
Margareth di bawa ke rumah alit dan segera menjalani operasi. Baru beberapa bulan tulangnya patah, kini ia harus mengalami patah tulang lagi, bahkan mungkin kini ia akan cacat permanen.
Steven meminta dokter melakukan yang terbaik untuk Margareth bukan karena ia perduli, namun demi kemanusiaan. Steven berfikir hukuman Margareth akan ringan jika ia mati, lebih baik ia merasakan betapa menderitanya orang-orang yang pernah ia sakiti.
Steven kembali ke pengadilan, putusan peradilan akan di bacakan.
Semua orang harap-harap cemas menantikan keputusan hakim.
"Setelah menimbang, melihat bukti-bukti dan kesaksian di lapangan, pengadilan memutuskan saudari Davira Ayaka Aarav tidak bersalah, dan nama baiknya akan di pulihkan. Sementara saudari Margareth akan dihukum dengan hukuman dua puluh lima tahun, dendam seratus"
Tiga ketukan palu menandakan putusan jatuh
Davira sampai menangis, bersujud, ia sungguh merasa lega dan bahagia.
Penderitanya selama ini berakhir sudah.
Cynthia menghampiri putrinya, mereka berpelukan erat
"Mamaa....."
"Alhamdulillah kau bebas nak, sekarang kau bebas" ucap Cynthia tak mampu berkata apa-apa
"Papa...."
"Papa senang akhirnya menantu papa terbukti tak bersalah" ucap Alex ikut menangis.
Davira memeluk mertuanya itu penuh syukur
"Terima kasih pa, terima kasih bantuan papa"
"Papa Hany membantu sedikit, suamimu yang bekerja keras mencari bukti" ucap Alex melimpahkan pada putranya
"Mas...." Davira kini memeluk Steven.
Steven hanya menangis seperti anak kecil, sungguh tidak seperti steven yang biasanya.
"Jangan menangis mas, aku sudah bebas, terima kasih selalu ada untukku" ucap Davira memeluk Steven.
sementara pria itu menangis sesenggukan
__ADS_1
"Astaga cengeng sekali, ayo kita pergi, biarkan pria cengeng ini berdua dengan istrinya" cibir Alex membuat Cynthia tertawa. Begitu pula Jhon.
Ia tak pernah melihat adiknya menangis, mungkin inilah yang di namakan cinta, bisa merubah siapapun.
yang jelas telrijats sekali Steven sangat bahagia
"Mas kau memalukan , lihat orang-orang melihat pada kita"ucap Davira malu
"Aku bahagia karena akhirnya aku tidur tak sendiri lagi"
"Maasss....." Davira memukul suaminya, ia berharap kata-kata yang keluar dari mulut suaminya bukan itu, namun bukan Steven namanya jika tak nyeleneh
"Ayo sayang kita pulang"
"Tapi mas...." Davira menatap baju nya, ia harus kembali ke sel tahanan, mengganti pakaiannya sambil menunggu proses pembebasan nya
"Aku rindu padamu"
"Aku juga rindu padamu" ucap Vira tak malu-malu, Sebab ia memang merindukan Steven.
"Aaarrrgghhh mas turunin aku" teriak Davira yang di bopong Steven.
"Ruben urus semua"
"Om lihat anakmu seperti harimau lapar" cibir Ruben kesal selalu kena getahnya
"Hahahaha, kau juga harus segera menikah, agar kau tahu rasanya menikah anak muda"
"Huh" Ruben hanya menghela nafas kesal"
Seminggu kemudian
Steven dan Davira mengadakan acara syukuran di kediaman mereka, Alex, Cynthia, Jhon bersama istri serta anaknya juga hadir.
tak ketinggalan Ruben .
mereka sangat bersyukur akhirnya semua musibah bisa terlewati.
"Terima kasih atas kehadiran papa, mama, kakak dan juga keponakan cantikku.
__ADS_1
Aku ingin mengumumkan bahwa, anak dalam kandungan Davira adalah laki-laki " ucap Steven bangga, Davira hanya tersenyum lebar.
"Papa sudah tahu, ya kan besan" ucap Alex membuat Steven kesal
"Itukan waktu itu papa hanya menebak, ini yang realnya."
"Sama aja kan besan" ucap Alex membuat Steven makin kesal, Davira sampai mencubit pinggang suaminya
"Kamu ornagtua memiliki insting, walau kadang juga enggak akurat. Tapi melihat bentuk perut Davira mama dan besan sudah yakin itu laki-laki.
Mau laki-y mau perempuan sama saja.
yang terpenting sehat lahir batin" ucap Cynthia menengahi
"Benar kata mama mas, yang terpenting sehat lahir batin"
semua orang lalu tertawa melihat surprise Steven tidak berjalan mulus.
Di tengah kebahagiaan mereka ruben menerima kabar dari rumah sakit
"Siapa???"
"Margareth meninggal" ucap Ruben
"Bukanya operasinya berhasil dan dia sedang dalam pemulihan????" tanya Steven penasaran
"Dia mencoba kabur, tapi dia terjatuh dan menabrak trolly peralatan, sebuah pisau bedah menatap tepat di jantungnya"
"Innalilahi wa Inna illahi rojiun" ucap semua orang.
mereka berdoa semoga Margareth diampuni segala dosa-dosanya,
setelah itu acara di lanjutkan, mereka kembali bergembira, Tak ada kesedihan, tak ada kehilangan terlihat.
Orang baik jika meninggal maka namanya akan selalu di kenang, namun jika orang jahat yang meninggal, maka tidak akan ada yang akan mengingatnya.
Hidup itu pilihan, kita mau baik atau mau jahat, kita yang menentukan!!!!!
Tamat
__ADS_1