
Steven menjumpai Davira setelah sidang, Davira terlihat sangat lelah dan tertekan.
pandanganya kosong.
Davira lelah lahir batin. Ia ingin menangis kencang, namun tangis tak akan menghasilkan apapun, tak bisa mengembalikan kebebasannya yang dulu.
Seumur hidup nya, ia tidak pernah membayangkan akan berakhir seperti ini, kemalangan ya berawal sejak menerima bantuan Steven.
Namun ia tak menyesali, setidaknya penderitaannya sebanding dengan kesembuhan mamanya.
Bahkan jika nyawa menjadi taruhannya, Davira siap
Davira memejamkan matanya, marah, sedih, kesal, merasa terzolimi yang berkecamuk di dalam dirinya membuatnya frustasi.
Hingga suara seseorang membuatnya membuka matanya
"Sayang, apa kau baik-baik saja?.
Maafkan aku..."
"Jika kau datang untuk minta maaf padaku sebaiknya kau tak usah menemui ku.
Berapa banyak kata maaf yang kau ucapkan mas???
Apa maafmu bisa membuatku keluar dari tuduhan ini.
Apa maafmu bisa membeli kebebasanku????
Pergilah"
"Sayang, mas bersalah padamu"
"Setidaknya kau tahu, kau salah, maka perbaiki hidupmu. Cukup aku yang menderita"ucap Davira dingin. Ia tak ingin menatap Steven suaminya yang baru menikahinya beberapa Minggu sebelum dirinya di penjara.
Berita tentang test DNA yang menyatakan bahwa putra yang di lahiran oleh Margareth adalah putra Steven suaminya sudah menorehkan luka teramat dalam di hatinya.
Kepercayaan itu lenyap, Davira ingin menyangkalnya, namun kenyataannya seperti itu
Perkataan mana lagi yang harus ia percaya???
Jelas-jelas ia tak bersalah, ia tak mendorong Margaretha hingga jatuh, namun hukum mengatakan ia bersalah hanya karena saksi dan CCTV menangkap kejadian itu dari arah belakang mereka.
__ADS_1
Lalu kemana CCTV yang menghadap tangga????
Mengapa takdir begitu kejam padanya
Tanpa sadar Davira mengelus perutnya yang masih rata, ia merasa sangat kasihan pada anaknya jika kelak ia memang harus menjalani hukumannya di balik jeruji besi.
Haruskah ia melahirkan dan membesarkan anaknya di dalam sini??? Lalu bagaimana dengan mamanya???
Bagaimana jika mamanya mencarinya????
Davira merasa sangat khawatir
"Aku akan membebaskan mu, bertahanlah" ucap Steven tak tahu harus berkata apa.
Davira hanya diam seribu bahasa.
Pikirnya melayang ke mana-mana
"Sayang, jaga kesehatanmu dan anak kita. Aku..."
"Kau sudah punya anak dari wanita itu, sekalipun terjadi sesuatu pada ku dan anak ini, kau tak akan rugi"
"Daviraaaa....."Davira balas menatap tajam ke arah Steven, ia bisa melihat wajah lelah dan sedih suaminya
Di bawah matanya juga terdapat lingkar hitam tanda ia tak bisa istirahat dengan baik
"Baby...
Maafkan aku....
Aku tahu ku marah padaku, marah dan malu aku.
Aku sungguh tak mengerti bagaimana itu bisa menjadi putraku, aku ..."
"Anak itu tak bersalah, dia darah dagingmu.
Jangan hukum dia hanya karena kau tak menyukai mamanya" ucap Davira lirih
"Baby... Kau tak tahu betapa sakitnya aku melihatmu seperti ini. Tolong jangan tolak aku.
aku sangat tersiksa, jika bisa biar aku saja yang merasakan semua.
__ADS_1
Aku merindukanmu" ucap Steven memeluk Davira.
Davira hanya diam tak membalas pelukan suaminya.
"Ayo,...
Ayo kita bercerai mas"ucap Davira tersendat
"Tidak, tidak akan pernah.
Aku bisa mati tanpamu baby...
Please beri aku waktu untuk membebaskan mu" ucap Steven menangkup wajah pucat Davira.
Davira terkejut suaminya itu menangis.
Pria sombong, arogan dan menyebalkan itu menangis????
Entah mengapa hati Davira terenyuh. Tanpa sadar ia menghapus air mata di pipi Steven.
Davira melihat penderitaan di sana.
Cinta Steven sama besar dengan cintanya.
"Jangan tinggalkan aku baby, pleaseeee ..
Kau bisa membenciku sesuka hatimu, tapi jangan..." Davira meletakkan jarinya di depan mulut Steven
"Wajahmu suda di tumbuhi bulu, rapihkan saat kau pulang dan makan dengan teratur" ucap Davira serak.
Jujur ia sangat mencintai Steven.
"Aku tak perduli penampilanku sayang, aku tersiksa melihat kau disini. Aku suami yang sangat buruk"
"Mungkin ini sudah suratan takdir.
Aku hanya khawatir pada mama.
Bagaimana keadaan mama saat tak bisa menghubungiku.
Mas... Aku titip mamaku padamu"
__ADS_1
"Dia mamaku juga, aku akan melakukan apapun untuk beliau"
"Terima kasih mas"