
”Maaf Tante, ini mulut bukan tempat sampah, apa begitu caramu menyuapi pria tampan sepertiku???
Apa kamu dendam padaku, hingga kamu menyiksa orang sakit” ucap Steven cemberut
"Makan saja bawel banget sih" Dengus Davira
"Jika Kau jadi suster, banyak pasien yang mati karena kesal
"Dan aku bukan suster. cepat makan" ucap Davira menyodokkan bubur satu sendok kunjung hingga tinggal sedikit lagi habis.
Davira kesal tapi juga senang karena bisa menyiksa Steven.
Kau lapar apa rakus"
"Keduanya, puas??"
"Hmmm, cepat habiskan makan mu lalu minum obatmu.
kau membuatku lelah "
"Vira, kamu bener-bener keterlaluan ya??? Nak Steven kan sakit karena kamu.
Bisa gak sih kamu lembut sedikit pada nak Steven kasian dia” ucap Cynthia yang entah sejak kapan sudah berada di samping Davira menjewer kuping putrinya gemas
"Ma,,mama" ucap Davira terkejut
”Mama heran deh sama kamu, kamu itu wanita tapi ga ada manis-manisnya, siapa yang mau menikahi kamu kalau kamu kasar seperti itu?” cerocos Cyntia
"Ma, ini gak seperti yang mama lihat” bela Davira sambil meringis memegangi kupingnya yang panas karena jeweran mamanya
"Sudah sana ke dapur masak buat makan malam kita, sekalian buatkan nak Steven bubur juga"ucap Cynthia mengambil alih mangkuk di tangan Vira
Davira hanya bisa mengalah, ia melihat Steven tersenyum lebar menertawakannya, sungguh membuat Davira kesal bukan main.
Ia sudah kena jebakan Steven.
sepetinya Steven tahu mamanya akan masuk ke kamar itu sehingga ia memprovokasi Davira yang akhirnya berujung jeweran kencang Cynthia.
Steven sangat licik!!!
Davira berjanji akan membalas perbuatan Steven.
__ADS_1
Davira hanya bisa menatap mamanya yang begitu penuh kasih sayang menyuapi Steven makan.
senyum penuh kemenangan tersungging di bibir Steven
Davira tak bisa melakukan apapun di depan mamanya, sungguh menyebalkan
"Eh kok malah bengong, cepat sana ke dapur" tegur Cynthia membuat Davira menghentakkan kaki kesal lalu berjalan menuju dapur.
"Biar mama yang siapin kamu, maafin putri mama ya nak, Dia masih saja seperti anak kecil di usianya yang sudah dewasa, entah pria mana yang bisa tahan dengannya” gumam Cynthia
”Bukan salah Vira juga ma, tadi Steven yang usil duluan" ucap Steven kasihan pada Davira
”Mama tahu anak itu, jangan membelanya nak
maafkan karena kami gak tahu nak Steven alergi seafood sampai memberi makan itu.
Nak Steve lain kali beritahu saja apa yang bisa nak Steven makan dan tidak" ucap Cynthia merasa bersalah
"Iya ma, maaf Steven juga salah dan terima kasih” ucap Steven terharu, ia sangat bahagia mendapat kasih sayang dan perhatian dari Mama Cynthia sudah lama ia merindukan hal seperti ini.
Kenangannya semasa kecil dengan mamanya.
Ayo dihabiskan buburnya, setelah itu minum obat” ucap Cynthia lembut
Steven hanya mengangguk, tak terasa air matanya menetes di pipinya.
Cynthia persis sekali dengan sosok almarhum mamanya, lembut, baik hati dan penyayang, juga tegas saat di butuhkan.
”Ma, terima kasih, terima kasih” ucap Steven berulang menundukkan kepalanya karen air mata terus menetes di pipinya tanpa bisa ditahan.
Pria egois dan kuat itu akhirnya menangis juga dan terlihat rapuh.
Cynthia a memeluk Steven menenangkannya sambil menepuk lembut bahunya
Sementara Davira yang awalnya ingin mengejek mengurungkan niatnya, ia awalnya ingin membawakan teh hangat untuk Steven , namun begitu melihat pria yang di kenalnya menyebalkan itu terlihat rapuh, Davira mengurungkan niatnya dan memilih menunggu dia takut Steven akan malu jika ia tahu Davira melihatnya saat ia rapuh seperti sekarang ini.
Davira memilih membalik badannya dan ingin keluar dari kamar itu.
"Mau kemana kamu??" tanya Cynthia yang menyadari keberadaan Davira
"Anu ma...
__ADS_1
itu"
"Anu itu, sini bawa teh hangatnya" Davira hanya mengangguk mendekati Steven yang buru-buru menghapus air matanya
"Nak Steven, minum obatnya dengan Vira ya
jika anak itu berulah lagi, panggil mama biar amma jewer kuping sebelahnya
"iya ma"
ucap Steven menahan. senyum.
Cynthia seger meninggalkan kamar tersebut, kini tinggal Davira dan Steven
"Maaf...." ucap Steven tiba-tiba membuat gerakan tangan Davira terhenti
Steven meminta maaf padanya, pria angkuh dan menyebalkan itu bisa meminta maaf.
"Tidak masalah, lagi pula ini kesalahanku juga.
cepat sembuh, kau sakit begini membuat mama khawatir" ucap Davira menyodorkan segelas air dan juga obat untuk Steven
Davira kembali membantunya tidur.
Sejak tadi Steven memegangi kepalanya terus
"Istirahatlah, kau perlu banyak istirahat"
"Baik, terima kasih"
"Hmm" Steven kembali memejamkan matanya walau ia tak rela, namun sakit kepala yang ia rasakan begitu menyiksa.
Davira masih duduk di sisi ranjang, melihat perlahan Steven tertidur.
Davira menatap lekat wajah tampan steven.
ia jadi teringat kejadian kemarin.
Davira terbayang bagaimana para wanita itu memperlakukannya, ada rasa kesal dan cemburu terselip disana.
Davira buru-buru membuang pikiran itu, ia merasa sudah tak waras jika ia sampai cemburu, ia hanya wanita pemuas nafsu Steven demi membayar Budi pada pria itu
__ADS_1