nya lagi manja sambil menggesek gesekan dua gundukan miliknya.
Kepala Steven mau pecah, ia memang pemain wanita, namun ia tak pernah memanjakan wanita, karena ia biasa di manja oleh para wanita yang hanya mengejar hartanya
Steven memijit kepalanya yang berdenyut, ia mengumpat dalam hati dan memikirkan cara bagaimana menyingkirkan wanita ini dari tempat tidurnya.
”Baiklah, naik dan berbaringlah di kasur, aku akan mengelus lembut punggungmu sampai kau tertidur.
Besok aku antar kau ke spa” ucap Steven berusaha sabar
Margareth tersenyum puas, taktiknya berjalan lancar, ia berbaring di samping Steven sementara tangan Steven mengelus punggungnya yang terbuka.
Margareth sengaja menggesekkan tubuhnya untuk memancing kejantanan Steven , tak akan ada pria yang mampu menolaknya,walau Steven menyukai Margareth, namun ia tetap seorang pria yang menyukai wanita dengan tubuh sintal menggoda.
Margareth berinisiatif mencium Steven , mereka berciuman, lidah mereka saling menjelajah, membelai dan mengait.
Tiba-tiba ponsel Steven berbunyi walau akhirnya mati setelah beberapa kali nada dering.
Steven sudah melucuti semua pakaian Margareth, ia juga kini hanya mengenakan ****** ***** saja, Margareth sudah melucuti pakaiannya.
Dan Ponsel steven kembali berbunyi, panggilan masuk, lagi dan lagi membuat Margareth dan Steven kesal.
Steven mengumpat lalu bangkit meraih ponselnya, hasratnya sudah diatas kepala, namun suara ponsel membuatnya terganggu.
Steven berniat mematikan ponselnya agar kegiatannya dengan Margareth bisa lancar, namun matanya terpaku melihat nama yang tertera di dalam ponsel tersebut.
Nama yang selama beberapa hari ini membuatnya sulit memejamkan mata
Kucing Liar calling.....
Tanpa Steven sadari, ia tersenyum menatap ponselnya hasratnya tiba-tiba meluap, semua karena ia membayangkan wajah cantik Davira
"Beeebb, cepetan dong aku udah gak sabaran nih” ucap manja Margareth
__ADS_1
”Sebentar aku harus mengangkat telepon, penting"ucap Steven berjalan keluar dari kamar
Margareth mendengus kesal, ia memukul bantal di sampingnya
"Telepon sialan, gagal rencana ku. Sial, sial,sial" ucap Margareth kesal
Sementara di luar kamar
”Assalamu'alaikum, Aku cuma mau kasih tau besok mama terapi" ucap Davira di ujung telepon
”Astaga aku lupa"ucap Steven menepuk dahinya sendiri
"Aku tahu kau sibuk , itu terlihat karena kau tidak pulang kerumah beberapa hari. Jika kau sibuk aku tak akan mengganggu. aku bisa membawa mama untuk Terapy, kau selesaikan saja urusanmu” ucap Davira tak enak terus menyusahkan Steve
Davira tak mau terus berhutang dengan Steve , karena ia tahu semua tak ada yang gratis di dunia ini, hanya soal waktu saja di mana ia harus membayar semuanya.
"Aku akan mengantarnya besok, kau tenang saja"ucap Steven cepat
”Apa kau yakin bisa? Kami tak enak terus menyusahkan mu"ucap Davira gusar
"Aku tak sibuk, aku bisa mengantarmu” ucap Steven tersenyum lebar, Davira akan bersikap manis jika berhubungan dengan mamanya, dan Davira sangat menyukai hal itu
” Sayang cepatlah aku sudah menunggumu" teriak manja Margareth membuka pintu kamar sedikit
Steven terkejut, tak menyangka jika Margareth akan berteriak, tentu saja suara Margareth akan terdengar oleh Davira
” tidak Davira , dia, dia hanya pembantu ya pembantu” ucap Steven beralibi
”Tuan Steven Smith aku sudah dewasa dan tahu dengan benar. It's ok itu urusanmu tidak ada sangkut pautnya denganku, kamu juga tak perlu menutupinya dariku karena aku bukan siapa-siapa bagimu” ucap Davira lalu memutuskan panggilan teleponnya
”Ah sh*th , Davira pasti berfikiran yang tidak-tidak tentangku, sial” gerutu Steven menendang sofa di depannya
Steve masih mengumpat, ia kesal dan marah pada Margaretha, karena ulahnya Davira jadi salah paham.
Steve merasa bingung dengan perasaanya sendiri, ia tak tahu mengapa ia harus menjelaskan dengan siapa ia kini , bukankah Davira hanya wanita yang membayar jasa dari pertolongannya atau mungkin Steven memiliki perasaan lain padanya????
ada rasa khawatir dan takut kejadian tadi menyakiti hati Davira
Ada apa dengan perasaanya yang dingin selama ini??
Mengapa ia merasa harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka????
Steven merasa frustasi
__ADS_1
ia menjambak rambutnya, mengusap wajahnya kasar.
Jika bukan karena anak yang di kandung Margareth, ia tak akan sudi satu atap dengan margareth.
Steven tak siap berkomitmen dengan wanita itu
ia bergidik ngeri membayangkan jika Margareth menjadi istrinya.
Dengan enggan Steven kembali masuk ke dalam kamarnya, di sana ia melihat Margareth sudah tertidur, rupanya obat tidurnya baru bekerja.
”Ah Sial, dia tidur di kasurku, sial” umpat Steven kesal.
Ia tak mungkin membangunkan Margareth apalagi mengangkatnya, lebih baik ia mengalah tidur di sofa dari pada harus berbagi tempat tidur dengan Margareth
Steven menyulut rokoknya di balkon kamarnya, ia memandang keluar , indahnya pemandangan malam di iringi suara bintang malam membuat hati Steven tenang
Setelah menghabiskan beberapa batang rokok akhirnya ia mengambil bantalnya dan tidur di Sofa
Sementara di Apartemen
Davira nampak gelisah, entah sudah berapa kali ia berguling ke sana dan kemari namun kantuk itu tak kunjung datang.
pikirannya terbangkan saat ia menelpon Steven beberapa saat lalu
”Sh*th kenapa gue jadi kesel sendiri????
Please otak, loe masih sehat kan???
ngapain gue harus mikirin itu manusia mesum, dasar kegatelan, bilang kerja gak taunya nginap sama cewe lain.
Loh kok, kenapa gue jadi kesel begini, emang dia siapa?
Arrrgghhh sepertinya otak gue udah konslet"ucap Davira mengacak-acak rambutnya.
Ia membenamkan wajahnya di bantalnya, berusaha mengusir bayangan wajah Steven , semakin ia coba , semakin kesal ia jadinya.
Karena bayangan Steven tetap tak mau pergi menjauh
Hingga akhirnya kantuk pun datang dan ia akhirnya terbuai dalam mimpi.
Keesokan paginya
Steven sengaja memasang alarm karena takut ia telat bangun, badannya serasa remuk karena harus tidur sepanjang malam di sofa yang ukurannya lebih kecil dari tubuhnya.
__ADS_1
Begitu alarm bunyi, Steven langsung mandi dan berganti pakaian.
ia melakukan secara hati-hati agar Margareth tak terbangun, lalu belum pergi ia memerintahkan ibu Mirah untuk menyiapkan segelas keperluan Margaret bila ia berulah Steven meminta Bu Mirah memberikan obat tidur, seperempat dosis yang bisa ia berikan.