
Steve duduk di tepi ranjang, memandang Davira wajah davira yang bengkak serta matanya yang sembab yang sembab karena mungkin menangis terlalu lama, ia melihat tanda merah di pipi mulus Davira membuat darahnya mendidih, ia harus secepatnya menyingkirkan Margaretha selamanya karena jika sampai ia melahirkan, papa nya akan berfikir jika itu benar anaknya dan urusannya bisa lebih runyam.
Steven membelai lembut pipi Davira a, mengelus rambutnya lalu mengecup kening Davira penuh perasaan.
Entah mengapa melihat kucing liarnya disakiti, ia merasakan sakit juga. dan ia bertekad Margaretha harus mendapat balasan yang setimpal bahkan lebih pedih.
Steven lalu menelpon asistennya, meminta laporan perkembangan terbaru Margareth
Setelah berbicara sebentar lalu Steven mengakhiri panggilannya, ia menuju ruang kerjanya membuka email yang di kirim oleh asistennya, ia menyeringai jahat, sepertinya email yang di kirim oleh asistennya membuatnya puas.
Steven kembali masuk ke dalam kamar, ia mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya, lalu naik ke atas kasur, berbaring di samping Davira yang tertidur pulas.
Davira terdengar mengigau, ia menangis dalam tidurnya ,membuat Andrew merasa bersalah padanya, ia meraih Davira menariknya dalam pelukannya, mengecup puncak kepala Davira.
"Maafkan aku, maafkan aku membuatmu terluka" ucap Steven lirih, seolah mendengar tanpa sadar Davira membalas memeluk Steven, mereka tertidur sambil berpelukan
Keesokan harinya
"Hmm nyaman sekali" gumam Davira makin mendekatkan kepalanya ke ada bidang steven sementara pria itu masih pulas tertidur
"Kok aku mencium bau parfum laki-laki mesum itu?? ah cuma perasaanku saja , mungkin otakku sudah gila karena kesal dengan kejadian siang itu" gumam Davira masih terpejam, namun tangannya memegang sesuatu yang keras, alis nya berkerut, gak mungkin kan bantal guling dia seperti ini, pikirnya
Davira perlahan membuka matanya, betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di depannya, dada bidang seseorang terpampang di depannya
Davira perlahan menjauhkan badannya, jantungnya langsung deg deg an, ia langsung melompat menjauh
davira melihat Steven yang masih tertidur, bagaimana pria ini bisa sampai diatas ranjangnya???
seingatnya ia semalam tidur sendirian.
Davira memeriksa bajunya dan bernafas lega, semua kancing baju tidurnya masih utuh, artinya pria ini tidka melakukan hal yang mesum padanya
Pantas saja semalam ia seperti di peluk seseorang saat tidur, rupanya itu bukan mimpi, tapi memang kenyataannya.
Davira sudah mengepalkan tangannya ingin menonjok wajah Steven , namun ia urungkan, wajah Steven saat tidur sangat damai, membuatnya tak tega untuk menganiaya pria yang membuat ia sakit hati ini.
Tiba-tiba tangan Davira di tarik, rupanya Steven sudah terbangun.
Davira terus meronta, namun Steven makin mengeratkan pelukannya, hingga Davira lelah, pasrah dan terus mengomel
"Diam lah kucing liar ku, aku masih mengantuk, sebentar saja, please" ucap Steven dengan suara serak khas orang bangun tidur
Davira melotot tak percaya, psikopat ini menganggapnya hanya kucing liar, dia manusia!!!!
__ADS_1
karena kesal Davira menyikut perut Steven hingga pria itu kesakitan dan melepaskan pelukannya
"Tidakkah kamu bisa sedikit lembut padaku sayang???" ucap Steven meringis kesakitan
" Sayang-sayang kepalamu bau menyan.
Ngapain kamu ada di kamarku?" tanya Davira sewot
"come on baby ini kamar kita" ucap Steve tersenyum mengejek
"Dalam mimpimu, cepat keluar dari kamarku" ucap Davira marah
"Aku masih mengantuk" ucap Steven merajuk
"Jangan sok manja, aku bukan kekasihmu, jangan sok akrab denganku” cibir Davira
"Aku bisa menjelaskan, Karena itulah aku kesini" ucap Steven langsung duduk
"Aku tidak perlu penjelasan apapun darimu, simpan saja penjelasan untuk dirimu sendiri, sekarang aku mohon kamu keluar atau.." ucap Davira tegas.
ia tak mau goyah.
selama ini Steven hanya menganggapnya Pat pembayaran atas hutang-hutang yang ia miliki.
"Atau apa?? apa yang mau kamu lakukan???" tanya Steven tersenyum penuh kemenangan
"Mau teriak?? mau memukulku???, bagaimana kalau mama Cyntia mendengar kita pagi-pagi satu ranjang, apa menurutmu mama Cyntia akan senang?
paling beliau akan memintaku menikahimu,
bagaimana ???
tidak buruk kan menjadi nyonya Smith????"
"Kau gila"
Davira mengepalkan tangannya, ia memang tak bisa melakukan apapun, benar yang Steven katakan, ia tak mungkin berteriak atau memukul steven.
ia takut Steven bertingkah konyol dan malah justru pria stress itu yang akan berteriak seolah dianiaya, dan mamanya akan penasaran mengapa ada Steven di kamarnya dan bisa saja apa yang di katakan Steven kejadian...
tidaaakkkk......
Tidak, Davira masih terlalu sehat untuk melakukan hal gila itu
__ADS_1
"Dasar gila" umpat Davira ingin turun dari kasur, namun Steven dengan cekatan menarik tangannya hingga tubuh Davira jatuh kebelakang, kepalanya berada di pangkuan Steven
"Owh bilang jika kamu ingin aku manja, apa perlu se galak itu” goda Steven namun Davira berusaha mencakar wajah menyebalkan Steven , hingga pria itu berusaha menangkap pergelangan tangan Davira , menguncinya ke samping
"Lepasin" geramnya kesal
"Melepaskan mu???? mimpi, kalau aku lepas kamu akan mencakar ku seperti yang biasa kucing liar lakukan untuk melawan" ucap Steven tersenyum lebar
"Dasar Psikopat gila" umpat Davira
"Tapi kamu suka kan???" goda Steven
Kedua pipi Arabella bersemu merah karena malu
"Anda punya kepercayaan terlalu tinggi tuan Smith”
"Tentu saja, jika tidak bagaiman aku bisa punya usaha besar tanpa kepercayaan dalam membangunnya?? kepercayaan itu penting!!!"
"Tapi kau hiper dan itu menjijikan" cibir Davira
"Benarkah????" ucap Steve makin mendekatkan wajahnya ke wajah Arabella membuat Davira panik
"Mau apa kamu??? menjauh dariku" teriak davira tertahan.
ia bisa merasakan hembusan nafas Steven menerpa wajahnya.
Pria itu menatapnya lekat, tatapan yang Davira tak pernah lihat,
"Aku merindukanmu" ucap Steven lalu langsung ******* bibir davira sangat lembut, hingga membuat Davira terlena.steven , mendesak mulut Davira untuk terbuka, lama-lama Davira terbuai dalam permainan lidah Steven sehingga ia lupa jika berapa menit lalu ia masih memaku pria yang sedang bersilat lidah dengannya, ciuman mereka makin panas, kesadaran Davira kembali, ia kemudian mengigit bibir Steven membuat pria itu langsung menghentikan ciumannya
Bibirnya berdarah. Steven terlihat marah, ia menyeka bibirnya yang berdarah dengan tangannya
"Benar-benar liar" ucapnya
Davira langsung berdiri membebaskan diri, ia mundur beberapa langkah menjaga jarak dengan Steven
"Aku tidak suka dipaksa" ucap steven pelan
"Tapi aku lihat kamu menikmatinya, tidak terlihat sedang terpaksa" ucap Steven tersenyum mengejek
"Itu karena kamu memaksa dan aku hilang kesadaran , Khilaf. menyebalkan” ucap Davira menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan menuju kamar mandi, ia lalu mengambil wudhu dan sholat,Arabella tak memperdulikan Steven yang memperhatikan setiap gerak geriknya, hingga selesai sholat Davira membuka mukenanya, menggulung kembali sajadahnya dan meletakkannya di dalam lemari kecil di samping tempat tidurnya
"Apa itu namanya Sholat???" tanya steven membuka pembicaraan
__ADS_1