Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Kepergok


__ADS_3

"Tunggu nona ..nonaaa...."


Devira langsung berlari berbalik arah dan membuka pintu ruangan step namun begitu pintu ruangan terbuka bola matanya membulat sempurna.....


di depan sana Seorang wanita berperut buncit sedang berusaha melepas pakaian Steven.


melihat pintu terbuka, Steven dan wanita itu menoleh dan terkejut.


Steven sampai mendorong Margaretha menjauh.


Steven posisi tadi membuat orang pasti salah paham, tak terkecuali Davira yang menatap tajam ke arah Steven.


Baru seminggu yang lalu pria itu berjanji akan menikahinya, namun setelah tak pulang seminggu ternyata pria itu bersama wanita itu, wanita yang menyapanya tempo hari di rumah sakit.


"Wanita ******, mau apa kau ke kantor suamiku???" bentar Margareth melotot tak suka.


"Maaf aku menggangu" ucap Davira dingin


"Owh ya, aku hanya mengantar ini karena mama memintanya, permisi" ucap Davira menyodorkan bekal makan siang buatannya pada sekertaris Steven lalu ia berbalik arah dan pergi


"Davira loe harus kuat.


jangan menangis untuk pria buaya darat seperti dia.


loe enggak pantas merendahkan diri loe dan terlihat lemah didepan pria sialan itu" gumam Davira menguatkan hatinya.


namun sekuat apapun ia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh, nyatanya ia menangis juga


"Davira....


Davira tunggu...." teriak Steven menyusul Davira, Davira berlari menuju lift.


ia merasa muak dan marah


"Davira tunggu aku, aku bisa jelaskan" ucap Steven mencekal tangan Davira.


Steven merasa sangat bersalah melihat Davira menangis


"Lepassss...." ucap Davira penuh emosi


"Baby ini tidak seperti yang kau pikirkan, kau lihat sendiri dia yang memaksaku"


"Lepas, temui wanita itu.


apa yang kau lakukan tak ada hubungannya denganku.


Anda tak perlu menjelaskan apapun padaku, karena aku tidak butuh itu"


"Davira please aku bisa jelaskan...


Saat ini....."


"Masssssss....


kenapa kau mengejar wanita sialan ini sih??" teriak Margareth dengan nafas ngos-ngosan karena berjalan cepat menyusul Steven


"Lihat istrimu menyusul.


owh ya, lupakan aku pernah memintamu untuk menikahi ku.


aku terlalu naif berharap percaya dengan kata-kata mu"


"Masass...."


Pintu lift terbuka, Davira seger masuk.


Steven tidak mencegahnya.


tangan Steven di pegang Margareth dengan posesif.


wanita itu bahkan bergelayut manja memamerkan kemesraan pada Davira membuat Davira muak.


walaupun begitu Davira berharap Steve masih mencegahnya pergi, tapi pria itu hanya menatap kepergiannya hingga pintu lift tertutup.


Davira merasa lututnya lemas, ia terduduk sambil menangis tersedu-sedu


"Steven sialan, buaya buntung.


kadal jelek.


sialan aku menangis untuk pria brengsek itu" ucap Davira.

__ADS_1


ia tersadar sebentar lagi ia berada di lantai dasar gedung perkantoran itu, Davira buru-buru menghapus air matanya dan segera keluar dari tempat itu.


beberapa staf menunduk hormat, berbeda saat tadi ia datang, semua karena perkataan Ruben.


bahkan petugas keamanan yang tadi menahan Davira kini ikutan menunduk sopan sambil tersenyum.


Davira hanya ingin seger akeluat dari tempat itu.


ia merasa dadanya sangat sesak.


sakit, sungguh sakit rasanya hatinya.


Sementara di lantai paling atas gedung tersebut, Steven terlihat mengepalkan tangannya hingga urat wajahnya kaku.


"Sayang, siapa wanita itu????"


"Pulanglah, sekertaris ku akan mengantarmu"


"Aku tak ingin pulang.


kau marah padaku karena wanita tadi????


Apa dia selingkuhan mu mas???


Dengar mas, aku tak suka kau dekat dengan siapapun, terutama wanita itu.


Aku membencinya sungguh membencinya"


"Margareth please pulang


Aku tahu batasanku.


wanita itu adikku.


mamaku yang memintanya mengantar makan siangku.


kau mengacaukan segalanya dan dia salah paham.


kau ingin aku menikahinya bukan???


maka patuh lah atau aku tak akan perduli kau lagi, sekalipun di dalam perutmu saat ini ada anakku" ucap Steven dingin membuat Margareth terkejut.


Margareth lalu tersenyum dan mengambil tas nya.


ia harus bermain cantik atau semua rencananya gagal.


Apanyang steven katakan maka itu yang akan terjadi, ia sangat mengenal Steven dengan baik.


Jika ia terus mendesaknya bisa jadi anak di kandungnya tidak lagi bisa mengikat pria itu


"Baiklah, kau pulang baby...


aku tunggu di rumah" ucap Margareth mengedipkan sebelah matanya


ia ingin mencium bibir Steven, namun pria itu berdiri sehingga ciuman nya hanya mengenai dada bidang Steven


Steven tak mengatakan apapun, ia menelpon salah Seorang sekretarisnya meminta sekertaris nitu mengantar Margareth sampai rumah.


Margareth mengamuk di dalam mobil.


ia sangat marah.


Steven mengusirnya karena wanita itu.


padahal dikit lagi ia biasa bercinta dengan Steven.


walau Steven terus menolak sejak tadi, namun dengan godaan Margareth Steven mulai bereaksi.


sudah sebulan ia tak di gauli membuat Margareth yang biasa melakukanya membutuhkannya.


"Turunkan aku disana.."


"Tapi nyonya...."


"Dengar....


jangan katakan apapun psa steven.


aku perlu membeli.beberapa barang, jika ketahuan kamu mengadu, ku bunuh kau" ancam Margareth membuat si sekertaris bergidik ngeri.


diantara semua kekasih Steven, Margareth paling menyeramkan.

__ADS_1


sekertaris sebelum dirinya bahkan sampai masuk rumah sakit karena ulah Margareth.


Ia baru saja bekerja seminggu di kantor itu, ia tak mau bernasib sama dengan seniornya.


"Ba..


baik nyonya" ucap sekertaris tergagap.


"Bagus, anak pintar.


ini untukmu" ucap Margareth menyodorkan sejumlah uang


"Tidak..


tidak perlu nyonya"


"Ambillah, gadis miskin sepertimu pasti butuh banyak uang bukan??" ucap Margareth melempar uang tersebut dan melenggang pergi.


Si sekertaris masih berada di tempatnya.


ia mengira Margareth akan berbelok ke arah mal, namun wanita itu malah melewatinya dan berjalan menuju sebuah apartemen yang letaknya disebelah mall.


"Aneh" ucap sis ekertarus menggelengkan kepalanya lalu pergi dari tempat tersebut.


Setelah Margareth pergi, Steven segera menghubungi Davira, namun hasilnya nihil.


ponsel Davira tak aktif


Steven lalu memutuskan menyusul Davira, ia mengendarai mobilnya sambil melihat kalau-kalau Davira berjalan namun tak ada.


Hingga akhirnya ia sampai di apartemen.


Cynthia yang melihat kedatangan Steven heran.


ia mencari keberadaan Davira namun Steven sendirian


"Loh nak, mama meminta Vira mengantarkan makannsiang untukmu, Apa dia belum sampai di kantor???


padahal sudah jalan sejak tadi, kemana anak nakal ini?" gumam Cynthia


"Mungkin sekarang sedang di kantor ma.


aku pulang karena ingin mengambil sesuatu yang penting, sebentar ya ma" ucap Steven berbohong, ia lalu masuk ke dalam kamarnya.


pura-pura mencari sesuatu.


beberapa menit kemudian ia keluar dengan flash di k musik di tangannya


"Ma, maaf Steven belum bisa pulang beberapa hari ini.


Steven harus mengontrol beberapa hotel di luar kota.jika urusan Steven sudah selesai, Steven pasti pulang.


mama dan Davira jaga kesehatan ya"


"Iya nak, mama hanya pesan padamu baik-baik jaga diri, jangan lupa makan"


"Beres mamaku sayang.


mba dara tolong jaga mama ya.


ma aku pamit" ucap Steven mencium punggung tangan Cynthia sebelum pergi


Cynthia mengantar Steven sampai pintu depan, ia berdoa untuk keselamatan Steven di manapun dia berada.


"Pak Steven calon menantu idaman ya Bu"


"Iya, dia anak baik"


"Jodohkan saja sama mba Vira, mereka cocok.


satu tampan, satu cantik"


"Maunya mba, tapi ya mba lihat sendiri, putri saya itu manja dan suka seenaknya sendiri.


dan mereka selalu berdebat jika bertemu"ucap Cynthia


tak yakin


"Ih ibu kaya enggak pernah muda aja.


benci itu awal cinta" ucap dara perawat Cynthia

__ADS_1


"Mba Dara bisa aja....


__ADS_2