
Biar lah nak, sekali-kali anak itu harus di kerasi juga, kalau gak gitu kapan lagi, umur kan siapa tahu. Mama hanya khawatir dia enggak menemukan pria yang cocok saat mama sudah pergi nanti” ucap Cynthia sedih
"Ma, please jangan berkata seperti itu.
Mama akan terus sehat dan melihat anak-anak mama bahagia, menikah dan memiliki anak.
Mama harus optimis karena sehat itu dari dalam diri juga. pikiran mama harus di bebaskan agar kerja otak tidak berat”
"Kamu benar nak, makasih sudah mengingatkan mama ya” ucap Cynthia menggenggam tangan Steven
"pokoknya mama harus optimisme dalam hidup, tuhan benci orang yang pesimis, menyerah sebelum berjuang.
Aku akan selalu mendoakan mama yang terbaik"
mata Cynthia berkaca-kaca, sekian lama ia memendam semua sendiri, berusaha tegar di depan putrinya, kini ia luluh juga.
Perkataan Steven membuatnya terenyuh, ia memeluk Andrew sambil menangis.
kini ia menemukan tempat bersandar yang telah lama hilang sejak suaminya meninggal.
Ia seolah menemukan anak lelakinya yang tak pernah ia miliki, Sinta sangat bersyukur bisa bertemu Steven di kehidupan ini.
"Terima kasih nak kamu hadir dalam hidup mama, terima kasih sudah menganggap wanita tua ini seperti mamamu" ucap Cynthia lirih sambil mengelus puncak kepala Steve, membuat Steven hanyut dan menitikkan air mata haru
Davira yang sedari tadi hanya memperhatikan dari kejauhan ikut menitikkan air matanya, ada sedikit rasa lega di hatinya, dan entah mengapa ia merasa demikian padahal Steve sudah mengambil keuntungan dari dirinya, tanpa mamanya ketahui jika perbuatan Steven dengan pamrih mengganti pengobatan mamanya dengan tubuhnya.
Davira menyediakan nasi goreng spesial untuk steven, mamanya serta suster Dara yang merawat mama nya, mereka menikmati sarapan pagi mereka dengan senyuman mengembang
Setelah selesai sarapan, Steven mengantar Davira dan mama cynthia untuk menjalani terapi, ini merupakan terapi minyak terakhir Cynthia di negara ini.
Davira dana Steven tengah menunggui Cynthia di luar ruangan, hening diantara mereka, baik Steven maupun Davira tak mengeluarkan suara, mereka hanya menatap cynthia dati balik kaca
"Itu, anu, wanita itu hanya sekretaris ku" ucap Andrew membuka percakapan.
Davira a hanya melirik sebentar ke arah Steven lalu kembali menatap mamanya
"Mengapa dia diam saja? apa dia beneran marah padaku? " tanya Steven dalam hati sambil menatap Davira yang diam dengan ekspresi datar
"Kenapa juga dia harus memberitahuku, huh. aku tahu dia bohong, tapi kenapa hati ini rasanya kesal sekali??? Ada apa denganku, apa aku sudah tak waras??? " desah Davira dalam hati
"Ehem, apa kamu marah padaku? aku berkata sesungguhnya, aku tidak bohong" tanya Steven yang mulai gerah karena tak di gubris Davira
Davira menoleh menatap Steven , hanya sesaat dan kembali menatap mamanya
__ADS_1
"Mas tidak perlu memberitahuku, aku tidak punya hak untuk tahu urusan mas, jadi mas tidak harus menjelaskannya padaku"ucap Davira dengan suara acuh tak acuh
"Kenapa gue jadi kaya kekasih yang merajuk karena mendapati kekasihnya selingkuh, sial, apa nanti yang pria mesum itu pikirkan tentangku?? " gerutu Davira mengutuk kebodohannya.
ia menyesali ucapannya sendiri
"Maaf, aku tahu aku salah, tapi aku berkata sebenarnya, wanita itu bukan Siapa-siapa ku" ucap Steven
"Mas aku tak perduli dengan urusan pribadimu" dengus Davira kesal
"Tapi dari nada suaramu aku tahu kamu kesal? apa kamu sedang cemburu? "tanya Steven menggeser duduknya mendekati Davira membuat Davira mau tak mau mundur menjauh hingga tubuhnya menepi di tembok, ia terpojok.
Steven menyeringai, menampilkan senyum jahatnya, lalu mengunci tubuh Davira di depannya, dengan ganas ******* bibir davira
Davira terkejut bukan main, terlebih mereka bisa saja keliatan oleh Cynthia atau pengunjung rumah sakit.
Davira sekuat tenaga mendorong Steven.
ia berusaha mendorong Steven menjauh takut jika ada yang melihat, namun kekuatannya kalah besar dari Steven sehingga ia hanya diam dan lama-lama menikmati ciuman Steven yang menuntut, menjelajah rongga mulutnya, mengabsen mulut Davira
mereka berdua larut dalam hasrat mereka, lupa jika mereka kini di rumah sakit.
Beruntungnya sangat jarang orang ke ruangan tersebut karena letaknya yang disudut, sehingga tak ada orang yang berlalu lalang.
Seorang wanita dengan perut yang membuncit memanggil Steven dengan marah, matanya seakan ingin keluar dengan pandangan membunuh mendekati mereka
Steven nampak sangat terkejut, ia melirik sekilas ke arah Davira a, begitu juga Davira seakan meminta penjelasan.
"Dasar ****** sialan" maki wanita tadi setelah ia dekat.
"PLAAAAAKKKK"
belum selesai keterkejutannya, sebuah tamparan keras mendarat di wajah cantik Davira hingga meninggalkan tanda merah di kulit Davira yang putih bersih , membuat ia sedikit terhuyung ke belakang dan memegangi pipinya yang terasa sakit dan panas akibat tamparan tangan wanita hamil itu
Davira yang tak siap hanya bisa meringis menahan sakit, terlihat kilatan marah di mata Steven karena wanita ini menampar Davira
wanita itu hendak menjambak Davira namun Steven menangkap tangannya dan menguncinya ke belakang tubuhnya
"Mas lepasin
aku mau beri pelajaran pada wanita sialan itu."
"cukuuupppp"teriak Steven marah, ia mencekal tangan Margaret dengan kencang, khawatir wanita liar itu akan menyakiti Davira lagi.
__ADS_1
saat ini ingin sekali Steven mencekik leher Margareth karena menyakiti Davira.
namun Steven berusaha sabar, demi membongkar kedok wanita itu.
"Dasar wanita rendahan, pelakor.
Gak bisa ya cari laki-laki yang masih sendiri, dia itu calon suami gue, ayah dari anak yang gue kandung.
cih dasar perempuan kampung" ucap Margareth mencemooh Davira
Mendengar ucapan wanita itu, tubuh Davira bergetar karena terkejut.
wanita itu sedang mengandung anak Steve????, jadi alasan Steven tak pulang karena wanita ini?
Dan kini ia malah asik membalas ciuman Steven . betapa menjijikkannya dirinya.
Air mata Davira menetes, bukan karena sakit di pipinya, namun hatinya hancur.
beberapa saat lalu ia berharap pada Steven namun itu sebuah kebodohan.
Sejak awal ia tahu jika hubungan diantara dirinya dan Steven hanya hutang piutang, tak lebih.
Davira merasa begitu bodohnya menaruh hati pada pria itu, pria yang sudah merenggut keperawanannya hanya demi membayar hutang pengobatan mama nya
"Lepas mas, lepaskan. Aku harus memberi pelajaran pada wanita murahan itu" teriak Margareth marah
"Cukup, jangan menguji kesabaran ku Margareth, aku tak akan mentolerir untuk kedua kalinya jika kamu menjatuhkan tangan pada dia" ucap Steven dingin
"Owh jadi kamu lebih memilih wanita itu di bandingkan aku yang sedang hamil anakmu?, jahat kamu mas" ucap Margareth
suara teriakan margareth membuat beberapa orang yang tak sengaja lewat memperhatikan mereka.
"Plaaaakkk" sebuah tamparan mendarat di wajah Steven
Dengan marah sekaligus malu Davira menampar Steven sebelum ia pergi, ia benci pada dirinya sendiri yang terlalu bodoh membiarkan rasa itu tumbuh dan berkembang, harusnya ia membunuh rasa itu pada saat datang.
Kini Davira tak tahu apa yang harus dia lakukan. menjadi tontonan orang dan bagaimana ia dapat melihat mamanya lagi?
Davira sangat membenci Steven.
jelas-jelas ia akan menikah namun malah mendorongnya jatuh lagi dan lagi.
Davira berlari keluar rumah sakit, berjalan tak tentu arah dengan air mata yang terus mengalir. Davira tak perduli bagaimana orang melihatnya saat ini, ia hanya ingin pergi sejauh nya dari Steven
__ADS_1
Davira membenci pria itu, ia juga membenci dirinya sendiri yang terlalu lemah dan bodoh