
Davira masih terdiam menatap kosong kearah luar jendela kamar nya, sementara Steven masih terlelap tidur sehabis meminum obat yang ia berikan.
Perkataan mama nya terngiang-ngiang kembali di telinganya, bukan ia tak mau menikah, namun dengan pria itu???? mustahil.
bukan Davira yang menolak, ia sadar kini ia sudah tak perawan lagi, dan Steven yang telah merampasnya.
pria itu bukan tipe pria yang mau terikat dalam pernikahan, karena Vira pernah meminta pria itu menikahinya secara agama namun Steven menolaknya mentah-mentah.
Di samping itu Steven juga playboy, pria kaya yang meniduri banyak wanita, ia bisa membeli dan mendapatkan wanita manapun yang ia mau, termasuk wanita yang ia lihat di rumah sakit, dimana wanita itu sedang mengandung anak steven
Entah berapa banyak wanita yang pernah ia tiduri, mungkin juga banyak nyawa tak berdosa yang di paksa lahir ke dunia sebelum saat nya alias di aborsi, mengingat steven sangat gemar menebar benih.
Sanggupkah ia berumah tangga dengan pria seperti itu????
Davira menghela nafas kembali.
Mamanya benar ,dengan apa ia harus membayar hutang-hutangnya pada Steven
operasi mamanya saja menghabiskan uang fantastik, ditambah terapi pemulihannya, Vira memijit kepalanya yang terasa mau pecah.
jika harus membayar uang itu, walau seumur hidup bekerja di dua tempat, hutang itu tak akan terbayar.
Davira melirik sosok pria tampan yang masih memejamkan mata dengan nafas naik turun teratur, wajahnya yang pucat kini berangsur membaik.
Davira ingin berteriak karena ia merasa hidupnya sangatlah pelik. Sejak kematian papanya, masalah datang silih berganti. Ia merasa lelah.
Jika memang ia harus bersama Steven maka ia akan bersiap makan hari seumur hidupnya, namun apakah Steven mau menikahinya???
__ADS_1
jelas-jelas ia tak terlihat berminat menikah, mungkin juga status Davira selamanya hanya wanita simpanan, penghangat ranjang yang suatu saat akan di depak keluar dari kehidupan Steven
Tiba-tiba terdengar suara erangan membuat Davira menoleh, ia melihat mulut Steven yang merintih.
Davira segera menghampiri Steven memegang keningnya memeriksa suhu badan Steven. demamnya sudah hilang.
Davira kini bisa menghela nafas lega, ia masih merasa bersalah pada Steven.
Steven memegangi kepalanya yang sakit, ia perlahan membuka matanya dan mendapati kucing liarnya sedang memandanginya dengan khawatir
”Aku tak akan mati" ucap Steven lirih berusaha menghibur davira
”Bagus, jangan mati, aku takut masuk penjara karena dituduh meracuni mu” ucap Sewot sewot, bukan berterima kasih sudah di rawat malah mengatakan hal yang tak terduga, membuat Davira kesal bukan main
”Ambilkan aku air putih” ucap steven duduk bersandar, namun terlihat ia menahan sakit di kepalanya.
Steven merasa tenggorokannya kering dan sakit.
”Tuh ada di meja, ambil sendiri” celetuk Davira mau beranjak dari tempat tidur, namun Steven menarik Davira dengan kekuatan yang tersisa
jujur ia merasa sangat lemah, namun melihat Davira semangatnya muncul
Steven sangat bahagia di temani Davira saat sakit begini.
"Aku sakit, kamu harus merawat ku, ini semua karena kamu” ucap Steven serak berharap Davira membantunya mengambil air.
ia takut bergerak, kepalanya berdenyut sakit
__ADS_1
Jika ia tidak sakit, ia ingin sekali ******* bibir sexy Vira dan menindihnya hingga wanita itu berteriak dan mendesah nikmat, namun kini tubuhnya masih lemah, tenaganya tidak akan kuat melawan kucing kecilnya yang galak itu.
"Huh" Davira hanya mendengus kesal, namun ia tetap berjalan mengambil air dan menyodorkannya pada Steven.
Steven hanya menatap gelasnya dan memberi kode agar Davira a membantunya minum.
"Aku rasa tanganmu masih berfungsi dengan baik” sindir Davira , namun ia tetap melakukan apa yang Steven mau sehingga steveb tersenyum penuh kemenangan.
”Makan dulu buburnya, setelah itu kembali istirahat” ucap Davira mengambil bubur dan menyodorkannya pada Steven.
lagi-lagi pria itu memasang wajah lemah
”Suapi” ucapnya dengan wajah memelas
Davira menghela nafas berat, ingin rasanya menarik rambut pria di depannya ini hingga gundul, betapa menjijikkannya saat ia manja.
namun sakitnya Steven juga karenanya , jadi Davira hanya bisa menurut.
"Pelan-pelan, aku bukan babi yang makan sesuatu tanpa di kunyah"
"Bagaimana kamu tahu??"
"Itu karena aku pandai dan rajin membaca
jika tak ikhlas tak usah kau teruskan, aku bisa meminta mama menyuapiku"
"Enak saja, mama ku perlu istirahat, jangan cengeng, wajahmu tak pantas memasang wajah melas membuat aku ingin menyodokkan satu skop nasi langsung, biar cepat" ucap Davira sewot
__ADS_1
"Kamu jahat sekali pada orang sakit" protes Steven dengan wajah sedih
"Bukan urusanku" ucap Davira ketus