
Setelah itu Steven segera keluar dan lakukan kendaraannya menuju apartemennya, ia terus melihat jam tangan karena khawatir terlambat.
sebab jarak antara apartemen dan vila nya memakan waktu satu Jam lebih.
beruntung lalu lintas lancar sehingga akhirnya Steven sampai di apartemen lebih cepat dari yang ia duga..
ia segera naik ke lantai sembilan dimana unit apartemennya berada.
Setelah menekan password , pintu terbuka, nampak Davira yang sedang memasak.
Rasanya Steven ingin sekali memeluknya, ia sangat rindu pada wanita itu.
Davira hanya menoleh sekilas lalu kembali sibuk seolah tak melihat kedatangan Steven
Steven berjalan mendekat
ia tersenyum manis dan berusaha ramah dengan Davira, namun Arabella berpura-pura tak melihat, ia lebih memilih sibuk dengan peralatan dapur di tangannya
”Ehem ..Pagi..." Sapa Steven karena Davira pura-pura tak melihatnya
"Pagi nak Steve. , masih pagi sekali sudah rapih. Kapan pulang kerumah? mama gak lihat beberapa hari ini"ucap Cyntia langsung membrondong Steve dengan banyak pertanyaan begitu ia baru keluar dari kamarnya
Andai Steven tahu Cynthia terus aja mengkhawatirkan Steven apa pria itu akan merasa bersalah??????, rasanya tidak.
Cynthia bukan ornagtua kandungnya.
Davira sendiri juga heran mengapa Cynthia begitu perhatian pada Steven yang notabene adalah orang asing yang baru ia kenal.
"Itu ma, Steven sibuk kerja, lembur” ucap steven gelagapan, menggaruk kepalanya tak tak gatal
Steven melirik kearah Davira meminta bantuan namun Davira malah melengos, membuang muka ke arah lain
”Sibuk apa sibuk"ucap Davira menggumam, namun Steven masih dapat mendengar karena jarak nya yang tidak terlalu jauh darinya.
Entah mengapa Steven tidak marah atau kesal, justru itu membuat Steven senang.
apakah Davira sedang cemburu padanya.
"Oawalah kasian kamu nak, lihat tuh sampai kurus dan pucat gitu. Jangan terlalu keras bekerja, kesehatan tetap utama” ucap Cyntia penuh perhatian, membuat Steven sangat bahagia.
Cyntia memang sosok yang Steven kagumi, ia seperti mama bagi Steven , sosok yang halus dan penuh perhatian, seperti mendiang mamanya jika ia masih ada tentu mereka akan sama jika di sandingkan dalam hal perangai.
”Cape lah begadang sama cewe" gumam Davira lagi, kali ini Steven memandang Davira dengan mendelik, ia tak mau mama Cynthia tahu yang sebenarnya
"Cewek???" tanya Cynthia bingung
__ADS_1
"Maksud Davira, sekertaris ku ma, terus beberapa karyawan kamu kebanyakan wanita.
"Oh, mama.kira apa" ucap Cynthia
"Jangan berulah, aku tak ingin mama berfikiran yang tidak-tidak tentangku" ucap Steven lirih memperingati Davira.
”Mama enggak usah khawatir, aku akan selalu ingat perkataan mama.
.bagaimana kondisi mama? Steven gak ketemu beberapa hari aja kangen mama"ucap Steven mencium punggung tangan Cyntia dengan penuh hormat
"Hahaa jagoan mama, paling pinter ngomong.
Mama baik-baik saja, Alhamdulillah nak, semua perlahan keluhan mama berkurang"ucap Cynthia tersenyum lebar
"syukurlah ma, Steve seneng dengarnya”
"Loh, minum untuk nak Steven mana sayang????, kamu tuh gimana sih?
mama udah berulang kali kasih tau kamu, kalau pagi siapkan kopi untuk nak Steven itung-itung belajar.
jika nanti kamu sudah menikah, kamu gak kaget dan tahu tugas dan tanggung jawab kamu sebagai seorang istri."
"Iya ma"
"Iya ma" ucap Davira pasrah.
terlihat Steven melempar senyum padanya, namun Davira buru-buru membuang muka
"Sial jadi kena marah gara-gara cowok gila itu.
baru juga pulang udah kena sial" gerutu Davira memanyunkan bibirnya.
"Maaf ya nak Steven , Davira itu memang keras kepala dan susah di kasih tahu, entah bagaimana nanti suaminya menghadapi dia” keluh Cyntia
”Suaminya paling stres ma"ucap Steven asal, namun Davira mendengar perkataan Steven dan mendelik penuh nafsu membunuh
"Apa nak?" tanya Cynthia karena Steven berbicara pelan
"Paling suaminya sabar ma, gitu maksud ate”ucap Steven berkelit.
Davira makin melotot.
ia tahu jika Steven saat ini sedang mengejeknya.
ingin sekali Davira memasukkan racun atau obat pencahar kedalam minuman Steven biar pria itu kapok.
__ADS_1
namun ia tidak memilikinya.
apa lain kali ia harus siap obat itu?????
Davira memasang wajah masam, ia meletakkan kasar cangkir kopinya hingga kopinya ada yang tumpah
"Astaghfirulla, Viraaaaaa ......!!!!" teriak Cynthia kesal pada putrinya
"Maaf ma" ucap Davira kembali bisa menguasai dirinya
Dengan gemas Cyntia menjewer kuping putrinya, Davira menjerit tertahan. ia meringis menahan sakit dan gengsi di jewer oleh mamanya di depan Steven, rivalnya.
nampak pria itu juga terkejut, namun sedetik kemudian senyum licik terpasang di wajahnya.
"Ma, kasian Vira"
"Biar nak, biar anak nakal ini tahu" ucap Cynthia gemas
"Ma ampun, lepasin.
Vira ngaku salah"ucap Davira dengan wajah memerah menahan malu dan marah karena Steven tertawa terkekeh tanpa ia sembunyikan terang-terangan di depan Davira
pria itu mengambil ponselnya dan Davira melotot kesal, ia tahu apa yang dilakukan Steven
pria itu mengambil fotonya sedang di jewer!!!
"Jangan macam-macam kamu ya!!!" teriak Davira membuat Cynthia makin kesal memukul bokong putrinya
"Kamu sudah tahu salah malah membentak Steve"
Mama pusing ya sama kamu Vira.
Kapan kamu dewasa sih? apa masih ada laki-laki yang mau sama kamu yang begitu” ucap Cynthia setelah melepas jeweran di kuping anaknya.
Davira mundur menghindari mamanya sambil mengelus kupingnya yang berasa panas
" Ada kok ma, laki-lakinya lagi khilaf hahaha” tawa Steven membuat bola mata Davira melotot besar seolah mau keluar karena kesal.
ia ingin sekali menjitak kepala Steven sampai benjol-benjol.
" Nah bisa jadi nak" ucap Cynthia malah menimpali membuat Davira makin sebal dan menghentakkan kaki meninggalkan mereka berdua.
sementara Cyntia dan Steven tertawa puas.
”Tuh kan ma, dia ngambek" ucap Steven melihat kepergian Arabella
__ADS_1